27 Juli 1996

Apa yang harus diingat dalam peristiwa 27 Juli 1996? Banyak sekali, dari penyerbuan pendukung Soerjadi hingga aktivis PRD diadili. Tapi ada satu hal yang sering dilupakan: Peristiwa 27 Juli yang merupakan tonggak munculnya perlawanan rakyat telah mengafirmasi kebenaran teori gerakan tentang kondisi obyektif dan faktor subyektif.

Kondisi obyektif adalah keresahan yang meluas baik secara ekonomi maupun politik terhadap kediktatoran Soeharto. Faktor subyektif – yang berfungsi merespon dan membimbing situasi obyektif – adalah wadah, simbol, elemen utama (basis sosial) dan momentum. 

27 Juli 1996 adalah hasil akumulasi perlawanan politik rakyat sejak kemunculan gerakan perlawanan rakyat yang dipelopori mahasiswa diakhir  1980-an. Isu utama yang diperjuangkan gerakan mahasiswa (GM) 1990-an ialah meyakinkan rakyat bahwa situasi ekonomi politik sudah parah. Dengan isu itu GM mendorong rakyat melawan rezim.

GM 1990-an juga mengintrodusir pembentukan faktor-faktor subyektif gerakan. Setelah partai dan ormas menjadi korporasi negara Orde Baru, mahasiswa mendirikan wadah-wadah perlawanan, seperti komite, front, aliansi, dan lain-lain.

Berbagai wadah itu menghasilkan aksi-aksi politik yang kemudian bertemu ditingkat nasional lewat OPSI, KIPP dan MARI. MARI inilah yang kemudian menjadi wadah ekstraparlementer yang bertemu dengan elemen progresif hasil politisi di tubuh PDI.

Bentrok Gambir dan panggung mimbar bebas di kantor DPP PDI Diponegoro adalah tahap-tahap politik yang menentukan dalam proses bertemunya kekuatan politik ekstra dan intra parlementer.

Sayangnya wadah itu masih terlalu ringkih, sehingga gagal menguasai lapangan di saat muncul provokasi dikomandoi oleh rezim Soeharto.

27 Juli 1996 dan Wadah Mega Bintang

Bagaimana dengan simbol? Sepanjang 1990-an simbol politik berganti dengan cepat. Sebelum peristiwa 27 Juli 1996 yang melahirkan Megawati, terlebih  dulu muncul Simbol Gus Dur, Ali Sadikin, Sri Bintang, Muchtar Pakpahan dan lain-lain.

Pemilihan simbol ini bukan sekedar tokoh-tokoh itu berkharisma atau mendapat titisan dari orang tuanya, tetapi lebih disebabkan oleh gagasan dan wadah yang dipimpinnya.

Sampai peristiwa 27 Juli 1996, wadah dan simbol belum bertemu dengan momentum yang tepat. Selalu saja pecahnya momentum terjadinya di luar dugaan. Ini menunjukkan wadah yang terbentuk masih belum sejati.

Baca Juga: Selamatkan Mereka Pak Wiranto

Sampai 27 Juli hasil maksimal yang diperoleh adalah: momentum-momentum yang mendadak berhasil membentuk wadah perlawanan baru, FKK 124, MBR, KPM, dan lain-lain.

Pasca 27 Juli muncul resistensi di mana-mana yang berbentuk kerusuhan bernuansa SARA. Persoalan SARA muncul karena pendidikan politik rakyat sangat minim sehingga tidak memiliki referensi yang tepat dalam mengekspresikan ketidakpuasan.

Dari peristiwa 27 Juli 1996 sampai munculnya kerusuhan-kerusuhan terlihat elemen yang paling menentukan dalam perlawanan rakyat, yaitu kaum miskin perkotaan.

27 Juli 1996
Andi Arief, Aktivis Pro Demokrasi

Kesimpulan tentang basis sosial kaum miskin perkotaan ini semakin terbukti dalam momentum perlawanan di sekitar kampanye pemilu dalam wadah Mega Bintang (MB).

MB adalah wadah baru atas inisitaif rakyat, bukan hasil dari pimpinan PPP atau Megawati.

MBR  adalah momentum yang meruntuhkan teori simbol an sich.  Rakyat bergabung sendiri sehingga mampu menyeret massa nonpartisan. Inilah teori, apapun dia siapapun dia wadah yang terbentuk untuk melawan kediktatoran akan mendapatkan dukungan luas dalam momentum yang tepat. Kampanye pemilu adalah momentum yang tepat, karena terukur dan disediakan oleh rezim Soeharto.

Rezim Soeharto berupaya mengantisipasinya dengan tipuan aksi dialogis. Cara ini ditolak massa rakyat. Kesalahannya, wadah itu tidak dapat menghasilkan simbol yang mampu mengarahkan kekuatan untuk menjebol sasaran politik vital untuk menjatuhkan rezim.

Dalam kasus ini membuktikan, bahwa wadah saja belum cukup. Wadah harus menghasilkan simbol yang mampu memimpin secara politik. Andai saja Mudrick Sangidoe memimpin di Jakarta bukan tidak mungkin ia akan menjadi simbol yang mampu mengerahkan massa.

Rupanya 27 Juli 1996 dan MB tidaklah menjadi pelajaran bagi kaum oposisi demokratik ataupun GM. Dialektika wadah, simbol, dan momentum serta basis kelas sosial tidak dimaknai secara serius.

Akibatnya perlawanan rakyat antara Maret-Mei tidak menghasilkan People Power. Selama masa itu wadah-wadah oposisi dan mahasiswa justru baru terbentuk. Meski sangat prural, tapi bertemu dalam satu isu. Turunkan Soeharto dan Reformasi Total.

Wadah oposisi tampak kerepotan karena tidak berbasis massa dan didominasi oleh kelompok tua – yang selalu mengintip kemungkinan aman, sebuah riba politik. Mahasiswa yang konkret dalam hal massa pun tak sudi dengan mereka.

Potensi Rakyat Miskin Kota Dibelokkan

Kelemahan yang mendasar dalam peristiwa Maret-Mei ini adalah tertinggalnya wadah-wadah di sekitar massa rakyat miskin perkotaan. Oposisi dan mahasiswa meninggalkan potensi mereka.

Politisasi yang sedang terbentuk akibat ekspose media massa, sebenarnya mampu menutupi keterlambatan oposisi untuk masuk ke kampung-kampung miskin perkotaan. Hanya saja ketiadaan wadah tetap mempersulit kaum miskin perkotaan untuk ikut dalam menjatuhkan kediktatoran.

 Faktor ini pulalah yang menyebabkan potensi miskin kota dibelokkan dari kesadaran sejati (menjatuhkan kediktatoran) kesadaran palsu (kerusuhan dan penjarahan Anti Cina) oleh provokator pendukung rezim lama.

Baca Juga: Dialog Mayjen TNI Syamsu Djalaludin dengan Keluarga Korban Penculikan

Untungnya ada upaya untuk  menutupi kelemahan, yakni mengkonsentrasikan wadah berkumpul dan poll attraction di Gedung DPR/MPR. Konsentrasi ini cukup tepat.

Pertama, bisa menyatukan pluralism wadah yang sudah dalam satu tuntutan. Kedua, taktik efektif guna melibatkan massa perkotaan untuk bergabung, ketika proses ini berlangsung, Soeharto memberi konsensi dengan mengundurkan diri.

Mengapa disebut konsensi? Soeharto mundur untuk menghindari perlawanan rakyat yang luas: bertemunya oposisi  demokratik, mahasiswa, massa rakyat.

Menjatuhkan Soeharto, Namun Gagap Saat Soeharto Jatuh

Dalam kondisi seperti di atas bagaiman dengan simbol? Diterima atau tidak , Amien Rais adalah simbol yang cukup penting. Kelemahan yang mendasar dari simbol ini adalah ketidakmampuan memberi arahan yang konkret, apa yang harus dilakukan oleh rakyat.

Amien lebih mengelaborasi tentang pentingnya Soeharto jatuh. Bagaimana menjatuhkannya serta bagaimana melakukan pembangunan kembali setelah kediktatoran jatuh, Amien dan tokoh-tokoh oposisi lain tak memberi jalan yang jelas.

Akibatnya mereka gagap saat Soeharto memberi konsensi, dan gagap disaat pemerintahan Habibie melakukan manuver politik untuk menarik simpatik rakyat seperti sekarang ini.


Kami menulis ulang Buah Pemikiran Andi Arief tentang terbentuknya perlawanan elemen mahasiswa, tokoh, dan massa rakyat. Tulisan tersebut dimuat Tabloid Adil pada edisi 29 Juli – 4 Agustus 1998, halaman 10.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here