anak indonesia
Sumber : TEMPO

Anak Indonesia – Berbagai macam anak (atau bekas anak) menuliskan pengalaman masa pertumbuhan: di rumah, di sekolah, di lingkungan kultur masing-masing. Alangkah susahnya anak miskin yang ingin tetap sekolah. Ada pula problem anak-anak nonpri.

Judul: Perjalanan Anak Bangsa.

Penyunting: Aswab Mahasin, Ismed Natsir, Thamrin Hamdan.

Penerbit : LP3ES, 1982, 370 halaman.

Bagaimana anak Indonesia tumbuh? Buku ini mengetengahkan 16 otobiografi dan dua esei, tulisan 18 orang dari berbagai kalangan dan generasi.

Mulanya, ada sayembara Yayasan Masdani dan LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial), pada 1979. Hasilnya 307 karangan masuk- berbentuk otobiografi, esei, reportase. Dewan juri (diketuai Dr. Sudjatmoko) hanya memberi hadiah harapan dan hadiah tambahan untuk 15 karangan  (TEMPO, 3 November 1979).

Tapi yang ditampilkan buku ini bukan karangan para pemenang. Para penyunting itu menyeleksi lagi dari 73 karangan, membuka otobiografi, untuk memenuhi pengglongan yang mereka bikin. Ke-18 tulisan yang terpilih tersebut kemudian dikelompokkan ke dalam lima bagian. Judul-judulnya: ‘Anak Zaman Pergolakan’, ‘Asuhan Dalam Keluarga’, ‘Pendewasaan di Luar Rumah’, ‘Lingkungan Sebuah Subkultur’, dan ‘Anak Golongan Minoritas’.

Baca Juga : Kritik Dono Warkop Pada Kelas Menengah Indonesia 

Betapa pun, tujuan semula tak tercapai sepenuhnya. Sulit ditentukan dalam karangan-karangan itu pengaruh yang jelas dari lingkungan (keluarga, adat, sekolah, dan lingkungan yang lebih luas) pada pertumbuhan anak. Toh meski belum merupakan kesimpulan yang baku, terasa bahwa perkembangan anak-anak Indonesia pertama-tama dipengaruhi keluarga- orangtua, paman-bibi, kakek-nenek, kemudian keluarga lain.

Anak Indonesia
Anak-anak Nonpri berseragam sekolah. Sumber : TEMPO.

Anak Indonesia yang Dicap Keturunan PKI

Itu berarti Indonesia belum seperti negara-negara yang “maju”: rumah masih merupakan kandang utama. Hanya bila kemudian dalam keluarga si anak tidak menemukan ketenteraman untuk berkembang, sekolah merupakan pilihan kedua. Muliawan, misalnya, dalam otobiografinya Dari Kenakalan ke Kedewasaan, antara lain menulis: “ Aku ingin lebih lama tinggal di sekolah, ingin lebih menikmati predikat anak kesayangan bersama guru-guruku.” Mengapa? ‘Aku’ di rumah hanya dijadikan kambing hitam: hadiah yang diterimanya cuma cap ‘anak nakal’. Pada hal ‘aku’ juara kelas. Bagaimana dengan yang di pesantren?

Sayang tulisan Mas Oetara, Aku Anak Pesantren, tidak merasa perlu mengemukakan fungsi pesantren sebagai juga ‘rumah’, di samping ‘sekolah’, seperti yang selama ini dilihat. Tapi yang menarik ada juga anak yang kemudian tak masuk sekolah karena “diganyang” teman-temannya: ayah anak itu ditahan sebagai anggota PKI (Bila Ibunda Membesarkan, oleh Ari Saputro). Toh, berkat kebaikan kepala sekolahnya – yang ternyata sejawat ayah anak itu, dan sekolah tersebut berdiri antara lain karena ayah si anak – ‘aku’ akhirnya memperoleh dunianya di sekolah itu.

Anak Indonesia Berjuang Mendapatkan Pendidikan

Hampir semua tulisan berkisah tentang pentingya sekolah. Karena itu para ‘aku’ dan keluarga mereka mati-matian berjuang agar si anak menyelesaikan pendidikan. Ada anak yang ketika duduk di bangku PGA (Pendidikan Guru Agama) harus putar akal untuk bisa memiliki sendiri buku-buku pelajaran. Ia membujuk teman-temannya mebeli buku bersama-sama, dan ia yang menguruskan.

Dengan cara membeli langsung ke penerbit, dan mendapat korting, si ‘aku’ bisa sukses – tanpa merepotkan orangtua maupun pamannya yang miskin. Juga ketika meneruskan pendidikan ke Universitas Muhammadiyah, untuk menunjang hidupnya ‘aku’ berjualan rokok (Penjual Rokok itu Sekarang Dosen, oleh Siti Sri).

Baca Juga : Esai Fadli Zone Tentang Pengeboman Istiqlal

Bisa disimpulkan, umumnya anak-anak bersekolah karena ingin bisa bekerja. Tidak tercemin adanya kesadaran untuk menjadi manusia berilmu lewat sekolah. Si anak pesantren, lembaga pendidikan yang secara tradisional menolak tujuan apa pun selain ‘menghapus  keodohan’, sayangnya tidak bicara tentang itu. Adakah ini merupakan akibat latar belakang ekonomi yang susah?

Anak Indonesia
Anak-anak Indonesia bekerja. Sumber: TEMPO.

Benar, 18 tulisan itu belum mencerminkan gambaran keseluruhan anak Indonesia. Tapi terasa hal-hal yang selama ini hanya diduga lewat pengamatan, menemukan contoh-contohnya. Umpamanya, betapa susahnya seorang anak harus melanjutkan sekolah tanpa biaya. Atau betapa susahnya seorang anak harus melanjutkan sekolah tanpa biaya. Atau betapa seorang anak keturunan Cina mengalami konflik batin, dan harus menghadapi hal-hal yang sebenarnya tak masuk akal.

‘Tapi dalam soal pacaran, rasanya diriku masih sulit untuk diterima oleh mereka yang non-Tionghoa. Namun untuk berpacaran dengan cewek dari keturunan Tionghoa aku ragu-ragu…” (Wisnu Wardhana, Aku Tak Ingin Sekedar Ganti Nama).

Demikianlah, buku ini telah turut menyumbangkan kearifan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here