Perusahaan Jepang
Bondan Winarno Menulis Esai Berjudul Keunggulan Kuping dan Mata Jepang. Terbit pada 5 April 1986.

Teman saya, pemiliki sebuah restoran, mengeluh panjang lebar. Pemasoknya tidak lagi mengirim cumi-cumi kepadanya. Akibatnya, untuk beberapa lama ia terpaksa mencoret hidangan cumi-cumi pada menunya. Ternyata, penyebabnya adalah dia sendiri.

Pada suatu ketika restorannya ketamuan seorang Jepang yang bisnisnya di bidang perdagangan makanan olehan hasil laut. “Saya butuh cumi-cumi ukuran besar,” kata orang itu. Pemiliki restoran lalu memberikan alamat pemasoknya yang memang bisa memasok cumi-cumi ukuran besar seperti yang dimaksud itu.

“Wah, saya celaka dua kali,” keluh teman saya. “Pertama, karena saya tak mendapat komisi dari transaksi itu. Kedua, transaksi itu begitu besar, sehingga semua cumi-cumi ukuran besar diekspornya. Restoran kami terlalu kecil untuk diperhitungkan lagi oleh pemasok kami itu.”

Ini memang cerita skala kecil. Cerita skala besarnya juga ada. Beberapa tahun yang lalu saya mendengar keluhan panjang seorang eksportir mebel. Mebelnya sulit bersaing di luar negeri. Ekonomi biaya tinggi menjadi salah satu penyebab. Penyebab yang lain adalah desain yang katanya kurang disukai di pasar yang dituju.

Penyebab yang lain adalah karena pembeli di sana mengatakan bahwa bahan baku yang dipakai untuk membuat mebel itu kurang baik. “Lho, mebel yang Anda impor dari Taiwan itu bahannya sama dengan mebel buatan kami,” bantah teman saya. Sama-sama dari hutan Kalimantan, memang. Tetapi, ternyata tak semutu. Aneh, bukan?

Maka teman saya pengusaha mebel itu iseng-iseng pergi ke pangkalan kayu di Singapura. Kayu-kayu itu berasal dari Indonesia. Ia terbelalak. Kayu-kayu di situ memang lebih tinggi mutunya dari stok di pangkalan kayu Jakarta. Padahal, dihasilkan dari hutan yang sama dan bahkan dari pemasok yang sama. Penasaran membawanya lebih jauh lagi, ke Taiwan. Sama saja. Di sana pun kayu Indonesianya lebih baik dari pada kayu Indonesia di Indonesia.

Apa pasal? Ternyata, para pedagang kayu Indonesia memang memilih kayu gergajian yang mutunya paling baik untuk dikirim ke luar negeri. “Padahal di luar negeri itu’ kan cerewat,” kilah mereka. “Kalau dikirim yang kurang bagus, nanti kita kena claim.”

Jadi, pembeli di Indonesia mendapat mutu nomor dua justru karena kurag cerewet dalam menuntut mutu bahan baku yang tinggi? “Jelas, kami dianaktirikan,” kata pengusaha mebel itu. “Belum lagi kalau Anda perhitungkan bahwa ongkos mengangkut kayu dari Kalimantan ke Jakarta itu ternyata lebih mahal dari pada mengangkut kayu dari Kalimantan ke Taiwan.”

Dagang itu kejam, kata orang di pinggir jalan. Dan “kekejaman” itu memang terlebih dirasakan oleh mereka yang terlibat di dalamnya. Teman saya yang punya restoran tadi masih beruntung karena, selain cumi-cumi, masih banyak hidangan lain yang dapat disajikan restorannya. Restorannya tak perlu tutup karena absennya pasokan cumi-cumi.

Tetapi sebuah pabrik besar di Ancol yang berpatungan dengan asing terpaksa menutup pabriknya karena tak bisa memperoleh bahan baku. Pabrik itu mencetak pelat-pelat timah murah di dalam negeri.Tetapi, ketika harga timah naik di pasaran dunia, semua orang menjual timahnya ke luar negeri, sehingga pengusaha dalam negeri yang bergantung pada bahan baku timah menjadi merana.

Di sektor baja pun kini sedang terjadi kisah seperti itu. Harga besi baja menguat di pasaran dunia. Dan ke sana pulalah mengalirnya semua produk besi baja. Jamak, bukan? Komoditi mengalir ke siapa saja yang bisa menawarkan harga lebih baik. Itu tak perlu diatur-atur atau dilarang-larang.

Tetapi, apakah tak ada mekanisme yang sekurang-kurangnya bisa memberi jaminan agar industri dalam negeri tak terperangkap dalam situasi rawan seperti itu? Bila industri dalam negeri masih pula harus ikut-ikutan dalam “lelang” tinggi-tinggian harga, mereka akhirnya sudah kehabisan tenaga yang sebenarnya lebih dulu diperlakukan untuk bersaing di pasar global.

Karena penyebab yang agak berbeda, sebenarnya gejala yang sama tengah terjadi di Indonesia. Beberapa industri di sana mulai melakukan sourcing suku cadangnya dari negara-negara Asia Karena harganya yang lebih murah.

Motorolla, misalnya, membuat papan PC (printed circuit) di Singapura, lalu diuji di Hong Kong, dan dirakit di tempat lain. Produk jadinya di pasarkan di Amerika dan negara-negara lain. “Kalau ini terus dilakukan hanya karena podusen menganggap itu adalah cara yang lebih menguntungkan.” Kata Profesor Maureen Fleming,” maka sebentar lagi di Amerika Serikat tak akan ada industri lagi. Orang harus mencari kerja di sektor lain, atau menjadi gelandangan.”

Akankah kita meriskir akibat yang sama? Industri gulung tikar karena tak mendapat pasokan besi baja yang dibutuhkannya? Mebel kayu kita diberi harga murah karena pengusahanya tak mendapat bahan baku yang berkualitas baik?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here