Diktator Militer Cile
Andre Vltchek,Jurnalis Politik, konflik bersenjata, serta Sutradara.

Diktator Militer Cile – Akhir Agustus 2004, mantan diktator Cile Augusto Pinochet dilucuti kekebalan hukumnya oleh Kejaksaan Agung negerinya. Perbandingan suaranya sangat ketat 9:8, tapi cukup untuk mempertahakan keputusan Pengadilan Tinggi Santiago, 28 Mei lalu, yang melucuti kekebalan hukum atas Pinochet dalam kasus hak-hak asasi manusia dalam “Operation Condor” – kasus pembunuhan dan penghilangan lawan politik secara terkoordinasi selama masa diktator militer yang brutal di beberapa negara di Amerika Latin pada 1970-an dan 1980-an.

Dua negara – Cile dan Argentina – sekarang secara dramatis telah mengubah pendekatan mereka terhadap masa lalunya dengan memutuskan untuk mengadili perwira-perwira militer dan mantan pemimpinnya atas kejahatan mereka terhadap kemanusiaan.

Di masa lalu, kedua negara itu sangatlah menderita. Jaminan amnesti dan kekebalan atas pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan yang dilakukan selama masa diktator bukannya menciptakan iklim rekonsiliasi, melainkan malah memecah belah bangsa mereka.

Dari Kudeta Militer ke Diktator Militer Cile

Kudeta militer di Cile, 11 September 1973, telah menghancurkan salah satu demokrasi yang paling tua dan paling kokoh di dunia. Kudeta itu-sebagian disubsidi dan didanai oleh Pemerintah Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan asing – ditujukan untuk menyingkirkan Presiden Salvador Allende yang beraliran kiri dan dipilih secara bebas dan demokratis. Ia menerapkan perubahan-perubahan sosial dengan tetap mempertahankan proses demokratisasi di negerinya.

Presiden Nixon dan penasehat keamanannya, Henry Kissinger, mengalokasikan dana US$ 8 juta untuk kampanye menggoyang Allende. Kaum elite di Cile yang bersatu dengan militer menyebarkan kebohongan melalui media yang mereka miliki. Mereka juga menghalangi masuknya makanan pokok ke toko-toko di Cile. CIA diberitahu bahwa rencana Washington adalah “agar Allende digulingkan oleh militer Cile yang dilatih oleh Amerika Serikat”.

Pada 11 September 1973, angkatan bersenjata Cile dan kendaraan lapis bajanya mengambil alih kendali di Ibu Kota – Santiago de Chile –dan menyerang istana Kepresidenan La Moneda. Presiden Allende dan para pengawalnya menolak meninggalkan istana dan akhirnya meninggal dalam lautan api yang menghancurkan bangunan istana dan demokrasi.

Pembunuhan massal yang terjadi setelah kudeta itu sangat mengerikan. Yang dibunuh sebanyak 3000-4000 orang, walaupun menurut beberapa sumber, jumlahnya mungkin jauh lebih banyak.

Baca Juga :  Esai Henry Kissinger Tentang Krisis Utang di Amerika Latin

Pada saat itu, kaum oposisi diburu, dibunuh, “hilang”, dan disiksa. Salah satu kasus yang terkenal adalah sewaktu penyanyi terkenal Victor Jarra dipotong kedua tanggannya, kemudian gitarnya dilempar ke kakinya, dengan kata-kata: “sekarang kamu boleh bermain gitar!”

Jutaan laki-laki dan perempuan pergi mengasingkan diri, dan Cile menjadi negara yang menurut Pinochet sendiri: “Negara tempat tidak satu pun daun yang bergerak tanpa sepengetahuan saya”

Perempuan-perempuan diperkosa di pusat-pusat tahanan dan di sebuah koloni yang disebut Colonial Dignidad, yang dijalankan oleh orang Jerman dengan stafnya yang mantan tentara Nazi. Para tahanan dirobek perutnya dan dilemparkan hidup-hidup dari pesawat udara dan helikopter ke laut dan ke gunung-gunung yang masih tertutup salju.

Secara pribadi, Pinochet merencanakan dan mengawasi beberapa operasi besar-besaran, termasuk “Caravan of Death” dan yang sudah disebut terdahulu, “operation Condor”.

Diktator Militer Cile
Foto Diktator Cile Augusto Pinochet.

Diktator Militer Cile & Diktator Militer Indonesia

Seperti juga dalam kasus di Indonesia dalam masa Soeharto, di Cile pun Amerika Serikat dan beberapa negara Barat lainnya menutup mata atas pembunuhan massal tersebut, namun menyambut gembira kampanye privatisasi dan iklim investasi yang menguntungkan untuk perusahaan asing yang dijanjikan rezim-rezim itu. Bahkan Cile berhasil menjadi kesayangan Perdana Menteri Margaret Thatcher yang ultra-konservatif dengan secara terbuka menjadi mata-mata Inggris melawan Argentina dalam masa perang Malvinas (Falkland).

Dari sebuah negara yang miskin namun dengan kesadaran sosial yang tinggi, Cile pasca-1973 menjadi macan di Amerika Latin, tapi juga salah satu negara dengan jurang perbedaan penghasilan paling besar di dunia. Sementara mal dan butik mewah bermunculan di Santiago, 40% penduduknya hidup dibawah garis kemiskinan. Baru setelah jatuhnya, masa diktator 1990, Cile berhasil mengombinasikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan pengurangan kemiskinan, dan berhasil masuk menjadi negara “maju”.

Tidak seperti di Indonesia, di Cile selalu ada kaum oposisi yang kuat melawan diktator, di dalam dan luar negeri. Rezim Pinochet harus menghadapi demonstrasi, sabotase, dan perang saudara kecil-kecilan yang bertubi-tubi, yang kebanyakan dilakukan kelompok gerilya MIR.

Baca Juga : Wawancara Majalah Playboy dengan Ibarruri Putri Alam Aidit

Di saat yang bersamaan, mereka yang dipengasingan selalu meminta dunia internasional untuk secara moral mengisolasi diktator itu dan memberikan data kejahatan yang dilakukan oleh militer untuk membuat opini publik di luar negeri.

Karena ketakutan atas masa depannya, pada 1978 Pinochet mengesahkan hukum yang menghalangi pengadilan anggota “junta” atas penyalahgunaan hak-hak asasi manusia yang mereka lakukan, bahkan kemudian “memperkaya” undang-undang dasarnya dengan memasukkan mekanisme yang diciptakan untuk menjadi kekebalan hukum (impunity) dan kelangsungan pengaruh militer di negaranya.

Mekanisme-mekanisme itulah yang sekarang satu per satu dicabut. Setelah perjuangan politik dan hukum selama bertahun-tahun, kelihatannya sekarang Cile siap menghadapi masa lalunya dengan kejujuran dan penuh martabat.

Diktator Militer
Soeharto, Diktator Militer Indonesia 1966-1998.

Potret Diktator Militer Argentina

Masa diktator Argentina (1976-1983) tidaklah se-“spektakuler” di Cile namun lebih brutal. Argentina kehilangan sekitar 30.000 orang dalam pembunuhan massal dan pemburuan anggota sayap kiri dan kaum oposisi di sana.

Lebih jauh lagi, Jendral Jorge Videla dan klik militernya telah salah mengelola negara ini dan menjadikan Argentina dari salah satu negara yan paling kaya di dunia menjadi negara yang terpuruk secara ekonomi, penuh korupsi, kolusi, dan nepotisme.

“Punto Final” (“Titik Terakhir”) memberikan amnesti untuk kejahatan-kejahatan yang dilakukan selama masa diktator, namun bukan itu yang diinginkan oleh mayoritas penduduk Argentina.

Kejahatan sangatlah sulit dilupakan dan dimaafkan. Salah satu simbol yang sangat kuat dari penolakan atas jaminan kekebalan hukum itu adalah adanya gerakan yang disebut “Mothers of Plaza de Mayo” (“Ibu-ibu di Plaza de Mayo”).

Ibu-ibu tua ini selalu berpakaian hitam dan selama bertahun-tahun berdemonstrasi setiap kamis pukul 15.30 di Plaza de Mayo di Buenos Aries, menuntut ketegasan atas nasib oran-orang yang mereka cintai, terutama anak-anak mereka. Biasanya mereka memakai sapu tangan putih yang mereka ikatkan di kepala bertuliskan nama-nama anak-anak mereka yang hilang, dan membawa foto-foto mereka.

Sudah jelas, publik Cile dan Argentina menuntut lebih banyak dari sekedar kembali ke demokrasi. Kaum intelektual dan seniman di kedua negara itu mengirim pesan-pesan yang sangat kuat, yaitu: tidak akan ada suatu masyarakat yang baik yang didasarkan pada kebohongan. Bangsa ini haruslah mengetahui sejarah bangsanya sendiri dan menghukum mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan di masa lalu. Kata-kata yang diteriakkan selama demonstrasi menjadi terkenal: “Ni perdon, ni olvidi!” _ “Tida dimaafkan, tidak dilupakan!”

Baca Juga : Militer dan Kekerasan Massa

Sementara Cile mengalami pertumbuhan ekonomi, kondisi di Argentina terus memburuk. Pemerintahan dipegang oleh kaum elite yang dibentuk dan diperkuat selama masa diktator. Beban utang luar negeri makin besar, korupsi, dan permainan politik hampir menyamai apa yang terjadi di Indonesia. Akhirya, pada 2001, ekonomi jatuh dan hancur, peso harus didevaluasi dan mayoritas penduduk Argentina turun dari kelas menengah menjadi kaum miskin.

Diktator Militer Argentina
Jorge Rafael Videla, Diktator Militer Argentina.
Tampilnya Presiden Nestor Kirchner & Pengakuan Militer Argentina

Pada April 2003, terpilih Preside Nestor Kirchner yang cenderung beraliran kiri. Dia tidak hanya menjanjikan reformasi ekonomi dan bersikap keras terhadap IMF dan Bank Dunia, melainkan juga atas nama negara memeinta maaf kepada para korban pembunuhan massal yan dilakukan selama masa diktator, dan secara terbuka menyebutnya sebagai “terorisme negara”. Berakhirlah kekebalan hukum yang ada di Argentina.

Di masa mudanya, Presiden Kirchner adalah anggota kaum oposisi. Setelah menjadi presiden, ia segera melakukan tindakan-tindakan yang sangat dibutuhkan oleh negeri ini, yaitu: memangkas kekuasaan militer dan membuka jalan untuk mengadili mereka yang bertanggung jawab atas pelanggaran hak-hak asasi manusia. Sampai sekarang, sudah ratusan (mungin sekitar 400) perwira militer yang dimasukkan ke penjara.

Pendekatan yang diambil pemerintahan sekarang ini disimpulkan oleh wakil menteri luar negeri Argentina, Jorge Taiana, sebagai: “masyarakat Argentina yakin, kekebalan hukum atas kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Militer adalah dasar terjadinya korupsi dan tidak dipatuhinya hukum yang berlaku.”

Sementara itu, para hakim yang mengadili kasus-kasus ini berhasil mengumpulkan banyak bukti atas kejahatan yang terjadi di masa lalu. Beberapa kesaksian datang dari sumber yang tidak disangka-sangka – dari dalam militer sendiri.

Pada 1995, Adolfo Scilingo, seorang perwira menengah Angkatan Laut, tampil di televisi nasional untuk menceritakan keterlibatannya. Dia memberikan bukti-bukti tentang death flights (penerbangan maut), ketika angkatan laut mengangkut tersangka yang sudah dibius ke dalam helikopter-helikopter, dan membuang mereka hidup-hidup ke sunga River Plate yang mengalir melalui Buenos Aires.

Baca Juga : Esai Ki Hajar Dewantara 1957

Secara terbuka, dia menceritakan keterlibatannya dalam dua penerbangan. Sebanyak 30 tahanan dibuang hidup-hudup ke sungai itu. Kesaksian lain datang dari Miguel Angel Cavallo, dan juga kesaksian-kesaksian sesudahnya, termasuk kesaksian mengenai adanya kamar penyiksaan di Naval Mechanical School (Sekolah Teknik Angkatan Laut) di Buenos Airs, yang dikenal dengan nama ESMA.

Hal lain yang juga mengerikan yang terjadi selama masa diktator di  Argentina adalah stolen children (pencurian anak-anak) – bayi-bayi dan anak-anak yang diadopsi oleh keluarga militer yang tidak punya anak setelah orang tua mereka dibunuh atau hilang, topik yang diangkat secara kuat dalam film Official Story.

Sekarang ini, beberapa negara asing sudah meminta ekstradisi anggota militer yang bertanggung jawab atas pembunuhan warga mereka selama masa diktator, antara lain Swiss, Spanyol, dan Prancis.

Baik di Cile maupun di Argentina, diktator militer menciptakan masyarakat yang sangat brutal dan tanpa perasaan yang didasari oleh ketakutan dan favoritisme. Jelas sekali, kalau sejarah tidak diluruskan dan yang bertanggung jawab dihukum, tidak mungkin menyatukan masyarakat yang sudah terpolarisasi begini.

“Tentu saja bukan hanya masalah masa lalu,” kata Alejandri Wagner, seorang arsitek di Cile. “Tapi untuk masa depan yang layak, kita membutuhkan fondasi yang kuat, kita butuh kebenaran dan tanggung jawab. Kita tidak bisa membiarkan penjahat-penjahat memainkan peran penting dalam membangun negara kita.”

Baca Juga : Cara Masyarakat Surakarta Mengatasi Krisis Global 1930

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here