“Asah piso (pisau), asah gunting!”
Esai Ahmad Syafii Maarif yang terbit di Gatra 1995.

“Asah piso (pisau), asah gunting!” – Data pribadi : lahir di Wonosari, Yogyakarta , 27 Tahun lalu. Belum kawin. Cacat sejak kecil, menderita poliomelitis. Orangtuanya telah bertransmigrasi ke Palembang sejak 1982. Wilayah jelajah Parmin: Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sifat yang menonjol: optimistis, mandiri, tak suka dibelaskasihani. Filsafatnya adalah pantang menganggur.

“Asah piso (pisau), asah gunting!” Kalimat ini adalah modalnya berkelana mencari rezeki sepanjang hari. Perlengkapannya sangat sederhana: dua batu asah, satu tongkat, satu tas tempat peralatan, dan sebuah topi yang sudah agak kumal. Peralatan itulah yang di-kundang-nya (bahasa Minang, artinya dibawa) ke mana-mana, kadang-kadang mencapai kota yang jauh dari kampung kelahirannya.

Parmin punya elan vital (semangat hidup) yang prima. Dia sadar akan keadaan fisiknya. Tapi cacat ini bukanlah kendala baginya untuk berusaha hidup sebagai manusia penuh. Dia tak pernah menyesal mengapa ia lahir cacat. Suatu hari pada 20 Desember 1995, saya berkenalan dengannya. Sambil mengasah pisau dapur saya, Parmin mengungkapkan sisi hidupnya secara jujur, gamblang tanpa perasaan rendah diri. Bila dilihat sepintas lalu, serasa tak mungkin pria kelaahiran Wonosari ini menjelajahi tiga Provinsi secara bergantian.

Bila malam datang, ia sering menginap di masjid, pos polisi, dan kadang-kadang di emper toko. Tapi Anda jangan salah taksir bahwa penghasilannya sekedar untuk menyambung napas dari hari ke hari, dari malam ke malam. Pendapatan Parmin mengalahkan pendapatan buruh pabrik, pelayan toko, abang becak. Bahkan gaji seorang dosen dengan pangkat III tak bisa menandinginya.

Sewaktu saya tanya pendapatan hariannya, dengan lugu ia menjawab antara Rp. 15.000 dan Rp. 25.000 per hari. Sangat lumayan bukan? Tak bisa dilawan oleh UMR (upah minimum regional), sekalipun akan dinaikkan 10%, April tahun ini.

Parmin Cerdas Mengelola Pendepatan & Puasa Senin-Kamis

Jumlah pendapatannya itu telah diaturnya dengan cermat dan baik sekali. Sebagian untuk makan, sebagian untuk tabungan, sebagian untuk sumbangan sosial, sebagian untuk biaya membangun rumah, sisanya untuk lain-lain. Anda tak perlu kaget bahwa rumahnya di Wonosari sudah hampir rampung. Dibangun dengan hasil kerja asah piso, asah gunting.

Tentang persoalan rumah ini, Parmin pun bercerita bahwa orangtuanya sengaja tak dia beritahu. Dia ingin pada suatu hari mereka akan terperangah dalam arti bungah (gembira sekali) mendapatkan anaknya telah punya rumah. Juga Parmin ingin menunjukkan kepada orangtuanya bahwa ia tak kecewa dalam kondisinya yang demikian. Yang cacat fisiknya, sedangkan jiwa sehat dan kreatif.

Bila kebetulan berada di Yogyakarta, Parmin bisa menginap di lingkungan Masjid Hasanah, dekat kampus Universitas Gadjah Mada. Biaya makannya sekitar Rp. 1.500 per hari. Sederhana sekali. Yang lebih men-trenyuh­-kan saya bahwa Parmin biasa puasa Senin-Kamis tanpa berhenti bekerja. Hidupnya, teratur, merdeka, dan tak neko-neko (aneh-aneh).

Pernah ia menjenguk orangtuanya di Palembang, tapi hanya kerasan beberapa hari. Parmin tak bisa diam dan bersantai. Profesinya sebagai tukang asah rupanya telah menyatu dengan dirinya, entah sampai kapan. Yang jelas, di samping punya rumah, tabungannya juga ada di bank. Jumlahnya tak saya tanya.

Baca Juga : Ali – Baba

Cobalah kita tarik kisah Parmin ke dalam konteks yan g lebih luas. Di saat sangat terbatasnya lapangan kerja, Parmin bagi saya adalah pahlawan. Pendidikannya yang hanya setakat sekolah dasar bukanlah rintangan baginya untuk mengisi hidupnya  secara bermakna. Dia pantang menyerah dan tak mau menganggur. Kiatnya sederhana: jangan merasa hina dengan jenis kerja apa saja, asal halal. Boleh jadi nanti di depan Tuhan orang semisal Parmin ini akan mudah mengetuk pintu surga, sebab hidupnya bersih, tulus, dan tak egoistik.

Pengalaman Parmin dalam menjalankan profesinya sangat beragam. Di samping banyak orang yang berlaku santun kepadanya, tak jarang pula yang segera menutup pintu rumah manakala Parmin lewat dihalamannya. Namun apa pun yang dialaminya, Parmin selalu mengucap “Alhamdulillah”. Dia kaya dengan pengalaman tentang manusia. Oleh sebab itu dia tak pernah gamang berurusan dengan berbagai situasi.

Ahmad Syafifi Maarif, Menulis Esai di Gatra, 10 Februari 1996 Tentang
Si Parmin, Orang Kecil yang Bersahaja.

Parmin adalah anak Indonesia, anak Orde Baru

Saya tak sempat menanyakan komentarnya tentang korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang makin “meriah” diberitakan koran. Barangkali dia tak tertarik untuk mengikuti itu semua. Untuk apa semuanya itu didengar, bukankah bila semua orang sudah korup, sudah nepotis, kan tak ada lagi korupsi dan nepotisme.

Bila orang sudah bergelimang dosa-dosa sejarah itu maka risikonya mungkin hanya satu: masyarakat jadi apatis dan letih. Parmin tak mau apatis, tak mau letih. “Asah Piso, asah gunting”, itulah senjatanya.

Baca Juga: Playboy Interview: George Aditjondro

Kita sebenarnya masih beruntung. Di tengah-tengah kegalauan sistem nilai, ada Parmin di lingkungan kita. Parmin ini sudah pasti ada dalam setiap  kelas masyarakat. Cirinya adalah: jujur, mandiri, kerja keras, kaya nilai-nilai rohani,dan tak kikir.

Parmin yang belum pernah ditatar P4 adalah contoh dari sosok manusia Indonesia yang masih utuh. Berbahagialah bangs ini karena stok manusia seperti Parmin belum lagi punah ditelan perubahan sosial yang kadang-kadang sangat kejam dan menindas. Parmin adalah contoh hidup dari sebuah ketegaran, dari sebuah kemandirian, dan dari sebuah kebebasan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here