Bom di masjid istiqlal

Bom di Masjid Istiqlal – Peristiwa peledakan bom di masjid Istiqlal beberapa waktu lalu merupakan peristiwa yang luar biasa. Jelas sekali pemboman ini merupakan gerakan politik yang ditunjukkan untuk memancing emosi umat Islam, suatu provokasi yang paling klasik yang selama Orde Baru digunakan dalam peristiwa-peristiwa seperti Woyla dan Tanjung Priok. Peledakan bom ini sekaligus menjadi bagian dari mata rantai peristiwa-peristiwa sebelumnya yang menempatkan umat Islam sebagai korban, tanpa ada jawaban dan pertanggung jawaban.

Ada beberapa motif politik dari peledakan bom di masjid Istiqlal. Pertama, adalah upaya menciptakan instabilitas di ibu kota secara akseleratif yang berkaitan dengan pelaksanaan pemilihan umum mendatang.

Motif ini menempatkan pelaku peledakan adalah mereka yang tidak menginginkan pemilu dan meraka yang melakukan kampanye boikot pemilu karena menganggap pemilu tidak akan memperkuat posisi politik kelompok ini. Untuk itu target dari peledakan bom adalah terjadinya ledakan kemarahan umat Islam yang diikuti tindakan balas dendam pada bangunan-bangunan ibadah agama lain sehingga dalam waktu singkat terjadi situasi chaos. Dalam situasi chaos itu diharapkan adanya peluang untuk mengambil peran politik.

Baca Juga :  Tanda dan Bahasa Kekuasaan

Kedua, pemboman ini merupakan aksi sepihak (test case) dalam rangka menguji kekuatan umat Islam yang dianggap sebagai ancaman dalam musuh politik. Karenanya peristiwa ini tidak dapat dipisahkan dari aksi-aksi sepihak yang terjadi sebelumnya, seperti pembantaian di Banyuwangi oleh sekelompok orang berpakaian ninja, peristiwa Kupang dan Ambon. yang jelas, dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, umat Islam terlihat sabar dan pimpinan-pimpinan umat pun ikut menghimbau untuk tidak terpancing aksi balas dendam.

Penciptaan Kelompok Islam Ekstrem

Kelompok yang mempunyai motif kedua ini adalah kalangan yang Islamo-Phobia, yang menganggap Islam sebagai ancaman sehingga harus disingkirkan dari koridor kekuasaan dengan menciptkan Islam ekstrem (ekstrem kanan). Pola ini terlihat dalam peristiwa Woyla, Tanjung Priok, Lampung, dan seterusnya.

Motif kedua ini semakin jelas terarah ketika ada upaya menggiring opini bahwa pelaku peledakan bom itu adalah kelompok beridentitas Islam bernama Angkatan Mujahidin Islam Nusantara (AMIN), sebuah nama yang asing dan bombastis.

“AMIN” diduga terlibat pemboman di Jalan Hayam Wuruk dan Perampokan kantor BCA. Apa benar ada sebuah organisasi bernama “AMIN”? Yang melakukan tindakan tercela dan sangat berlawanan dengan akidah dan ajaran Islam. Inilah  yang pertama kali harus di bongkar.

Baca Juga : Bromocorah dan Sejarah Kita

Munculnya identitas Islam dalam peledakan bom  di Hayam Wuruk dan Perampokan kantor BCA adalah pola klasik yang hendak mendiskreditkan Islam dan umat Islam. Saya yakin mereka yang tertangkap itu adalah perampok-perampok profesional biasa yang hendak mencari jalan pintas perbaikan hidup.

Namun, tendensi belakangan ini tampaknya ada usaha hendak mengaitkan peristiwa Hayam Wuruk dengan peledakan bom di  Istiqlal. Intinya akan diarahkan bahwa pelaku peledakan bom adalah orang Islam sendiri yang sebelumnya meledakkan bom di jalan Hayam Wuruk. Maka dalang sesungguhnya akan tetap tersembunyi dan kasus ini tidak akan terungkap seperti kasus-kasus lainnya.

Bom di masjid istiqlal

Di mana posisi aparat kemanan?

Belakangan ini aparat keamanan khususnya jajaran TNI terlihat lumpuh dalam mengatasi berbagai peristiwa kerusuhan dan teror. Intelejen TNI yang selama beberapa dasawarsa dikenal sangat hebat terlihat seolah-olah tidak tahu apa-apa. Di masa lalu, ABRI berhasil menguak kasusus peledakan bom di Candi Borobudur, peledakan BOM gedung BCA dengan sangat mudah.

Tapi dalam beberapa peristiwa terakhir terutama perstiwa Banyuwangi, Kupang, Ketapang, Ambon, dan peledakan bom di Istiqlal, jajaran pimpinan TNI terkesan tidak serius dan bahkan cenderung membiarkan persolan semakin kompleks. Tidak ada jawaban yang pasti apalagi pertanggungjawaban.

Antisipasi yang demikian lamban dari aparat keamanan tentu saja menimbulkan berbagai pertanyaan. Pertama, apakah memang intelejen kita benar-benar sudah mandul sehingga tidak sanggup mendeteksi berbagai gejala yang mengarah pada tindakan anarki.

Kedua,  apakah aparat keamanan memang mempunyai agenda yang berbeda dengan agenda nasional pemilihan umum di mana diharapkan akan lahir pemerintahan sipil yang demokrastis dan legitimate.

Baca Juga : Dampak Krisis Ekonomi Global 1930 Terhadap Surakarta

Terhadap pertanyaan pertama itu kita lihat memang ada indikasi ketidakmampuaan aparat intelejen yang kini bekerja. Dalam peristiwa Ambon, intelejen TNI tidak antisipatif atau pun melakukan containment (pembendungan) sehingga masalah yang sederhana menjadi rumit dan berlarut-larut dengan korban tidak sedikit.

Hal ini dapat pula diakibatkan karena demoralisasi  di tubuh TNI karena petinggi-petinggi TNI lebih disibukkan dengan pertarungan politik  mereka ketimbang memfokuskan diri pada penciptaan stabilitas keamanan menjelang pemilihan umum. Bahkan dalam beberapa kasus, kepentingan TNI sendiri bisa dikorbankan demi kepentingaan politik pimpinan.

Sedangkan terhadap pertanyaan kedua, dilihat ada indikasi kecenderungan aparat keamanan membiarkan terjadinya kerusuhan atau tindakan anarki sehingga pada saatnya terjadi chaos yang dapat menciptakan keadaan darurat dan gagalnya pemilihan umum.

Dalam situasi darurat itu, tentu yang akan tampil adalah jajaran aparat keamanan termasuk di pentas politik nasional. Maka reformasi akan terhenti dan kita akan mengalami kemunduran demokrasi total.

Peledakan bom di masjid Istiqlal, saya kira adalah suatu massage yang disampaikan kepada kita, bahwa kekuatan pro status quo yang anti pemilihan umum masih ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here