Perusahaan Jepang
Bondan Winarno Menulis Esai Berjudul Keunggulan Kuping dan Mata Jepang. Terbit pada 5 April 1986.

Ada isu baru: peristiwa pembajakan pesawat Egypt Air di Malta baru-baru ini disponsori PT Multi Bintang Indonesia. Soalnya, orang-orang PT Multi Bintang dikenal pintar memanfaatkan setiap kesempatan untuk mempopulerkan produk mereka.

Jangan heran kalau pada suatu ketika di sebuah tempat umum Anda mendengar melalui pengeras suara: “Pengemudi Kasio dari Bir Bintang segera ke depan!” Mungkin, bahkan, Anda akan mendengarnya dua kali. Dan itu iklan gratis, seperti diakui sendiri oleh salah seorang direkturnya, Sadyana Pradjasantosa.

Ketika terjadi rekonsiliasi antara Jonosewojo dan Yustejo Tarik, dalam waktu singkat Bir Bintang sudah memunculkan iklan yang menggambarkan keduanya sedang berakrab-akrab. Begitu Elys Piscal menjadi juara dunia, esoknya sudah ada iklan Bir Bintang yang menyambutnya.

Begitu juga ketika Erik Estrada datang, Multi Bintang tak menyia-nyiakan untuk menjadikannya endorser bagi produk Greensands.

Memanfaatkan Isu untuk Iklan Produk Baru

Tetapi, apa hubungannya pembajakan di Malta dengan Multi Bintang? Egypt Air di bajak di Malta, begitu pekik semua media massa di dunia. Sepanjang Minggu itu masyarakat terus menerus mendengar dan membaca peristiwa di Malta.

Lalu, pada akhir minggu, tiba-tiba Multi Bintang mengundang para distributornya untuk memperkenalkan dan meluncurkan produknya yang terbaru: Frezzy Malta.

Isu itu tentu saja tak berdasar. Peristiwa pembajakan di Malta itu, bila dihubungkan dengan Frezzy Malta-nya Tanri Abeng, mungkin sama dengan lelucon tentang presiden Direktur Coca-Cola yang setengah mati mencari audiensi dengan Paus hanya untuk mengusulkan agar semua pastor menyebut Coca-Cola setelah Amin, atas sponsor Coca-Cola.

Baca Juga: Tentang Pemukiman

Ternyata, ada banyak hal yang menarik di balik peluncuran produk baru ini. Banyak orang tidak percaya bahwa pada masa depresi seperti ini masih ada produsen yang berani meluncurkan produk baru ke pasar yang lesu.

Tetapi, memang demikianlah adanya pasar. Selesu-lesunya pasar, masih tetap terjadi transaksi. Tanpa transaksi, ia tidak lagi bernama pasar. Dalam situasi seperti itu, konsumen menjadi lebih pilih-pilih. Artinya, produk baru justru akan mendapat perhatian. Apalagi kalau produk baru itu menjanjikan benefit yang lebih menguntungkan.

Kita sudah bisa melihat buktinya di pasar, X-Tra, sebuah merk rokok kretek, diluncurkan dengan promosi besar-besaran. Toyota meluncurkan tiga jenis mobil baru dengan iklan mengejutkan.

Di sektor makanan bayi pun muncul pesaing baru yang tak ragu-ragu memasuki pasar pada situasi seperti sekarang ini. “Memang selalu ada niche di pasar. Dan itu yang selalu dicari orang,” kata Gunther Schwarze, seorang teman yang bergerak dibidang pemasaran dan riset.

Sejarah Pemasaran Frezzy Malta yang Menembus Pasar Internasional

Frezzy Malta sendiri sebenarnya sudah digagas sejak dua tahun yang lalu. Ketika situasi pasar belum lagi selesu sekarang. “Ini adalah cara kami melakukan diversifikasi produk dalam batas teknologi, fasilitas produksi, dan jalur distribusi yang kami punyai,” kata Tanri Abeng, Presiden Direktur Multi Bintang.

Frezzy Malta adalah minuman malt base yang dikilang persis seperti mengolah bir. Hanya saja minuman baru ini sama sekali tidak mengandung alkohol. Teknologi itu sudah dikuasai oleh Multi Bintang. Begitu juga fasilitas produksi dan jalur distribusinya. Karena itu, mereka tidak perlu lagi membuat investasi baru di atas asset yang sudah dimiliki itu.

Multi Bintang
Esai Isu dan Iklan, Rubrik Kiat karya Bondan Winarno.

Kelahiran Frezzy Malta sendiri merupakan pemberangkatan baru bagi Multi Bintang. Biasanya mereka membeli desain produk yang sudah jadi, bahkan membeli franchise-nya sekaligus. Dan untuk itu mereka harus tetap membayar royalty atas setiap penjualan kepada prinsipalnya.

“Ketergantungan pada merk dagang internasional itu membutuhkan banyak biaya,” kata Tanri. “Karena itu, beberapa tahun yang lalu saya putuskan untuk mengembangkan dan mendesain sendiri sebuah produk dan merk minuman.  Itu memang memerlukan banyak biaya. Tetapi kami yakin bahwa biaya pengembangan produk itu akan terbayar dalam jangka panjang.”

Baca Juga: Pascalebaran

Ia bahkan tidak malu-malu menggunakan fasilitas lengkap laboratorium Heineken, prinsipalnya di Negeri Belanda, untuk melakukan pengembangan produk ini. Multi Bintang tetap mempunyai hak atas paten produk baru ini karena desainnya datang dari Indonesia.

Heineken sendiri langsung mengingini produk itu untuk dipasarkan secara internasional melalui franchise holder-nya di seluruh dunia.

“Ini lucu. Sekarang bapak beli dari anak,” kata Tanri sambil ketawa. “Kami sekarang memang tengah merundingkan alternatif terbaik yang menguntungkan kita dalam hal jual beli royalty ini.” Dan itu akan berarti bahwa produk Indonesia akan dapat dinikmati di seluruh dunia.

Tanri memang punya alasan untuk berbangga. Ia tidak hanya duduk dan mengeluh. Ia mendobrak dan mencipta. Dan melahirkan produk baru desain Indonesia yang memenuhi syarat untuk memasuki pasar internasional.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here