Gus Dur
Robert Mangindaan, Dosen Lemhannas. Menulis Esai Berjudul Aceh dan Manuver Gus Dur Pada Desember 1999. Sumber Foto: Gatra

Gus Dur– Ada pihak yang mendapatkan kesan, kasus Aceh yang sudah berada pada suhu mendidih belum disentuh dengan serius oleh Gus Dur. Bahkan, Presiden lebih mementingkan kunjungan informal ke luar negeri. Apakah kunjungan tersebut akan meredam ancaman disintegrasi bangsa? Mari kita hitung.

Kunjungan ke rumpun ASEAN

Prioritas tentunya perlu diarahkan ke Kuala Lumpur, Singapura, dan Manila. Argumennya, mungkin di Malaysia masih ada remnants Gerakan Aceh Merdeka (GAM) atau simpatisannya, sehingga jasa baik dari Kuala Lumpur memang sangat dibutuhkan.

Singapura sudah jelas dibutuhkan, karena posturnya sebagai konglomerat subkawasan Asia Tenggara. Sedangkan Manila dibutuhkan untuk meredam koneksitas GAM dengan Hasyim Salamat, yang memiliki berbagai kamp di Mindanao.

Baca Juga: ‘Islam Kiri’ Warisan Nasser

Hasil kunjungan itu sudah di kantong. Yaitu dukungan dari rumpun ASEAN terhadap Jakarta untuk mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).  Artinya, atmosfernya sudah kondusif  bagi Jakarta untuk melakukan tindakan apa saja, sepanjang dalam konteks memelihara keutuhan NKRI.

Kebijakan Merajut Jalur New Delhi-Jakarta-Beijing

Ini bukan hal yang mudah karena beberapa hal. Pertama, India di mata dunia internasional adalah anak bandel yang tidak mau mengerti perbedaan ketegangan dan stabilitas perdamaian dunia, dan sangat egois memacu kepentingan nuklir mereka.

Sedangkan Cina dicap sebagai anak nakal yang kurang peduli pada hak-hak manusia, dan masih tersendat-sendat untuk bergabung dengan WTO. Kunjungan ke Beijing merupakan kebijakan yang baik, karena Cina merupakan kawan yang baik di kala Indonesia dicaci maki dalam agenda Timor Timur.

Baca Juga: Militer dan Kekerasan Massa

Kedua, posisi politik Indonesia dalam masalah nuklir, utamanya dalam NPT, CTBT, disarmament, sudah baku. Sehingga, perubahan sikap politik dalam sekejap membingungkan kawan setia di fora multilateral.

Salah satu bukti nyata adalah dukungan mereka kepada Indonesia untuk menjadi Wakil Presiden Ecosoc, dan nantinya menjadi presiden Ecosoc pada tahun 2000. Sangat mungkin, kawan-kawan tersebut ikut bingung mengikuti manuver Gus Dur, kecuali bila para diplomat meyakinkan kelompok G-77, OKI, dan sebagian anggota GNB, yang jumlahnya kurang lebih 140 negara.

Kebijakan Ke Asia Timur

Bagi industri Jepang, Cina, dan Korea, minyak adalah segala-galanya. Artinya, mereka sangat bergantung pada kelangsungan pasokan bahan bakar minyak. Kenyataannya, life line mereka tumpang tindih dengan SLOC yang melalui alur laut kepulauan Indonesia.

Barangkali, political massages yang disampaikan pada pengguna SLOC melalui ALKI adalah bahwa Indonesia yang terpecah-pecah akan buruk dampaknya bagi life line mereka. Artinya, mereka sebaiknya mendukung Jakarta dalam memelihara NKRI, dan tidak mendukung gerakan separatis seperti Aceh.

Baca Juga: Dialog Mayjen TNI Syamsu Djalaludin dengan Keluarga Korban Penculikan

Kunjungan ke sana juga bersifat taktis. Yakni, untuk mendapatkan dukungan finansial, yang sangat dibutuhkan guna memeliharaa kredibilitas Orde Reformasi yang bertugas melanjutkan pembangunan nasional.

Gus Dur
Robert Mangindaan, Dosen Lemhannas. Menulis Esai Berjudul Aceh dan Manuver Gus Dur Pada Desember 1999. Sumber Foto: Gatra
Kebijakan Merangkul Timur Tengah

Ada dua kepentingan yang tampaknya sekaligus ingin dicapai oleh Gus Dur. Pertama, mendapatkan dukungan finansial, dan mengukir prospek mengalirnya BBM pada 2010 untuk Indonesia. Kepentingan yang kedua adalah menggalang dukungan untuk Jakarta dan sekaligus memotong moral support dari Timur Tengah ke Serambi Makkah.

Tapi, untuk merangkul Kuwait, perlu juga menyelami perasaan Irak yang selama ini selalu memberikan dukungan secara terbuka kepada Indonesia. Demikian juga sikap Amerika  Serikat sebagai “lurah” di Timur Tengah perlu dicermati agar tidak melangkahi kepentingan Amerika.

Baca Juga: Menotok Urat Nadi Koruptor

Keinginan untuk merangkul Israel dinilai sebagai suatu gagasan yang kontroversial. Namun, bila disimak dengan cermat, akan terlihat bahwa manuver Gus Dur memiliki sasaran ganda. Memang kepentingan Israel tidak sama dengan kepentingan lobi Yahudi, dan juga tidak sama dengan kepetingan jaringan binis dunia yang dikuasai oleh etnik Yahudi.

Tapi, di antara mereka, paling tidak, ada ikatan emosional, dan kenyataan di panggung dunia memperlihatkan bahwa Amerika tidak bisa seenaknya terhadap Israel, sedangkan Israel bisa berbuat seenaknya terhadap Amerika. Ada pepatah Tionghoa yang mengatakan, “kalau pegang pisau jangan ujungnya, tapi hulunya”.

Masalahnya, bagaimana menghadapi sensitivitas masyarakat Islam yang masih tabu menyebut Israel, apalagi membuka hubungan. Saya berpendapat, kearifan Gus Dur tak mengenal pepatah: Beruk di rimba disusukan, anak dipangku dilepaskan”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here