Partai Seniman dan Dagelan Indonesia

Partai Seniman dan Dagelan Indonesia – Pesta Demokrasi Pasca Soeharto lengser, rencananya akan dilaksanakan pada 7 Juni 1999. Ketika masa Soeharto, partai yang  dapat ikut pemilu hanya 3, Golkar, PDI, dan PPP. Namun, Setelah Soeharto lengser, muncul banyak partai yang  ikut serta dalam pemilu.

Ada 148  partai yang mendaftar ke Departemen Kehakiman, supaya disahkan dan menjadi partai yang memiliki badan hukum. Dari 148 partai politik yang mendaftar di Departemen Kehakiman, ada 7 partai yang gagal memiliki badan hukum. Sehingga tersisa 141 partai politik yang sah sebagai badan hukum dan siap diverifikasi tim 9.

Dari 141 partai politik yang resmi memiliki badan hukum, ada Parsendi (Partai Seniman dan Dagelan Indonesia).  Partai dari kalangan Seniman dan Pelawak yang siap meramaikan pemilihan umum 1999. Namun, dalam proses Verifikasi, Persendi dinyatakan tidak lolos dan gagal menjadi peserta pemilu 1999.

Dalam sejarah pemilu 1999, partai yang mendaftarkan diri ke departemen kehakiman–untuk mendapatkan keabsahan hukum sebagai partai – sebanyak 148 partai. Dan yang dinyatakan sah hanya 141 partai. Dari 141 yang secara hukum, hanya 106 yang mengajukan diri untuk mengikuti pemilu kepada tim 11.

Baca Juga: Prabowo Tamat

Dari 106 partai tersebut, menurut tim 11, hanya 60 partai yang layak diverifikasi. Dari 60 Partai tersebut, hanya 48 partai yang lolos verifikasi dan bisa ikut Pemilu 1999. (Tablid Berita Mingguan ADIL 10-16 Maret 1999 Hal: 15)

Wahyu Sardono (Dono) Bisa Bersaing dengan Amien Rais dan Megawati

Partai Seniman dan Dagelan Indonesia
Wawancara Tabloid ADIL dengan Wahyu Sardono pada September 1998.

Kabarnya para pelawak dan seniman Solo akan mendirikan  Parsendi (Partai Seniman dan Dagelan Indonesia). Bagaimana pendapat Anda?

Itu ide bagus. Apalagi saya menangkap fenomena bahwa kita sedang ada dalam era dagelan. Nah, daripada dititipkan kepada dagelan-dagelan lain yang amatiran, lebih baik suara mereka diwakili oleh praktisi dagelan yang profesional.

Kabarnya Anda diminta untuk menjadi ketua partai?

Memang. Tapi saya keberatan. Habis, jadi ketua partai berat lho.

Kira-kira apa alasan mereka meminta Anda menjadi ketua?

Barangkali mereka menilai saya bisa bersaing dengan Amin Rais dan Megawati. Pokoknya bisa lah… saya bersaing dengan mereka  untuk menjadi presiden..ha….ha…ha.

Baca Juga: Vonis yang Menyingkap Borok

Ternyata Anda berniat juga menjadi Presiden?

Oh, berniat sekali. Enak lho, jadi presiden.

Apa enaknya?

Menjadi presiden itu kan pekerjaan yang tidak perlu dipertanggungjawabkan. Kalau bosan, limpahkan saja tanggungjawab dan jabatannya kepada wakilnya. Yang bingung presiden yang sekarang. Kalau dia capek mau dikasihkan ke siapa, wong wakilnya tidak ada.

Kalau  cuma menjadi ketua Partai?

Menjadi ketua partai tidak enak, harus pidato terus. Yang enak itu, tidak pidato tapi makan kenyang. Kalau ketua partai pidato pakai teks itu tidak pantas. Tapi, kalau presiden, pantas.

Kalau tetap diminta menjadi ketua Parsendi, Anda punya syarat?

Ya, dan tidak berat. Kalau para pendiri partai memberi honorarium yang pantas mungkin saya bersedia. Misalnya, kebutuhan sembako saya terpenuhi  selama berabad-abad. Maklum, sekarang apa-apa mahal, sih.  

Bagaimana kans Persendi jika bersaing dengan partai-partai lain?

Saya optimistis. Kalau dipikir-pikir, untuk memenuhi target 14 DPD bisa terpenuhi. Sebab, di mana-mana ada seniman dan pelawak.

Sakarang bisnis lawak sedang sepi, terus apa kegiatan Anda?

Saya belum bisnis apa-apa, hanya ikut program bengong nasional.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here