Jambore Dunia
Bondan Winarno Menulis Esai Pengalaman Pramuka Generasinya dan Generasi Anaknya. Esai Tersebut Dimuat TEMPO. Juni 1986.

Jambore Dunia – Baru saja saya berjumpa dengan Nyonya Bustanil Arifin. Halal Bi Halal, mumpung syawal. Ia tampak lelah. Ternyata, memang lelah. Pasalnya, ia mengurus logistik untuk para peserta Jambore Nasional.

Kalau pak Bus mengurus logistik untuk seluruh bangsa, bu bus mengurus logistik untuk pemuda harapan masa depan bangsa. Logistik bukan pekerjaan gampang. Apalagi karena ini tergolong ondankbaarewerk. Kalau beres, tak kan ada yang berterimakasih. Tetapi kalau kurang beres sedikit, saja wah keluhannya bisa sampai ke ujung dunia.

Diam-diam saya merasa malu. Soalnya, ternyata  saya tak melakukan apa-apa untuk Jambore nasional ini. Sebagai pramuka, hal ini memang cukup memalukan. Pramuka, malangnya, tak mengenal bekas pramuka. Sekali pramuka, tetap pramuka. Karena itu tanpa kalung setangan leher pun, saya tetap pramuka.

Baca Juga: Garib Demak – Semarang

Saya bangga jadi pramuka. bukan karena topinya, bukan karena tongkatnya. Seragam pramuka saya yang pertama dahulu terbuat dari Wol. Itu karena ayah saya dulu juga pandu – Hizbul Wathon. Katanya,  wol paling baik untuk seragam pramuka.

Tebal, sempurna sebagai pelindung tubuh. Kalau basah cepat kering. Hangat bila cuaca dingin. Dan bila cuaca panas….., ya tetap panas. Pengetahuan tentang hal itu membuat saya gusar bila melihat anak saya memakai baju seragam pramuka dari tetoron yang tipis.

Saya bangga jadi pramuka. Soalnya, 19 tahun yang lalu kegiatan pramuka menyebabkan saya dikirim ke luar negeri. Saya menjadi pemimpin regu untuk kontingen Indonesia ke Jambore Dunia XII di Idaho, Amerika Serikat.

Cerita Bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Saya bahkan terpilih menjadi honor guard untuk Lady Olave Baden Powell. Akibatnya, foto saya dicetak menjadi kartu pos oleh Boy Scouts of America. Beberapa tahun kemudian Republik Manama membuat prangko dengan foto saya itu. Hebat juga, ya?

Saya juga sempat mengikuti Jambore Dunia XIII di Asagiri Heighs, Jepang 1971. Waktu itu sudah lebih hebat. Saya jadi konsultan  –Kongkonane Sultan.  Sri Sultan Hamengkubuwono IX waktu itu adalah ketua kwartir nasional.

Ketika kak Sultan mengunjungi bumi perkemahan yang baru diporakporandakan taifun, saya mengelap dan mengeringkan tempat yang akan didudukinya. Lalu menyediakan minumannya. Di Tokyo, ketika kak  Sultan menyampaikan makalahnya, saya membantu kak Azis Saleh mempersiapkan slides pendukung. Begitulah konkonane sultan, suruhan sultan.

Baca Juga: Tragedi Di Hotel Horison

Saya tetap bangga jadi pramuka. Untuk memperoleh tanda kecakapan khusus memasak, waktu itu saya diuji memasak nasi dalam tempurung kelapa, dengan daging kelapanya masih utuh di dalam. Kepandaian memasak itu masih berguna hingga kini. Terutama ketika pembantu pulang berlebaran.

Tentu saja saya menjadi gusar ketika anak saya yang baru naik dari siaga ke penggalang minta dijahitkan tanda kecakapan umum penggolong terap – pandu kelas satu – pada baju seragamnya. “Disuruh pak guru,” katanya ngotot.

Jambore Dunia
Bondan Winarno Menulis Esai Pengalaman Pramuka Generasinya dan Generasi Anaknya. Esai Tersebut Dimuat TEMPO. Juni 1986.

Guru dan Pembina Pramuka

Itulah, pembinanya adalah pak guru. Tanpa ujian melalui tingkat-tingkat yang lebih rendah, anak saya langsung boleh memakai tanda kecakapan umum kelas satu. Bagaimana ia akan menghargai tanda kecakapan itu bila ia tak berjuang untuk memperolehnya?

Suatu hari, ketika menjemput dia, saya bertemu dengan pak guru yang merangkap Pembina pramuka itu. Pecinya dipakai melintang, sebagaimana laiknya tukang sate Madura. Setangan lehernya tergerai lepas tanpa pengikat.

Tetapi saya ‘kan tak bisa menyalahkan Pembina pramuka yang seperti dia? Dahulu pak guru itu pernah mengundang saya untuk ikut membina pramuka di gugus depan sekolah itu. Saya menolaknya karena tak punya waktu. Dan ini persoalan umum.

Baca Juga: Militer dan Kekerasan Massa

Bayangkan! Saya pernah ikut Jambore dunia dua kali, dan sekarang tak punya motivasi untuk membina pramuka. Di TEMPO, juga ada seorang kepala bagian yang pernah ikut Jambore Dunia, dan sekarang tak punya keterlibatan dengan pramuka.

Jadi, salah siapa kalau pramuka jadi begitu? Ya, salah kami-kami inilah. Merasa tetap pramuka, sekalipun tanpa setangan leher. Tetapi tak melakukan apa-apa untuk gerakan pendidikan kepanduan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here