Para Advokat
Karni Ilyas, menulis esai berjudul Tragedi di Hotel Horison dan dimuat TEMPO. Esai tersebut banyak menyoroti perilaku Advokat, Hakim, dan Masyarakat.

Para Advokat – Suatu sore sekitar 10 tahun lalu, di kamar kerja seorang  pengacara terkenal saya tengah mewawancarai tokoh advokat itu. Tiba-tiba pintu terbuka, seorang klien masuk. Rupanya, si klien sudah begitu akrab sehingga bisa masuk tanpa minta izin lebih dulu. Bahkan tanpa basa-basi – tanpa peduli kepada saya – ia langsung bicara.

“Pak……, kenapa  belum putus juga, kan kita sudah tembak hakimnya,” katanya.

Tokoh yang saya wawancarai terkesiap. Ia melirik saya. “Eh, lu jangan ngomong sembarangan. Ini ada wartawan,” katanya sambil tersenyum kecut. Si klien pun segara menyadari kekeliruannya. Ia anehnya minta maaf kepada saya dan permisi ke luar ruangan.

Suatu siang, masih dikurun waktu itu, saya mewawancarai seorang hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di kamar kerjanya. Tiba-tiba masuk seorang advokat. Dengan dasi melilit leher, ia masuk bersama seorang wanita muda yang bertubuh tinggi dan berwajah rupawan.

Baca Juga: Besan yang Ekstrim

“Ini bapak yang menangani kasusmu. Dekatin dia saja perkaramu pasti menang,” kata si advokat, tertawa terekeh-kekeh, sambil mengedipkan mata ke pak Hakim.

Mendengar pesan advokat itu si wanita muda segera bersalaman dengan Pak Hakim. Dalam gaya manja ia menceritakan kasusnya. Ia ternyata  cukup “berani” hingga Hakim kita tersipu-sipu. “Eh, hati-hati, ada wartawan,” kata sang Hakim, hingga advokat kita pun tertegun.

Rupanya, wanita cantik itu dalam proses cerai dengan suaminya. Tapi selain soal harta, kedua pihak berebut mengasuh anak mereka satu-satunya. Yang diharapkan wanita itu: Sang Hakim akan memenangkan perkaranya…

Potret Hukum Kita, dari Advokat, Hakim hingga Klien

Yang tersirat dari yang tersurat di atas tak hanya sekedar kemungkinan skandal  di dunia peradilan kita. Yang terjadi adalah kenyataan tragis, semua perangkat hukum seakan-akan sudah tak berguna, sekurangnya tak dipercaya lagi – bahkan oleh advokat, penegak hukum sendiri.

Sang advokat sudah tak percaya lagi akan keampuhan ilmu hukum yang dipelajarinya di bangku kuliah. Ia ternyata tak yakin lagi terhadap eksepsi, pledoi, replik, duplik, dan semua tetekbengek upaya yuridis yang ada.

Ia seperti sudah membuang jauh-jauh buku-buku hukum atau kitab-kitab undang-undang yang setebal-tebal bantal. Ia juga seakan-akan sudah tak percaya lagi bahwa hakim bisa memutuskan perkara yang ditanganinya dengan adil dan jujur – tanpa “ditembak” atau didekatin.

Baca Juga: Prabowo Tamat

Bahkan sang advokat sudah tak percaya lagi terhadap dirinya sendiri. Ia menganggap kemampuan profesionalnya tak berguna untuk perkara itu. Kalau si calon janda muda bisa memenangkan perkaranya hanya dengan cara “mendekatin” hakim, sebenarnya buat apa lagi ia memakai jasa pengacara. Ia tentu saja bisa menghubungi sang hakim langsung atau melalui perantara lain – dengan hasil yang sama.

Tragedi yang sebenarnya setiap hari terjadi di berbagai bidang kehidupan di masyarakat kita. Ketika “macet total” terjadi di perempatan jalan, semua pemakai jalan tak peduli lagi terhadap hak orang lain.

Ketika jalan tol Jagorawi sesak, ada saja mobil yang mendahului kendaraan lain lewat jalur di kiri, yang berarti melanggar aturan dan membahayakan jiwa orang lain. Tak ada lagi yang peduli dan percaya kepada aturan lalu lintas – bahkan kepada petugas. Tak ada lagi yang percaya bahwa haknya akan terjamin.

Ketidakpercayaan serupa bisa pula dilihat dari semakin banyaknya pelaku tabrak lari. Ketika korban sudah tergilas, si pengemudi tak percaya hak, juga keselamatannya, akan terjamin jika ia turun dari kendaraan. Sebab, sebagian anggota masyarakat, yang juga sudah tak percaya kepada hukum, lebih suka menghakimi sendiri pengemudi-pengemudi “sial” seperti itu.

Berbagai contoh lain bisa diurutkan untuk menunjukkan bahwa hukum dan peraturan perundang-undangan tak lagi dipercayai sebagian anggota masyarakat. Banyak orang tak percaya lagi kepada pengadilan sehingga memakai jalan pintas, menyewa tukang pukul untuk menagih piutangnya.

Sebagian pemilik tanah tak percaya lagi terhadap sertifikat yang ada di tangannya sehingga terpaksa memasang plang pengumuman organisasi atau orang-orang “beken” di atas tanahnya.

Di lapangan bola hal yang sama sudah berkali-kali terjadi. Ketika wasit dipukul pemain, sebenarnya tak hanya penganiayaan yang terjadi. Ketika itu sebenarnya si pemain sudah tak percaya lagi terhadap segala peraturan pertandingan bahkan bahwa wasit tak berpihak. Suatu keadaan anarki.

Para Advokat
Karni Ilyas, menulis esai berjudul Tragedi di Hotel Horison dan dimuat TEMPO. Esai tersebut banyak menyoroti perilaku Advokat, Hakim, dan Masyarakat. Sumber foto: TEMPO.

Baku Hantam Para Advokat

Kejadian serupa itulah, sebenarnya, yang berlangsung di Munas 1 Ikadin di Hotel Horison pekan lalu. Para advokat ternyata tak percaya lagi bahwa argumentasi mereka bisa ditegakkan tanpa menunjukkan otot-otot.

Mereka bahkan tak percaya bahwa musyawarah itu akan berlangusng menurut aturan-aturan yang sebenarnya mereka bikin sendiri. Sebab itu, tak hanya debat yang terjadi. Tapi saling berteriak, sehingga masing-masing hanya sibuk dengan emosinya dan tak mendengar lagi teriakan pihak lawannya.

Bahkan semua itu masih perlu dilengkapi dengan kekauatan fisik, adu jotos. Kalau tidak, ya dengan meminta deking orang kuat.

Baca Juga: Isu dan Iklan

Sebenarnya, peristiwa itu tak banyak beda dengan contoh-contoh di atas. Hanya saja masyarakat merasakan “pahit” untuk menelan kenyataan bahwa para advokat, yang notabene sarjana hukum, melakukan itu. Sebab, kepada mereka harapan besar untuk tegaknya hukum digantungkan, agar Indonesia tak jadi rimba ganas.

Tapi mereka, yang dibangku kuliah diajari tentang norma, aturan, hukum – dari mulai terbentuknya bahkan sampai bagaimana menegakkannya – justru “mencampakkan” semua norma yang ada. Mereka, yang mempelajari filsafat, etika, dan juga Pancasila ternyata memilih adu fisik dibanding argumentasi.

Tragedi Horison tak hanya tragedi advokat, tapi juga tragedi  bangsa dan negara. Memang tepat ucapan Menteri Moerdiono: “Memalukan”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here