Pendidikan budi-pekerti
Ki Hajar Dewantara bersama Soekarno. Sumber: PUSARA, Djanuari 1957.

Pendidikan budi-pekerti – Kepanduan adalah usaha pendidikan, berasal dari Dunia-Barat jang tjukup penting untuk dimasukkan kedalam sistim pendidikan nasional kita di Indonesia. Dalam memasukkan unsur2 kepanduan kedalam alam kebudajaan kita itu, seharusnjalah hanja inti-sari dan garis2– besarnja jang kita pentingkan, sedangkan isi dan irama atau tjara melaksanakannja harus bangsa kita sendirilah jang mewujudkan serta menjesuaikannja dengan segala kepentingan nasional kita, baik kulturil maupun sosial.

  1. Kepanduan itu sungguhpun tertjipta oleh seorang Barat, pemimpin ketentaraan, Lord Baden-Powell of Gilwell, pula lahir didalam djaman dan alam peperangan, timbul dari segala pengalaman jang amat banjak dan amat penting dari si-pentjipta sebagai pemimpin perang, pemimpin sistim penjelidikan dan pentjarian djalan (verkennen), namun diluar dan tudjuan Badden Powell, seluruh masjarakat dan kaum pendidik di Dunia-Barat, sekarang diseluruh Dunia menerima usaha Kepanduan itu setjara keseluruhan sebagai sistim pendidikan budi-pekerti diluar waktu dan halaman sekolah.
  2. Jang paling penting dalam sistim Kepanduan sebagai  pendidikan budi-pekerti ialah: melepaskan anak2 dari belenggu ,,Intellektualisme” dan ,,Individualisme” serta membiasakan anak2 untuk hidup bebas dan merdeka setjara teratur. Selain itu Kepanduan selalu membawa anak2 kealam ,,demokrasi jang terpimpin” dan dalam suasana gembira.
  3. Tak boleh dilupakan pula, bahwa Kepanduan menghendaki terdjunnja para pemimpin kedalam dunia-kanak2 jang dipimpinja, sehingga disini terdapatlah tambahan penting dari apa jang terkenal sebagai ,,tut wuri andajani” dengan unsur baru, jaitu ,,mentjampuri andajani”.

Baca Juga : Pers Mencerdaskan Bangsa

Ketjerdasan djiwa dan kelantjaran djasmani

Pendidikan budi-pekerti pada umumnja bermaksud menuntun anak2, lebih tepat boleh disebut membantu perkembangan ketjerdasan djiwa dan kelantjaran djasmani dengan matjam2 djalan jaitu:

  1. memberi tjontoh dan membiasakan anak2 untuk berbuat segala apa jang baik menurut kesusilaan manusia;
  2. mengadjarkan ilmu pengetahuan dan ketjakapan2 jang perlu untuk melaksanakan segala kewadjiban hidup lahir dan batin;
  3. memberi latihan2 jang perlu2 untuk itu dan
  4. menudju kearah kesempurnaan

Inilah yang dalam sistim pendidikan Islam berturut-turut disebut: sjari’at, tarikat, hakikatdan ma’rifat.

Dipandang dari sudut itu maka njatalah, bahwa sifat, bentuk, isi dan irama usaha Kepanduan, dengan latihan2nja, sjaratnja, kewadjiban2nja dan lain2 sebagainja boleh dianggap menetapi segala apa jang diperlukan untuk pembentukan budi-pekerti.

Baca Juga : Playboy Interview: George Aditjondro

Sumber: PUSARA, Madjalah Persatuan Taman Siswa, Djanuari 1957.

Ingatlah sembojan ,,Bhineka Tunggal Ika”

Kalau kita telah memahami segala jang tersebut diatas tadi, maka bagi kita tinggal menginsjafi dan menjadari sjarat jang terachir, jaitu menjesuaikan seluruh usaha Kepanduan tadi, lebih2 ,,gerakan” Kepanduan, dengan segala kepentingan hidup dan penghidupan rakjat kita diseluruh Nusantara :

  1. Pada umumnja djanganlah mengadjar ,,kesatuan” dalam hal-hal jang tidak dapat atau tidak perlu disatukan. Ini berarti bahwa hanja dalam sjarat2 jang penting2 harus ada kesatuan bentuk, isi dan irama diberbagai daerah2 kepulauan Indonesia. Berikanlah kebebasan seluas-luasnja kepada tiap2 Organisasi Kepanduan diseluruh kepulauan kita, untuk mewudjudkan djiwa-Kepanduannja sesuai dengan kepentingan2 lahir dan batin didaerahnja masing2; Ingatlah sembojan ,,Bhineka Tunggal Ika”.
  2. Tjarilah bahan2 untuk latihan2 Kepanduan dari segala jang ada atau pernah ada didalam dunia-kanak2 dan pemuda-pemudi kita di-desa2 dan kampung2 diseluruh Nusantara, jang dapat dipakai untuk maksud Kepanduan.
  3. Peladjarkanlah kepada para Pandu segala kepentingan jang bertalian dengan hidup kebudajaan, keagamaan, kenegaraan, kemasjarakatan dan lain2 sebagainja, jang dapat mempengaruhi berkembangnja djiwa kebangsaan dengan melalui azas ,,Tri-kon” jaitu Kontinu atau bersambung-sambung dengan alamnja sendiri, lalu Konvergen atau menudju kearah kesatuan perikemanusiaan dan achirnja Konsentris, ja’ni mendjaga supaja didalam kesatuan manusia itu, bangsa kita bertitik pusat satu dalam lingkaran2 jang ,,kontris”, namun memiliki garis-lingkaran sendiri, ja’ni ,,Kepribadian”-nja.

Baca Juga : Sebuah Nama untuk Negeri Merdeka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here