ekstrim
Mahbub Djunaidi Menulis Esai Berjudul "Besan yang Ekstrim". Tulisan itu dimuat TEMPO 25 APRIL 1981.

Ekstrim – FIRRY sudah cukup umur dan berniat persunting Rahmatingsih. Sampai di sini tidak ada yang luar biasa, karena keduanya suka sama suka. Kesulitan mulai timbul ketika ayah Firry dihujani gunjingan tetangga supaya niatan itu sebaiknya dibatalkan saja.

Kenapa? Karena menurut para tetangga itu berarti dia akan berbesan dengan seorang yang ekstrim.

Ekstrim? Binatang apa itu? Sebagai tengkulak sayur mayur menahun – tak punya pengetahuan lain dari pada sayuran – gunjingan itu masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Yang pokok kepentingan sang anak, status orang tua tak lebih dari figuran.

Saat melamar tiba, datanglah dia ke rumah ayah Rahmatingsih membicarakan yang perlu sesuai dengan peradaban. Ucapan pertama yang keluar dari mulut calon besannya adalah dia membenci segala macam sayuran karena sayuran hanya layak buat mulut seekor kambing. Ikan, segalah jenis ikanlah makanan saya, tidak kecuali ikan hiu dan piranha, kalau ada.

Tahu konsekuensi bangsa maritim? Tahu Restorasi Meiji tentang tekanan perubahaan menu kepada protein laut? Tahu ajaran Jain tuntunan Mahavira yang enggan makan makhluk bernyawa, orang-orang  goblok itu?

Sampeyan boleh jual sayur, tapi makanlah binatang. Kalau tidak, kita yang bakal dimakannya. Pilihan mudah, bukan?

Baca Juga: ‘Islam Kiri’ Warisan Nasser

Tanpa kesulitan yang berarti prinsip-prinsip diterima. Soal waktu terserah kapan saja, sekarang boleh, sore nanti boleh, tahun muka juga boleh. Hanya saja ada patokan dasar yang diajukan sang besan: sesudah akad berlangsung menantu pria suka tidak suka mesti makan ikan melulu, boleh dimulai dengan jenis ikan-ikan kecil dulu, misalnya teri.

Dari situ kultur akan berkembang dengan sendirinya ke cabang dan rantingnya. Dan tidak perlu sebar undangan sebagaimana lazimnya, cukup pasang spanduk di jalan-jalan, slide di bioskop, dan poster-poster.

Mendengar ini tahulah orang tua Firry bahwa dia sedang berhadapan dengan orang yang kurang beres. Rupanya inilah yang disebut para tetangga ekstrim itu.

Pesta Berlangsung

Tanpa huru-hara, kecuali keganjilan. Berhubung sang besan di masa muda seorang pemain bola kesohor, baik dia sendiri maupun tamu undangannya semua bersepatu dan berkaus kaki bola walau busana atasnya aneka macam. Suara berderak-derak memenuhi ruang dan pemandangan pesta berubah seperti sebuah stadion.

Pengantin pria terlongo-longo, pucat pasi,  dan ingusnya meleleh tak berkeputusan. Rasanya seperti dia dijebloskan ke gua setan dan hanya Tuhan yang tahu pabila dia bisa lolos dari sana.

Hidangan, sesuai dengen perundingan, sudah barang tentu terdiri dari bangsa ikan melulu, paling jauh kerabat dekatnya marga udang. Sepintas lalu meja hidangan tampak seperti dikeroyok sejumlah kucing.

Baca Juga: Vonis yang Menyingkap Borok

Apabila yang disebut ekstrim hanya sampai batas sebegitu, tak apalah pikir orang tua Firry. Yang penting  Rahmatingsih sudah dipersunting, dara luwes tak bertolok banding, trampil dan siap turba sampai-sampi genting bocor digantinya sendiri. Kalau saja tidak mempertimbangkan jarak waktu, tak bisa tidak Rahmatingsih pastilah murid kesayangan langsung Dewi Sartika.

Di sinilah kiranya letak puncak kebahagiaan si orang tua walau bukan dia sendiri yang kawin dan walau nasib awak tak layak ditonjolkan berhubung ibunya anak-anak yang mendampinginya puluhan tahun senantiasa menimbulkan suara hingar binger sebagaimana adat seorang kenek.

ekstrim
Mahbub Djunaidi Menulis Esai Berjudul “Besan yang Ekstrim”. Tulisan itu dimuat TEMPO 25 APRIL 1981.

Dua Bulan Berlalu

Empat bulan berlalu, Enam bulan berlalu. Saat inilah keseriusan mulai menghantui. Firry suatu malam pulang ke rumah orang tuanya lewat jendela.

Di atas sofa mula-mula dia meraung-raung, kemudian terbahak-bahak, kemudian bergulingan di ubin. Jin apa yang sudah membuatmu jadi begini, anakku sayang? tanya sang ayah.

Pokoknya perkawinan harus putus pada detik ini juga. Mulai dari orang tua Rahmatingsih ke atas sudah pasti berasal dari planet lain. Dia perintahkan saya bernapas sepenuhnya lewat mulut bukannya hidung sehingga tak ubahnya saya ini seekor katak.

Baca Juga: Lidah Presiden di Antara Dua Jenderal

Tiap pagi disuruhnya saya jalan mundur paling sedikit lima belas menit sehingga memancing tawa orang kampung. Lebih dahsyat dari itu saya dapat perintah mencium tanga pegawai negeri di mana saja ketemu dan tak peduli apa pangkatnya dan tak peduli ada keperluan atau tidak.

Rahmatingsiku yang baik menganggap ini sekedar lelucon saja yang tak perlu jadi pikiran. Tapi buatku sendiri, lelucon atau atau bukan lelucon, akibatnya sama saja. Sekali waktu timbul keinginan mencekik leher mertua sampai lidahnya terjulur, tapi keberanian saya tak sampa ke situ.

Begitu pula tak ada keberanian mencekik leher saya sendiri karena perbuatan ini hanya akan meresahkan masyarakat seputar. Satu-satunya jalan tersedia adalah datang kembali ke rumah sendiri dan menjalani hidup menurut aturan-aturan yang lazim. Akan halnya Ratnaningsih intan baiduri itu, semoga Allah pada saatnya akan menyediakan taman firdaus di surga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here