Produksi Pangan
Mohd. Tohir Mangkudidjojo, penulis esai berjudul Beberapa hal mengenai usaha meningkatkan produksi pangan, yang terbit tahun 1965.

Produksi Pangan – Dalam surat-kabar sering kali kita membatja berita, bahwa gerakan pembasmian hama disesuatu daerah tertentu di Djawa telah berhasil mengganjang sekian puluh atau sekian ratus ribu ekor tikus.

Petugas jg. bersangkutan di daerah tsb. Menjiarkan berita itu dengan rasa bangga, karena usahanja telah memberikan hasil jang memuaskan. Memang djika dilihat dari banjaknya ekor tikus jang terbunuh orang mempunjai alasan untuk bergembira, sebab djika tikus2 sebanjak itu tidak terbasmi pastilah akan menimbulkan bahaja kelaparan.

Tetapi djika kita perhatikan lebih djauh, maka bukanlah kebanggaan jang harus memenuhi dada kita, karena terbasminja sekian banjak ekor tikus, bahkan kesedihan. Betapa tidak! Sebab bertambah banjak tikus jg. terbasmi, bertambah banjak luas sawah jang telah diganjang oleh tikus itu, bukan?

Membinasakan Hama, Supaja Produksi Pangan Tidak Mengetjewakan

Oleh karena itu kebanggan karena telah berhasil membinasakan sedjumlah besar ekor tikus adalah tidak beralasan sama sekali. Bahkan ini menundjukkan  bukti, bahwa petugas didaerah itu dan para petani jang berkepentingan telah terlambat mengambil tindakan, telah lalai, sehingga menimbulkan kerugian jang tidak sedikit baik bagi para petani itu sendiri maupun bagi pemerintah.

Berhubung dengan itu maka para petugas jang harus mendapat pudjian, bukanlah mereka jang telah berhasil membasmi tikus banjak, tetapi sebaliknja mereka jang hanja berhasil dapat menangkap tikus sedikit dengan hasil panen jg. tidak mengetjewakan, karena jang tersebut belakangan inilah djustru jang lebih radjin, bertindak lebih tjepat, tidak memberikan kesempatan lebih lama bagi sang tikus meradjalela di sawah.

Baca Juga: Episode Dari Sebuah Pemberontakan

Hal jang tersebut di atas bukan saja mengenai tikus, tetapi djuga mengenai hama lainja. Sudah menjadi kebiasaan di-desa, bahwa djika dalam satu tahun panen memberikan hasil jang memuaskan, maka ditahun berikutnja kita mendjadi lengah, kurang menaruh perhatian, bahkan kadang kita menjadi atjuh ta’ atjuh, se-olah tidak akan timbul lagi bahaja yang disebabkan oleh hama.

Kebiasaan ini hendaklah dihilangkan dan diganti dengan kebiasaan selalu waspada, sehingga pembasmian hama didjalankan setjara KONTINU, teratur dan terus-menerus.

Tidak bosan membasmi hama adalah salah satu dari “PANTJA USAHA” jang harus dilaksanakan, terutama karena kita mulai tahun 1965 sudah harus dapat “BERDIRI DI ATAS KAKI KITA SENDIRI”  dalam hal pangan.

Tahun 1965, Surplus Produksi Pangan di Sulawesi Selatan

Berkat kegiatan Rakjat Sulawesi Selatan dibawah pimpinan gubernur kepala daerahnja bersama STAF dan pedjabat di daerahnja, maka mulai tahun 1965 Sulsel. menundjukkan SURPLUS produksi padi, sehingga Daerah tersebut dapat membantu lain2 daerah.

Ini adalah suatu hal jang menggembirakan sekali dizaman sekarang ini. Dan kami pertjaja sesuda matinja pemimpin gerombolan KAHAR MUZAKAR, bukan sadja Sulawesi Selatan, tetapu djuga Sulawesi Tenggara dan Tengah, karena telah pulihnja keamanan, akan menghasilkan padi me-limpah2.

Dalam hubungan ini barangkali ada baiknja kami kemukakan, bahwa Sulawesi Selatan ada satu daerah jang patut diperhatikan, jaitu daerah TANA TORADJA, dimana rakjatnja masih kokoh mendjalankan agama dan adat-istiadatnja.

Disamping kami kagumi keradjinan jang luar biasa dari penduduk daerah ini dan tjara hidupnya jang amat sederhana, jang didasarkan pada kepertjajaannja, ada hal jang kiranja baik untuk mendjadi pertimbangan Pemerintah Daerah setempat untuk menambah kemadjuan pertanian setempat.

Didaerah Tana Tonaradja djika ada seseorang terkemuka meninggal dunia, maka dilakukanlah pendjagaan djenazah kadang sampai lama sekali – ber-bulan atau setahun – SIANG dan MALAM, sebelum djenazah itu dimasukkan kedalam lubang kubur.

Baca Juga: Isu dan Iklan

TRADISI jang menundjukkan kokohnja persatuan diantara sanak-keluarga jg. seindah itu mempunjai segi negatifnja, ialah terbuangnja waktu bagi tenaga2 tidak produktif buat tempo jang terlalu lama.

Selain daripada itu pada pesta mati dipotonglah tidak sedikit kerbau, kadang sampai ber-puluh, ja bahkan sampai seratus ekor sekaligus, tergantung kedudukannja orang jang meninggal itu. Bertambah banjak kerbau dipotong dan di-bagikan dagingnja dengan pertjuma, bertambah megahlah kedudukan keluarga simati dalam pandangan masjarakat.

Jang demikian ini bagi daerahpertanian seperti TANA TORADJA dapat menghambat kelantjaran penggarapan sawah. Djika misalnja sekaligus dipotong 50 ekor kerbau – dan jang dipotong untuk keperluan itu adalah hanja kerbau jang bagus dan kuat belaka – ini berarti sudah mengurangi tenaga membadjak sawah ber-puluh H.A. sawah.

Berhubung dengan itu apakah tidak lebih baik djika D.P.R.D. setempat  (Tk.I atau Tk. II) membuat suatu peraturan jang membatasi lamanja pendjagaan djenazah dan pemotongan kerbauitu, misalnja pendjagaan djenazah paling lama satu bulan dan pemotongan kerbau dalam pesta mati paling banjak 10 ekor.

Produksi Pangan
Mohd. Tohir Mangkudidjojo, penulis esai berjudul Beberapa hal mengenai usaha meningkatkan produksi pangan, yang terbit tahun 1965.

Ini hanja sebagai misal. Jang penting ialah adat istiadat dan pelaksanaan dari suatu kepertjajaan harus disesuaikan dengan irama REVOLUSI kita, dan agar produksi pangan Negeri kita bertambah banjak, sehingga kita sungguh dapat tidak tergantung lagi pada luar negeri.

Sebagai tjontoh dapat dikemukakan misalnja menurut agama Hindu seorang djanda harus turut mati dengan djalan mendjatuhkan dirinya dalam api jang membakar majat suaminja.

Ternjata TRADISI ini dapat dihentikan sama sekali. Banjak lagi tjontoh jang menundjukkan, bahwa pelaksanaan suatau kepertjajaan dapat berobah sesuai dengan kehendak zaman.

Oleh karena itu D.P.R.D. setempat di Sulawesi Selatan mungkin sekali dapat mengusahakan pembatasan tersebut diatas dengan membuat peraturan Daerah, disamping sudah tentu dengan disertai indoktrinasi se-dalamnja kepada penduduk jang berkepentingan, agar djangan sampai timbul salah mengerti.

Petani Wanita Sumatera Utara  Meningkatkan Produksi Pangan

Sekarang mari kita pindah Sumatera Utara. Sewaktu kami pada kira dua tahun jang lalu turut dalam rombongan JANG MULIA MENTERI DALAM NEGERI jg. lama menindjau beberapa daerah di SUMATERA, diantaranja Tanah Batak, tampak dikanan-kiri djalan jang kami lalui sawah jg. sedang ditjangkol oleh wanita, bahkan diantara mereka ada jang sudah hamil besar.

Dalam malam pertemuan jang amat meriah untuk menjambut kedatanga Menteri ada seorang Biduanita jang menjanjikan lagu dalam bahasa daerah, jang orang sampaikan artinja kepada kami, antara lain bahwa itu adalah SINDIRAN kepada kaum pria disana, jang masih suka ber-malas-an, tidak giat bekerdja disawah.

Baca Juga:Tentang Pemukiman

Kami pertjaja bahwa keadaan seperti ini sekarang sudah banjak berobah. Dalam buku: “SARINAH” BUNG KARNO, Pemimpin Besar Revolusi kita, telah mensitir perkataan seorang ETNOLOG: “Feitelijk is het de vrouw, die den man onderhoudt; een Batak, die trouwt, is voor de toekomst geborgen”. (sebenarnja, perempuanlah jang memberi makan kepada laki; seorang Batak jang kawin, terpeliharalah hidupnja buat seterusnja).

Kepintjangan seperti itu nistjaja telah dan akan tetap dibrantas oleh Pemimpin Rakjat didaerah itu, jang insjaf, bahwa wanita adalah sederadjat dengan pria membanting-tulang di sawah untuk meningkatkan produksi pangan.

Revolusi Indonesia bukanlah hanja Revolusi Politik sadja, tetapi Revolusi dalam segala bidang, djuga dalam bidang peningkatan produksi pangan, apalagi sekarang setelah adanja KOMANDO PEMIMPIN BESAR REVOLUSI kita “BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here