Ganis Harsono
Sumber: TEMPO. 11 Januari 1986. Hal: 55

Ganis Harsono – Apakah yang harus dilakukan oleh seorang bekas atase pers, yang “telanjur” mempunyai banyak kenalan di kalangan wartawan asing, ketika tiba-tiba peristiwa penting terjadi, sedangkan pejabat yang berwenang memberi keterangan tak bisa dihubungi?

Judul: Cakrawala Politik Era Sukarno

Oleh : Ganis Harsono

Penerbit : Inti Idayu Press, Jakarta, 1985, 216 Halaman.

Inilah yang dialami Ganis Harsono di waktu proklamasi PRRI di umumkan. Maka, dalam keadaan terdesak itu, ia terpaksa berlagak dengan mengatakan, “pemerintah menganggap Proklamasi PRRI itu sebagai petulangan yang keliru arah”.

Pernyataan itu biasa saja. Apalagi yang bisa dikatakan seorang pejabat ketika tantangan terhadap pemerintah telah diajukan? Tetapi, kata Ganis, inilah awal dari segalanya yang menyebabkan ia terlempar ke “lingkungan dalam” rezim Demokrasi Terpimpin. Maka, mulai dari jabatan sebagai juru bicara Departemen Luar Negeri, Ganis Harsono akhirnya mencapai puncak karier sebagai Deputi Menteri Luar Negeri.

Deputi Menteri Luar Negeri yang Pernah Dipenjarakan Orde Baru

Karena kedudukan yang cukup strategis itu pula ia kemudian dianggap bersalah dalam berbagai kebijaksanaan politik, yang menyebabkan Indonesia terjerumus ke dalam krisis sosial-politik yang cukup parah.

Ia dipenjarakan oleh pemerintah Orde Baru dan, tanpa proses pengadilan apa pun, akhirnya dibebaskan. Ketika beberapa tahun kemudian ia menulis buku ini, yang mula-mula diterbitkan dalam bahasa Inggris (1977), kepahitan dan kegetiran sebagai orang yang merasa dikhianati dan dianiaya sudah menipis, tetapi keyakinan akan ketepatan arah politik luar negeri yang ditempuh di zaman Bung Karno tetap kuat (halaman 183-184).

Baca Juga: Orang-orang Eksklusif

Tetapi biarkanlah sikap subyektif ini bertahan. Jangankan seorang diplomat atau pejabat, sedangkan seorang ilmuwan sering tak sanggup membendung subyektivismenya.

Tentu tersembul juga pertanyan: Apakah peristiwa faktual dan keterangan yang bisa diberikan oleh seseorang yang terlibat langsung dalam berbagai proses perumusan dan pelaksanaan politik di era Bung Karno? Maka, kita akan segera menemukan sifat ganda buku ini.

Bercerita tentang Kenangan Pribadi dan Situasi Kenegaraan

Pertama, buku ini cukup  bercorak “kenangan” dari penulisnya. Ganis Harsono bercerita tentang masa awal kariernya sebagai diplomat muda. Ah, betapa menjengkelkan terasa, ketika Duta Besar Dr. Subandrio, dengan mengejek, menunjukkan kekurangan Ganis: “Sayang, saudara bukan sarjana”.

Kemudian kita diperkenalkan dengan seoran tokoh Inggris yang diberinya julukan “Paddington Playboy”. Dan kita pun terasa ikut mengela napas, “Ah, kalau…..”. Seandainya “info” yang diberikan Paddington Playboy ini digubris, siapa tahu pada pertengahan 1950-an kita telah akan bisa memberi dampak positif dalam politik internasional, ketika konflik Suez sedang dipuncak yang paling kritis.

Perstiwa yang cukup menarik juga ialah kejengkelan Ganis Harsono ketika ia, sebagai anggota delegasi Indonesia ke Beijing, mengadakan perundingan dengan delegasi RRC yang hanya mau menang sendiri. Episode ini secara sugestif memperlihatkan betapa semunya “persahabatan diplomatik” Indonesia-RRC.

Kedua, kisah yang disampaikannya tentang situasi kenegaraan. Dalam hal inilah sesungguhnya kita bisa berharap ia memberikan kenangan pribadi yang bercorak “sumber orang dalam”.

Ganis Harsono
Sumber: TEMPO. 11 Januari 1986. Hal: 55

Sayang ia kurang berhasil. Ataukah ia sesungguhnya berada di luar segala hal yang dibicarakannya, sehingga tugasnya hanyalah sekedar mengingatkan kita yang mungkin telah lupa atau belum tahu?

Kalau demikian, penilaian yang harus diberikan pada buku ini haruslah berdasarkan pada ukuran yang biasa diberikan terhadap usaha penulisan sejarah politik kontemporer biasa.

Memberikan Fakta-Fakta Masa Soekarno

Dengan memakai ukuran itu, sumbangan buku ini terutama terletak pada konfirmasi atas berbagai fakta yang telah lama diketahui – tentang usaha Bung Karno mengadakan keseimbangan antara ABRI (Nasution) dan PKI (Aidit), kemudian kecenderungan Bung Karno pada Nyoto, dengan menjauhi Aidit, dan sebagainya. Tetapi, bukankah konfirmasi fakta berarti peneguhan pengetahuan?

Hanya saja, ketika membaca buku ini timbul juga penyesalan. Mengapa Ganis Harsono harus mencoba-coba jadi “Sarjana”, padahal ia mungkin mempunyai perbendaharaan pengetahuan yang lebih intim tentang era Soekarno?

Baca Juga: Pergumulan Kaum Hijau

Usahanya untuk memberi keterangan terhadap berbagai dinamika politik intern, yang memberi pantulan jalan perumusan politik luar negeri, dengan sendirinya haruslah diukur dari sudut “ilmiah” ini.

Bentuk teoritis yang diperkenalkannya tentang lima lapisan piramida kepemimpinan Indonesia memang menarik, tetapi tak bisa menangkap berbagai dinamika politik yang terjadi.

Maka, persyaratan pertama dari pembentukan teori telah mengalami kemacetan. Buku yang mungkin akan bagus ini telah agak tersia-sia jadinya. Tetapi, seperti halnya ketika Ganis Harsono masih muda, ia telah memilih. Dan pilihan ini adalah haknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here