Prabowo

Prabowo – Dalam sistem yang executive heavy seperti Indonesia, berita tentang presiden biasanya merupakan berita rutin yang membosankan. Terlebih-lebih jika presiden yang berkuasa adalah seorang yang sangat hemat menampilkan ekspresi yang bersifat informal, seperti Soeharto.

Kemunculan Habibie sedikit mengubah kebosanan semacam itu. Berita tentang presiden yang biasanya monoton, rutin, dan sering tidak menarik, selama kekuasaan Habibie sedikit berubah. Berkali-kali publik dikejutkan oleh pernyataan atau langkah Habibie yang keluar dari kelaziman ala pendahulunya.

Pekan lalu, sebuah pernyataan semacam itu dibuat Habibie dalam pertemuan dengan editor media massa asing. Habibie mengungkapkan adanya pengkonsentrasian pasukan Kostrad oleh Letjen TNI Prabowo Subianto di sekitar rumahnya pada saat peralihan kekuasaan dari Soeharto ke Habibie.

Habibie pun mengakui bahwa informasi itu bersumber dari Jenderal Wiranto. Publik pun terkejut lantaran tidak lazim seorang presiden di negeri misterius seperti Indonesia mengungkapkan stok informasi eksklusif semacam itu.

Dalam konteks politik apakah pernyataan Habibie itu harus kita letakkan? Apa motif dibaliknya? Apa yang bisa kita refleksikan dari “insiden” ini?

Ada beberapa kemungkinan konteks politik yang melatari pernyataan Habibie soal konsentrasi pasukan Prabowo itu.

Pertama

Habibie membuat pernyataan itu secara spontan tanpa mempertimbangkan secara matang implikasi politiknya yang luas dan dalam. Ini mungkin saja terjadi mengingat Habibie kerap kali lebih senang memanjakan spontanitas – ekspresifnya ketimbang mengikuti keharusan formal-protokoler. Dalam karakternya inilah Habibie kerapkali  slip of tongue.

Kedua

Pernyataan itu dengan senagaja dibuat Habibie untuk menunjukkan bahwa perjalanannya menuju kursi presiden tidak semudah yang dibayangkan orang. Dengan pernyataan itu Habibie ingin menunjukkan bahwa kursi kepresidenan yang didudukinya bukanlah hadiah yang ia peroleh secara benar-benar gratis dari Soeharto –bahkan menantu Soeharto pun potensial menentangnya.

Ketiga

Dengan menunjukkan kepada publik stok informasi eksklusif yang dimilikinya disekitar peristiwa transisi kekuasaan, Habibie justru ingin mengkonfirmasikaan melalui publik kredibilitas informasi itu. Dan lantaran informasi itu bersumber dari Wiranto, maka Habibie dengan sengaja memposisikan Wiranto sebagai sumber informasinya dalam posisi terpojok.

Baca Juga: Militer dan Politik di Indonesia, Sebuah Buku yang Mengguncangkan

Sebelum ada klarifikasi tuntas, pernyataan Habibie yang seolah-olah memojokkan Prabowo itu justru memojokkan Wiranto, sebab menjadi jelas bagi publik bahwa Wiranto ternyata memposisikan diri sebagai seteru Prabowo ketika menjalankan peranannya di seputar transisi kekuasaan dari Soeharto ke Habibie.

Keempat

Habibie dan Wiranto ada dalam posisi persekutuan yang sudah sangat kuat, dan pernyataan Habibie merupakan serangan yang mereka buat untuk memojokkan Prabowo sebagai (mantan) seteru Wiranto. Kemungkinan ini hanya bisa dibayangkan manakala Habibie pun sudah memposisikan diri bersebarangan dengan Prabowo (dan kelompoknya).

Saya lebih percaya pada kemungkinan pertama dan kedua. Pernyataan Habibie lebih merupakan sebuah ekspresi spontan. Ekspresi spontan itu tampkanya dilatari oleh keinginan Habibie untuk menunjukkan betapa dramatis dan tidak mudah sebetulnya transisi kekuasaan dari Soeharto ke Habibie. Habibie boleh jadi ingin menunjukkan rasa syukur bahwa ia bisa melewati fase krusial itu.

Dalam kerangka itu, pernyataan Habibie – atas dasar informasi dari Wiranto – soal adanya konsentrasi pasukan Prabowo, lebih merupakan insiden politik yang menghadirkan tiga pelaku penting: Lidah Presiden Habibie, Jenderal Wiranto, dan Jenderal Prabowo. Sebua insiden lidah presiden di antara dua jenderal.

Baca Juga: Selamatkan Mereka Pak Wiranto

Habibie sendiri tampaknya tidak sadar implikasi politik luas dan dalam yang bisa didatangkan oleh pernyataan itu. Jika benar demikian, maka insiden pernyataan konsentrasi pasukan Prabowo sebetulnya mengkonfirmasikan penilaian orang selama in bahwa Habibie naïf secara politik.

Prabowo
Foto Prabowo dan Wiranto. Sumber: Tabloid ADIL.

Dalam kerangka itu, ada dua sisi kesimpulan yang mungkin dibuat orang. Dari sisi pertama, Habibie akan dianggap sebagai orang yang sebetulnya tidak siap menjadi Presiden  yang mengemban posisi politik sangat menentukan dan sensitif; terlebih di tengah-tengah situasi transisi yang penuh ketidakpastian seperti sekarang ini.

Habibie hanya cocok menjadi presiden di tengah Indonesia yang sudah normal, ketika segenap infrastruktur demokrasi – termasuk mekanisme poltik yang transparan – sudah terbentuk. Dari sisi ini ekspresi spontan Habibie (termasuk emosionalitasnya yang kerap muncul dalam konteks itu) adalah sebuah masalah.

Asumsinya: publik lebih terbiasa dengan presiden yang pelit ekspresi dan informasi-sisi-dalam, ketimbang presiden yang ekspresi dan boros informasi-sisi-dalam. Bisa diduga bahwa penilaian  semacam ini cenderung didukung oleh mereka yang terbiasa dengan cara kerja sistem politik lama, termasuk para pembantu Habibie warisan orde lama.

Di sisi kedua, kenaifan politik  Habibie itu bisa juga dinilai sebagai sesuatu yang positif. Bahwa menuju masyarakat Indonesia baru memang membutuhkan seorang presiden yang terbuka dan melakukan transparasi semua informasi pentng kepada publik. Dilihat dari sisi ini, kerapnya Habibie slip of tongue merupakan sebua berkah yang tidak sengaja.

Tiga Tokoh yang Harus Memberikan Klarifikasi Saat Transisi Soeharto-Habibie

Dari sisi mana pun kita membuat kesimpulan atas  insiden pernyataan Habibie, ada sebuah kebutuhan implikatif dan amat mendesak yang tersedia saat ini. Habibie, Wiranto, dan Prabowo perlu melakukan klarifikasi secara jelas mengenai saat-saat menegangkan dalam transisi kekuasaan Soaharto ke Habibie.

Klarifikasi itu bahkan harus dilanjutkan ke pihak-pihak yang terkait, seperti Pangdam Jaya, Kapolda, Komandan Marinir, KSAD, dan Danjen Kopassus  (yang menjabat waktu itu), serta para prajurit dan kesatuan kopassus, Kostrad, dan Marinir yang betugas di lapangan waktu itu.

Baca Juga: Prabowo Tamat

Tujuan terpenting dari klarifikasi ini adalah membuat penjelasan sejarah peralihan kekuasaan Soeharto-Habibie seterang mungkin. Sejauh ini memang sudah beredar versi-versi jurnaslitik tentang peralihan kekuasaan itu, namun belim ada satu pun yang sudah memiliki kredibilitas akademis.

Langkah penjelasan sejarah semacam itu harus dilakukan untuk menghindari kembali di monopolinya sejarah oleh “para pemenang”. Kita punya tugas penting untuk mengakhiri kekeliruan penyusunan sejarah di masa Orde Baru ketika berjilid-jilid buku sejarah disusun dan diedarkan ke tengah publik berdasarkan penuturan sepihak penguasa. Dan Soeharto lalu menyita sangat banyak halamannya sebagai pemeran utama heroik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here