Ibarruri Putra Alam Aidit
Ibarruri (kedua dari kiri) bersama DN Aidit (Tengah) dan adik-adik Ibarruri yang masih kecil. Sumber: Playboy.

Ibarruri Putri Alam Aidit – Terhempas dari negeri sendiri karena mewarisi nama besar yang dikutuk Orde Baru.

Jogjakarta rasanya lebih dingin dari biasanya. Sisa-sisa bangunan hancur akibat gempa masih terlihat jelas. Iba sesekali menjepret beberapa objek, tak terkecuali anak-anak yang sedang bernyanyi riang. Dia juga akhirnya ikut bernyanyi.

Relawan-relawan muda samin (sekretariat anak merdeka Indonesia) hilir-mudik di sekitar iba. Beberapa di antara mereka merokok dan menum kopi sekedar melepas lelah. Malam terus larut, meninggalkan senja sore.

Iba juga melepas lelah. Di ruang kamar depan, dia terdiam dalam keheningan. Dia memaksa  tangannya untuk mengetik di komputer jinjingnya. Menulis kisah lawatannya di Indonesia. Pun tentang kenangannya.

Bertemu Sumaun Utomo di Semarang

Kami baru saja dari Semarang, salah satu kota tempat sebagian kenangan selalu mengusik iba. Masih segar dalam ingatan, iba diantar adiknya, Ilham, saat memasuki stasiun keretaapi Bandung. Cahaya lampu cukup untuk menerangi gelap malam. Iba menggendong tas. Iba berbadan gemuk. Rambutnya pendek. Dua koper jinjing penuh buku di tangan kanan-kirinya.

Di atas gerbong, Iba menggobrol santai dengan Ilham. Saat kereta hendak berangkat, Iba mencium kening Ilham. Petugas kereta api meniup peluit tanda keberangkatan. Ilham turun dan melambaikan tangan. Iba membalas. “Hati-hati, titip Iba, ya!, teriak Ilham pada saya.

Iba merebahkan badannya pada kursi gerbong. Udara dingin dari air conditioner di dalam gerbong merayap cepat. Iba menaikkan selimut, menarik kursi agak ke belakang, dan memasang bantal tipis di bawah kepalanya. Kereta melaju pelan.

“Saya belum makan,” kata Iba.

“Saya bawa makanan kecil, Roti dan keripik Jagung,” kata saya.

Iba mengambil roti pisang keju. Saya makan keripik jagung. Iba bercerita pengalaman naik kereta api di sana melesat hingga 400 kilometer per jam. Tapi ia juga suka kereta yang kami naiki. Nyaman dan bersih. Ia duduk dekat dengan kaca jendela. Berusaha melihat pemandangan keluar, namun di luar gelap.

Malam menuju pagi. Iba tertidur pulas. Keretaapi terus melaju hingga berhasil di stasiun Tawang, Semarang. Udara terasa hangat.

Sekitar pukul 05.15, taksi yang membawa kami berhenti di depan sebuah rumah di kawasan Candi Baru, di perbukitan kota Semarang. Dari situ bisa terlihat kawasan kota tua dan pelabuhan di Semarang.

Terik matahari tak terlalu menyengat di sini. Angin berhembus cukup kuat. Seekor anjing kecil berbulu gelap, menyalaki kami. Rumah asri banyak tanaman. Ruangan bersih. Sumaun Utomo mencium Iba.

Di ruang dapur, kami duduk di meja makan. Sarapan pagi yang enak. Nasi harum. Ada gudeg. Sayur kulit. Goreng ayam dan sambal. Utomo berusia kepala delapan. Orangnya hangat. Berbadan tinggi dan gagah. Rambutnya penuh uban. Di usianya yang sudah senja, ia masih menyibukkan diri bekerja sebagai ketua umum Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru. Biasa disingkat  LPR-KROB.

Iba sambil melahap gudeg mendengarkan penuturan Utomo. Dari peristiwa 65 pembuangannya ke Pulau Buru hingga melanjutkan kisah hidupnya. Utomo pernah aktif di Centarl Comite Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai sekretaris lembaga sejarah. Tugasnya membuat buku dan penerbitan soal PKI dan komunisme.

Baca Juga :  Aceh dan Manuver Gus Dur

Utomo alumni sekolah militer di Jepang di Surabaya tahun 1942. Dia mendapatkan pendidikan calon perwira penangkis udara. “Saya sudah memahami sejarah Uni Soviet, Manifesto Komunis dari buku-buku loak berbahasa Belanda,” kata Utomo pelan.

Utomo berkenalan dengan Dipa Nusantara Aidit di Jogjakarta. Saat itu, Aidit membantu penerbitan redaksi Bintang Merah, pertemuan itu tak jauh-jauh dari pembicaraan politik, mengkritik langkah Soekarno hingga menyusun perlawanan terhadapa Belanda. Utomo kemudian larut ke dalam gerakan bawah tanah partai.

Utomo senang dengan sejarah kotanya. Puluhan tahun silam, kota itu berbasis gerakan radikal melawan kolonialisme. Di sini, organisasi sosialis berdiri pertama kali dengan nama Perhimpunan Soaial-Demokrat Hindia di bawah pimpinan Henk Sneevliet dan Ir Adolf Baars. Mereka kemudian mendirikan Social Democratische Partij (SDP), perintis Partai Komunis.

Pada tahun 1911, berdiri SI (Sarekat Islam) dan berkembang dengan pesat. SI kemudian jadi organisasi terbesar. Saat SI besar, PKI pun besar di bawah Semaun dan Darsono. Sikap politiknya besar. PKI pula yang mendesain gerakan perlawanan buruh besar di maskapai kereta api milik Belanda secara besar-besaran. PKI semakin tangguh di bawah Tan Malaka, seorang ideolog.

“Gerakan komunis di Semarang cepat, karena di sini pusat eksploitasi jajahan dan himpitan eksploitasi,” kata Utomo.

Kota semarang menjadi kota penting bagi Belanda dengan pusat industri gula. Kekuasaan wilayah Timur masih dipegang Mangkunegara dari kerajaan Solo. Sedangkan di bagian selatan dikuasai pengusaha berketurunan Tiongkok, Ong Tiong Ham.

Belanda memperhatikan arsitektur kota Semarang. Mulai irigasi hingga ke pelabuhan. Namun semenjak pendudukan Jepang hinga ke tangan Indonesia, Semarang sebagai ibu kota provinsi Jawa Tengah tak terurus. Air laut meresap keluar dari badan jalan kota tua. Di musim hujan, banjir sering terjadi.

“Kereta api, pelabuhan, pabrik gula macet dan mati. Jepang hanya mengurusi kepentingan perangnya saja. Pemerintah Indonesia juga sama tidak mengurusnya lagi,” kata Utomo. Iba menyimak semuanya dengan tekun.

Ibarruri Putri Alam Aidit

Iba sapaan akrab buat ibarruri. Dia lahir di Jakarta, 23 November 1949. Dia anak sulung pasangan DN Aidit dan Soetanti. Nama lengkapnya Ibarruri Putri Alam Aidit.

Ibarruri bukan nama biasa. Ini nama besar bagi sejarah Spanyol dekade 1930-an. Ia adalah puteri seorang buruh tambang yang menjadi pemimpin gerakan buruh Spanyol. Ibarruri juga pemimpin gerakan komunis internasional dan pendiri Tentara Proletariat Spanyol. Putri Alam merupakan nama samaran Aidit ketika bergerilya melawan Belanda.

Aidit suka memberikan nama orang besar. Anak keduanya, juga seorang perempuan, dia namai Ilya, dari nama penulis Uni Soviet Ilya Erenburg. Bukunya menjadi bacaan wajib bagi kalangan intelektual revolusioner. Sekelas dengan karya-karya Ostrovski, Gorki, atau Boris Polewoi.

Baca Juga : Bandit-Bandit Nan Pejuang

Usia 9 tahun, Ibarruri bersama ibunya Soetanti berangkat ke Moskow. Soetanti hendak memperdalam ilmu kedokterannya. Pada 7 Oktober, 1958 mereka mendarat di Bandara Udara Sheremecevo. Udara dingin merayap cepat. Tak banyak warga Indonesia yang berada di  Uni Soviet. Kecuali yang hendak belajar di beberapa kampus terkenal di sana, seperti di Moskovski Gosudarstwennii Universtitet.

Ibarruri Putri Alam Aidit
Foto Ibarruri Putri Alam Aidit. Sumber: Majalah Playboy November 2006.

Hubungan Indonesia dan Uni Soviet begitu mesra. Uni Soviet, juga Ukraina, adalah dua negara pertama yang mendukung secara resmi keberadaan Republik Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ibarruri setelah tinggal selama satu bulan kemudian masuk “internat”. Ini adalah asrama bagi kalangan elit anak-anak diplomat komunis dan pegawai kedutaan Soviet di luar negeri. Di sini, Iba kemudian bertemu dengan anak-anak kader dari negara Sosialis atau Komunis, mulai daratan Eropa Barat hingga Vietnam Utara.

Di asrama Iba lantas terbiasa menyanyikan lagu-lagu perjuangan untuk membela kaum Revolusi Oktober. Melahap bacaan soal gagahnya gerilya Soviet melawan pasukan Hitler dan buku-buku astra klasik dunia. Favoritnya Spartacus karya Howard Fast. Spartacus adalah seorang budak Romawi yang menggalang pemberontakan melawan tuannya.

Mei 1965, Perayaan Ulang Tahun PKI ke 45 di Senayan

Iba juga mengikuti perayaan  Hari Buruh Internasional 1 Mei atau hari Revolusi Oktober yang jatuh pada 7 November. Sesekali Iba menghadiri pertemuan antara Partai Komunis Uni Soviet  (PKUS) dan PKI yang dipimpin ayahnya sendiri.

Dimata Aidit, sosok Stalin adala pemimpin besar yang berjasa memenangkan Perang Dunia II melawan Hitler. Ketika Stalin meninggal pada Desember 1953, Aidit bersama Nyoto menghadiri pemakamannya di Moskow. Mereka berdiri sebagai pengawal kehormatan.

Musim Panas, 22 Mei 1965. Iba dan Ilya bersama dengan PKUS tiba dikemayoran, Jakarta. Rombongan ini hendak megikuti perayaan ulang tahun PKI ke 45. Di senayan, dipajang lukisan Soekarno berukuran raksasa. Jauh lebih besar dari lukisan, Marx, Engels, Lenin, ataupun Stalin. Lukisan itu dikerjakan seniman yang tergabung dalam Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), organisasi mantel PKI.

Iba, yang barus saja berusia 16 tahun, larut dalam acara persiapan tersebut. Dia bersama pemuda rakyat membantu apa saja yang bisa dikerjakan. Mulai masak air untuk buat kopi dan teh hingga mencuci gelas-gelas yang dipakai saat rapat malam hari. Bermain voli, ikut pelatihan drama, hingga melihat pertandingan bersajak.

Ia semakin jatuh cinta pada tanahairnya sendiri ketika mulai berjalan bersama pamannya Murad Aidit dan kakeknya ke Bali. Gunung, budaya dan alam Bali membekas lekat dalam jatidiri Iba. Kelak dikemudian hari, Ibarruri masih merasa tetap masih menjadi anak Indonesia.

Baca Juga : Diciduk, Setelah Ketemu Sudomo

Iba bersama pemuda Rakyat ikut pawai merayakan 17 Agustus 1945. Usai menyimak pidato Soekarno di depan Istana Merdeka, barisan berangkat menuju kantor CC PKI di Jalan Kramat Raya 81. Di sana, ketua CC PKI Aidit akan memberikan pidatonya dalam rangka peringatan 17 Agustus.

Dalam pidatonya Aidit mengatakan akan ada ancaman teror putih ketiga lebih kejam dan besar dibandingkan teror putih pertama dan kedua. Teor putih istilah Aidit tentang serangan untuk menjatuhkan partainya. Teror putih atas PKI terjadi pada tahun 1926 dan yang kedua saat peristiwa Madiun tahun 1948. Namun, Aidit yakin partainya akan bangkit dan pulih dari luka-luka serangan itu.

Ancaman dari siapa? Mengapa? Teror apa?  Tak jelas betul. Iba terhenyak sesuai mendengar pidato ayahnya. Dia mendapt kesan Aidit semakin melemah. Tak banyak bicara. Sering memandanginya tanpa bicara.

Ibarruri Putri Alam Aidit
Poster perayaan ulang tahun PKI ke 45. Tampak gambar Ir. Soekarno bersanding dengan Karl Marx. Sumber: Historia.id

“Apa kesan kalian selama liburan tiga bulan ini di Indonesia? tanya Aidit.

“Aksi!” jawab Ilya.

“Turba!” jawab Iba.

“Sekarang sudah waktunya untuk kembali sekolah. Kalian sudah dewasa. Kalian mau kembali ke Moskow untuk belajar boleh, kalian putuskan sendiri, maka kapan kembalinya. Kalian mau membolos berberapa minggu sambil menunggu ibu pulang dari Korea juga boleh. Kalian sendiri yang memutuskan. Tetapi sekali kalian putuskan, kalian jalankan betul-betul,” kata Aidit.

“Kalian jangan jadi remo-revisionisme modern kata lain mengkhianati Marxisme. Kalau papa mendengar kalian jadi remo, langsung papa tarik pulang. Kata Aidit lagi.

Iba memeluk erat adiknya. Ilya terus menangis. Airmatanya mengalir deras. Hati terasa berat. Iba meneteskan air mata. Pesawat terbang mulai meninggalkan lapangan Kemayoran, Jakarta, menuju Uni Soviet, pertemuan terakhir.

Tahun Kelam, September Akhir 1965

Setidaknya dari hasil penelitian Robert Cribb dalam bukunya The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966. Diperkirakan tercatat hingga dua juta manusia yang mati. Komunisme bagi Soeharto adalah musuh terbesar.

Penyiksaan fisik dan mental berlangsung hingga puluhan tahun. Mereka yang terlibat ataupun yang dituduh ikut PKI ditangkap, dicari, dibunuh. Pembantaian ini berlangsung di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali dan Sumatra Utara. Soekarno tak mampu menghentikan aksi pembantaian itu.

Orde Baru berhasil melakukan rekayasa sejarah mengenai PKI dari semua lini. Surat kabar dilarang terbit selama satu pekan setelah tanggal 1 Oktober 1965. Satu-satunya koran yang terbit adalah Berita Yudha, harian milik angkatan bersenjata.

Buku-buku sejarah, lahirnya hari kesaktian Pancasila, pembangunan museum, monumen, hingga pembuatan film yang berisi jasa Soeharto terhadap negara seperti dalam pengkhianatan G30S/PKI dan Serangan Fajar. Kartu Tanda Penduduk atau KTP aktivis kiri atau pendukung Soekarno diberi label “ET” untuk “eks tahanan politik.”

Ibarruri Putri Alam Aidit
Contoh KTP Tapol Orde Baru, Mendapat Kode ET. Sumber: Tirto.id

Di Soviet Iba berusaha memasang mata dan telinga. Dalam dingin dia bergerak. Udara menusuk tulang hingga 35 Derajat Celcius di bawah nol. Daun-daun menguning mulai rontok berjatuhan. Di sudut ruang asrama dekat pintu masuk, Iba berjalan menuju sudut boks telepon.

Agak tergesa-gesa dia menelepon seorang temannya di Moskow. Dia ingin mempertegas berita terakhir Indonesia, yang baru saja iba dengar dari sebuah radio. Kabar yang masih samar-samar.

Berita itu semakin hari semakin menyakitkan. Tak ada kabar baik dari Indonesia. Setiap hari, berita tersiar soal pembunuhan dan penangkapan. Orang-orang PKI mati. Rumah Iba di Jakarta habis dilumat api.

Iba tak tahu kondisi ketiga adiknya yang masih kecil, ayah, dan ibunya. Iba duduk termenung cukup lama. Diam dalam keheningan dan kesenyapan. Udara bertambah dingin. Dia semakin menggigil.

“Mengapa ini semua terjadi?” pikiran Iba tak tenang. Tak ada yang menjawab. Kepala terasa panas. Kaca jendela menahan serangan angin musim es yang bertiup kencang.

Berita tentang penangkapan dan terbunuhnya Aidit sudah beredar luas. “CC Partai Komunis Uni Soviet mempertegas bahwa kematian itu memang terjadi. Ketua CC PKI Dipa Nusantara Aidit tertangkap dan ditembak mati tentara Indonesia di Solo. Aku terhenyak, Ilya, adikku diam tak  percaya.”

Kabar berita itu terus mengalir deras. “Satu per satu kawanku tak sedikit yang tertangkap aparat militer Indonesia. Eyangku, oomku, dan ibuku akhirnya tertangkap.”

Soetanti ditangkap dan diisolasi, tak boleh berkomunikasi dengan tahanan lainnya di tahanan Bukit Duri, Jakarta. Selama 11 tahun. Soetanti meringkuk di sana. Dia mengalami penyiksaan hebat hingga mengalami kebisuan selama tiga bulan. Soetanti termasuk golongan A. Artinya dianggap terlibat langsung dalam aksi Gerakan 30 September. Soetanti tak pernah menjalani proses pengadilan.

Iba merasa Soviet tak bisa lagi memberi harapan untuk tinggal. Hubungan partai komunis uni soviet dan PKI semakin memburuk. Pelajar dan kader-kader PKI, termasuk delegasi perwakilan, dibuat tak nyaman. Kegiatan diawasi mata-mata KGB.

Iba memilih meninggalkan Rusia menuju Tiongok. Naik kereta melawati Danau Baikal. Danau terdalam di dunia, menuju perbatasan Monggolia.

Februari 1970, Iba Tiba di Tiongkok dan Bertemu Mao

Dia tiba di bandara Beijing, Tiongkok pada 17 Februai 1970. Kondisi Tiongkok jauh lebih buruk ketimbang Uni Soviet. Banyak warganya yang berpakaian penuh tambalan. Pipi mereka merah karena dingin. Mereka mamasak dengan dedaunan kering sebagai bahan bakar.

Iba menyempatan diri untuk melihat kampung Mao di Gunung Cingkang. Di sana, Mao membangun Tentara Merah dan merupakan basis pertama. Lambat laun, Iba mulai mengenal pemikiran Mao. Banyak warga Tiongkok melihat Mao sebagai “dewa”.

Satu bulan berlalu. Iba mengunjungi Kota Shanghai. Di sana, dia ingin menyaksikan langsung proses operasi tusuk jarum untuk mengambil tumor otak. Dengan santai, pasien yang menjalani proses operasi tersebut masih sempat-sempatnya berdialog. Bahkan ketika pasien menjalani pemotongan kulit kepala dan proses gergaji tengkorak sekalipun.

Hari-hari di Tiongkok terus berlalu. Iba bersama Ilya memulai hidupnya di desa Merah. Desa yang penuh kalangan intelektual, wartawan, penerjemah, mahasiswa dari Korea, Jerman Timur, dan kader-kader partai komunis. Istilahnya kerennya, “turun bawah analisa kelas” di desa.

Baca Juga : Petani dan Negara

Di sini Iba membantu kerja di ladang menanam sayuran. Bangun pukul 4 pagi, memakai topi caping, cangkul, dan handuk kecil hingga menjelang siang hari. Makan kodok goreng dan sop ular. Sore hari hingga malam, asyik diskusi politik. Hasilnya? Iba kena penyakit lever.

Pemikiran Mao mewabah. Sekolah kader berjamuran untuk memenangkan Revolusi Tiongkok. Mao menggalang Revolusi besar kebudayaan proletar untuk melawan restorasi kapitalisme. Iba tak pernah melepas pandangan dari setiap sudut rumah di sana yang memiliki sederet buku pemikiran Mao.

Mao Menulis Puisi untuk DN. Aidit

Suatu siang, dia kembali melihat Mao. Hari itu, 1 Mei 1970. Ini Hari Buruh Internasional. Mao berperawakan tinggi. Kulitnya putih. Tampak tenang.

Tak jauh dari sisinya, tampak Pangeran Sihanouk dan istrinya Ratu Monique. Juga Perdana Menteri Kamboja Pennut, dan Lin Biao, orang kedua Partai Komunis Tiongkok. Termasuk pemimpin Partai Komunis Birma. Thaksin  B Tan Tein. Gemuruh ratusan ribu orang memadati lapangan Tian An Men.

Tribun dalam pandangan Iba jauh lebih  besar dan lebih tinggi daripada Tribun Mausoleum Lenin di Moskow. Kembang api meledak memecah kebisuan di langit dan memancarkan warna-warni cahaya. Udara cerah sekali.

“Melawan revisionisme adalah baik, harus terus berjuang melawan revisionisme,” kata Mao, tenang.

“Oh, putri Aidit. Aidit c’est mon ami”

“Mao Zedong berbicara pendek kepadaku,” kata Iba.

Mao menuju tribun, mengangkat tangan, menyapa lautan manusia. Ratusan ribu orang lagi-lagi bergemuruh menyapa kembali kehadirannya. “Hidup ketua Mao! Panjang usia ketua Mao!” berulangg-ulang.

Iba punya kenangan lain pada Mao. Dia pernah menulis sebuah sajak tentang kematian Aidit.

Belasungkawa buat kawan Aidit

Pejuang komunisme internasional

Tegap menghadap jendela dingin di ranting jarang

Tersenyum mendahului mekarnya berbagai kembang

Sayang wajah girang tak berwaktu panjang

Malahan gugur menjelang musim semi datang

Yang akan gugur, gugurlah pasti

Gerangan haruskah itu mengesalkan hati?

Pada waktunya bunga mekar dan gugur sendiri

Wanginya tersimpan menanti tahun depan lagi

Ibarruri Putra Alam Aidit
Ibarruri (kedua dari kiri) bersama DN Aidit (Tengah) dan adik-adik Ibarruri yang masih kecil. Sumber: Playboy.

1973, Iba Tiba di Birma & Membangun Rumah Sakit

Tiongkok akhirnya Iba tinggalkan. Dia bergerak ke Birma tahun 1973. Bersama rombongan kecil, Iba berangkat dari Beijing ke Khunming dengan pesawat udara. Saat tiba di Birma, dia melepaskan pakaian tentara pembebasan rakyat tiongkok dan menggantinya dengan seragama tentara rakyat birma. Anak-anak kecil di sana sudah biasa menenteng senapan AK 47. Perempuan juga turut berperang. Beberapa di antaranya jadi komandan tempur.

Kehadiran Iba di Birma hendak mempraktekkan ilmu kedokteran timurnya. Iba memilih Birma karena sedang konflik. Masyarakatnya terbelakang akibat peperangan. Bersama Tentara Rakyat Birma, Iba kemudian membangun rumah sakit ala kadarnya di daerah basis. Rumah bilik dengan dinding tembok  terbuat dari campuran jerami dan tanah.

Di rumah sakit ini, Iba merawat tentara yang terluka. Seorang pasien dari Tentara Shan sudah mengalami luka parah pada bagian paha. Peluru menembus tulang paha hingga remuk. Dari bekas lukanya keluar nanah dan bau yang keras. Akhirnya pemuda itu mati. Akibat perang kondisi kesehatan masyarakat juga memburuk. Birma terserang penyakit lepra, TBC, dan hepatitis.

Tentara Rakyat Birma punya kebiasaan aneh. Mereka suka menembak dan melepaskan peluru, tombak, panah ke arah bulan pada saat gerhana. Mereka percaya jika tengah terjadi gerhana bulan ada raksasa sedang memakan bulan itu.

Iba menemukan kondisi yang jauh berbeda dengan keadaan sebelumnya di Tiongkok atau di Moskow. Iba masuk hutan ke hutan dari satu gunung ke gunung lainnya. Jalan kaki  menembus ratusan kilometer. Masalah makanan menjadi kendala paling serius. Warga menerima jatah beras sangat terbatas. Dan beralih untuk mengganjal perut dengan singkong.

“Saya betul-betul kurus. Muka Pucat,” kata Iba.

Ia punya pengalaman yang mirip Sumanto pemakan jenazah manusia. Saat bekerja di rumah sakit, ada saja orang yang meminta ari-ari bayi yang baru lahir. Ari-ari bayi itu hendak dimakan.

“Pernah mencoba?” tanya saya.

“Amit-amit. Geli!”

Ia meninggalkan Birma. Masuk ke Macao dan bekerja sebagai buruh di pabrik. Bersama suaminya, Budi Sudharsono, Iba ke Jerman. Kemudian memilih prancis sebagai tempat singgah terakhirnya.

Iba jadi warga negara Perancis degan status sebagai refugie politique. Pelarian politik. Dia memiliki hak bekerja. Sama dengan hak warga Perancis pada umumnya, kecuali hak untuk memilih dan dipilih.

Ia merasa ibu angkatnya, Perancis, telah memberikan perlindungan penuh terhadap hak asasi manusianya. Indonesia hingga detik ini, tak memberinya proses rehabilitasi, pemberian hak politik dan hak sipil kepada korban kemanusiaan tragedi 1965. Apalagi, membuka denhan jujur kebenaran peristiwa ’65.

Awal Agustus 2006

Segar udara pagi menerobos ke dalam rumah di perumahan Taman Puspa Indah Bandung. Di sudut ruang depan, tergantung sebuah lukisan bergambar DN Aidit . Dekat pintu masuk ruang keluarga, ada foto Aidit sedang berdiri dan berbincang hangat dengan Soekarno. Ada foto Abdullah Aidit, kakek Iba, menggantung di sana. Suara burung merpati terdengar nyaring.

Pemilik rumah, Ilham Aidit sedang berbincang. Suaranya Bariton. Iba memakai kaos berwarna kuning. Kacamata kecilnya mengggantung hendak meloncat dari ujung batang hidungnya. Secangkir teh manis hangat mencairkan suasana.

Di sudut meja kecil, iba sedang mengecek e-mail pada sebuah komputer. Ilham dan Iba tersenyum dan tertawa mengomentari isi e-mail yang masuk.

“Ini ada e-mail berseri. Cerita pengakuan tentang anak Aidit yang lain. Aidit tidak mati ditembak, tapi berhasil melarikan diri ke Afrika. Jadi ramai di milis. Saya dapat telepon dari Belanda dan Korea. Minta tes DNA segala. Bang Umar Said, marah. Tai kucing!” kata Iba.

Jarum jam menunjukkan angka 10.00 pagi. Aroma goreng telur dan nasi goreng menyela perkenalan kami. Satu mangkuk besar berisi baso dan tahu kuah menemani sarapan pagi. Iba hangat. Banyak canda. Tertawa lepas.

Minggu kedua Agustus 2006, saya bertemu Iba lagi di ruang diskusi Komunitas Utan Kayu di jalan Utan Kayu, Jakarta Timur. Ruangan penuh dengan kalangan orang berumur senja. Mereka adalah bekas tahanan politik 1965 yang sempat dibuang ke Pulau Buru. Di kerumunan, terlihat Joesoef Ishak dan Oey Hay Djoen.

Kedua ini orang tokoh dari Lekra dan kini mengurusi Hasta Mitra yang pernah menerbitkaan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Ishak juga editor buku-buku Pram.

“Ini catatan kecil saya saja. Berantakan. Setahun terakhir ini, Bung Joesoef memaksa saya untuk menuliskannya menjadi sebuah buku,” kata Iba kepada saya.

Iba mengikuti saran Ishak. “Apa yang saya ingat, ya saya tulis saja. Semacam dialog.”

Dari ruang kerja di 8 Rue Normandie Nieman 94310 Orly, Paris, Perancis, Iba menuliskan selapis demi selapis ingatannya. Tentang kehangatan. Kepedihan. Politik. Pengasingan. Komunisme hingga Budhisme. Iba tidak menyerah dan putus asa untuk mewarisi sebuah nama besar yang dkutuk di tanahair.

Hari itu, siang sekira pukul 14.00, bukunya akan didiskusikan. Iba tampak tenang dalam balutan kain batik lengan panjang. Sekali dia terlihat sibuk melayani wartawan yang mewawancarainya. Ilham ikut menemani.

“Memoar seperti itu diperlukan untuk merawat kenangan yang penting soal sejarah dan nasib orang-orang yang terlibat dalam itu. Saya senang dia gembira pada hidup dan selalu aktif. Terpanggil untuk berbuat dan baik pada sesama. Apalagi sekarang dia Budhis. Ia punya sense of humor yang kuat,” kata Goenawan Mohammad pada saya. Goenawan pendiri majalah Tempo. Pada buku Iba, Goenawan menulis kata pengantar.

Baca Juga : Esai Dono 1996

Senja mulai merayap. Wajah iba tampak kelelahan. Sesekali dia terlihat mengobrol dengan Goenawan atau Oey Hay Djoen, di sebuah  sudut meja makan kedai Tempo.

“Saya lapar. Belum sempat makan,” kata Iba kepada saya.

Iba menganti batiknya dengan kaos putih. Ilham Aidit menyalakan mobil Mercedes Benz berwana biru tua. Beberapa tas berisi buku, dimasukkan bagasi. Sedan biru tua melaju meninggalkan Utan Kayu. Wajah ilham terlihat segar dan riang.

Rupanya, istrinya, baru saja melahirkan di Bandung. Saya duduk di samping Ilham yang mengemudikan sedan.

Iba duduk di belakang. Sesekali melentangkan badannya mencoba memejamkan mata. Sudah 40 tahun ia berkelana di luar negeri. Akhirnya dia bisa pulang dan tertidur pulas di tanahairnya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here