keluarga korban penculikan mei 1998

Ismail – Hawa, ayah Ismail, juga dikagetkan oleh media massa yang menulis dugaan kematian Ismail dalam penculikan. Ia buru-buru menelpon, adek Deddy Hamdun, di Jakarta. Ia mesti bersusah payah mencari uang untuk interlokal; baginya adalah ongkos yang sangat mahal untuk sampai ke Jakarta.

Maklum, Ayah Ismail, seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, adalah miskin. Tetangganya pun tidak tahu apakah keluarga ini punya rumah atau tidak. Karena sejak menjadi tentara hingga pensiun, Hawa tetap menempati asrama tentara Yonif 733 Batu Merah Ambon.

Ismail, 31, pemuda Ambon yang baru saja masuk kota metropolitan lima tahun lalu, bekerja di perusahaan milik Noval Alkatiri baru berusia lima bulan. Ismail cukup dekat hubungannya dengan sang majikan, ia sering jalan bareng bosnya dengan mobil BMW, hingga kemudian 29 Mei 1997 itu, ia ikut diculik oleh orang tak dikenal.

Baca Juga: Deddy Hamdun Pendukung Fanatik PPP

Sejak diculik, keluarganya tak pernah ke Jakarta karena alasan keuangan. Ayah Ismail kemudian hanya bisa pesan kepada keluarga majikannya, Yaitu Said Alkatiri.

Keluarga korban penculikan, yang hingga kini menunggu kejelasan di mana jasad keluarganya yang hilang. Apakah sampai kiamat, jasad korban masih samar?

“Semuanya diserahkan kepada kami soal bagaimana kabar anaknya. Makanya kami di samping mencari di mana keberadaan dan nasib anak kami, juga mencari informasi tentang Ismail,” Kata Said kepada ADIL.

Ismail Pemuda yang Etos Kerjanya Tinggi

Menurut Said, Ismail adalah pemuda yang keras bekerja dan tak pernah lalai dengan tugasnya. Karena itu ia dekat dengan majikannya. Sejak kecil Ismail gemar olah raga apa saja.

Ketika tinggal bersama orang tuanya di asrama, Ismail kecil beranjak dewasa saat kuliah di Fakultas Teknik Perkapalan Universitas Pattimura, Ambon, 1991/1992, selalu melatih fisiknya.

Baca Juga: Yani Afri Sopir Mikrolet yang Lenyap

Diculiknya tamatan STM Ambon, yang sempat mampir kuliah itu, membuat kondisi fisik adek perempuannya di Ambon sakit-sakitan. Sejak Ismail hilang hingga terkabar dugaan wafat dalam penculikan, kesehatan adek perempuannya terus memburuk.

Buat keluarganya, Ismail adalah harapan. Menurut Luthfi, Ismail sering mengirim surat dan bahkan membantu membiayai sekolah adiknya.

“Sekarang siapa lagi yang membantu,” kata  Hawa seperti ditirukan Luthfi Kepada Adil.


Selama bulan Mei, Moeseum.id akan menurunkan berita tentang hiruk pikuk situasi pasca kerusuhan 1998. Semua tulisan berita pasca kerusuhan 1998, bersumber dari konten Tabloid ADIL, yang ditulis ulang oleh Moeseum.id.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here