Utang Amerika Latin
Henry Kissinger - mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan pemenang Nobel Perdamaian. Sumber: TEMPO 1987

Utang Amerika Latin – Nyaris tak dilihat, krisis utang yang membusuk di Amerika Latin pecah lagi. Manifestasi terakhirnya keputusan Brasil untuk tak jadi membayar bunga pinjaman komersialnya, sementara bank-bank yang memberi kredit telah menangguhkan segala piutang yang baru.

Malangnya, dalam konfik antara Brasil dan AS, yang akan ada hanya orang-orang kalah. Jika ekonomi Brasil tumbuh terhambat, krisis dalam negerinya akan memburuk, dan kekuatan populis, yang menentang pasar bebas, dan anti –AS, akan mengancam, justru pada saat sebuah konstitusi demokratis sedang dirancang. Sebaliknya, pihak bank akan menghadapi kesulitan besar bila Brasil mengingkari kewajibannya, terutama bila negara peminjam lain ikut-ikutan.

Memang orang bisa mendebat bahwa krisis dengan Brasil akan seperti demam konfrontasi yang sebelumnya tercatata antara AS dan negeri pengutang seperti Meksiko dan Argentina: segala akibat yang dahsyat yang pernah diramalkan ternyata belum juga terjadi. Tapi waktu yang diulur itu juga menyebabkan soal utang itu kian ruwet. Utang Amerika Latin terus meningkat dari US$ 280 Milyar di tahun 1982 menjadi hampir US$ 400 Milyar di tahun ini. Dan kerangka politik buat menghadapi utang itu telah berantakan.

Pembayaran Bunga Utang Menyedot 50% Hasil Ekspor Amerika Latin

Sungguh gegabah untuk mengatakan bahwa kelak bakal tak ada seorang pemimpin pun yang mau mendesakkan soal ini hingga jadi satu bentrokan, dan bahwa orang Amerika Latin tak akan bersatu bila hal itu terjadi.

Ada memang ucapan bergagah-gagah, bahwa jika itu terjadi para kreditor akan memotong  asset milik negeri  yang kurang ajar  itu dan membikin perdagangannya hanya jadi barter. Tapi tindakan itu secara politis tak bisa diterima, bila dilakukan terhadap sebuah negeri Amerika Latin yang besar.

Sementara itu, atauran main yang dianggap ada ternyata tak jalan. Aturan No.1 mengatakan, siapa berperilaku baik akan dapat hadiah, yakni kesempatan baru untuk dimasuki modal swasta secara sukarela. Ini tak terjadi dan tak ada tanda akan terjadi.

Baca Juga : Kabinet Gus Dur Harapan 100 Hari

Aturan No 2 mengatakan, siapa yang membelot dari sistem  – menolak syarat IMF atau menunggak membayar bunga – akan dapat sanksi, berupa perang ekonomi atau ditangguhkan kredit dagangnya. Tapi sanksi seperti itu belum dikenakan kepada Brasil. Maka, Brasil bisa saja jadi pemula yang menghalalkan penangguhan pembayaran bunga sebagai suatu taktik yang cukup sopan untuk menawar.

Semua hal itu seharusnya menimbulkan desakan baru untuk bertindak lekas. Pembayaran bunga yang harus dilakukan Amerika Latin setiap tahunnya menyedot sampai 50% hasil ekspor mereka serta lebih dari 5% GNP mereka. Konsekuensi praktisnya, adalah bahwa bunga dibayar bukan dari pertumbuhan ekonomi, tapi dari pinjaman baru dari para kreditor. Ini kemudian membuat beban jadi bertambah pula.

Jalan Menyelesaiakan Utang

Lebih celaka lagi, tingkat pertumbuhan di negara industri Barat merosot, dari angka 3% yang dianggap mesti dicapai guna menstabilkan perekonomian negeri berkembang, menjadi sekitar 2,5%. Bangsa-bangsa peminjam sementara itu sejak 1983 telah jadi pengekspor modal – suatau posisi aneh dan gila buat negeri berkembang. Harga bahan mentah merosot, sedang tindakan proteksionistis meningkat.

Pada umumnya, bank-bank komersial telah bermurah hati, bahkan berpandangan jauh. Tapi tanggung jawab mereka kepada para pesero mereka mengharuskan mereka menunda hari pembalasan selama mungkin. Para kreditor memang tak punya banyak insentif buat memperoleh satu penyelesaian yang menyeluruh.

Baca Juga : Krisis Ekonomi 1930 di Surakarta

Tapi pemerintah dapat, dan harus. Suatu rencana internasional sebab itu amat segera dibutuhkan. Di dalamnya harus ada tiga komponen. Pertama, adanya perbaikan prosedur yang memperpanjang pendekatan jangka pendek yang sekarang berlaku, dengan komitmen kedua belah pihak untuk jangka panjang.

Kedua, diciptakannya satu dana untuk menggerakkan ekonomI ke suatu target pertumbuhan, berdasarkan komitmen kuat itu. Ketiga, sebagai imbalan atas komitmen untuk perbaikan itu, ditegakkannya satu plafon bagi bunga yang harus dibayar, hingga kewajiban itu bisa diperhitungkan sebelumnya dan dapat dijalankan terus.

Utang Amerika Latin
Henry Kissinger – mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan pemenang Nobel Perdamaian.
Sumber: TEMPO 1987

Adanya komitmen politik itu lebih penting ketimbang adanya rencana yang terperinci. Sekarang ini malah terlalu banyak usul tapi tak ada kemufakatan politik. Satu usul yang sangat menarik ialah ditentukannya satu palfon suku bunga bagi para peminjam, misalnya 6%.

Selisih antara angka itu dan tingkat bunga  dipasar akan dibayar dengan uang dari satu dana  yang dibentuk oleh pemerintah, lembaga keuangan internasional dan bank swasta (perbandingan sumbangannya bisa dirundingkan). Bila tingkat bunga rendah – dan rencana ini bisa merangsang rendahnya suku bunga – dana itu dapat digunakan untuk pinjaman baru guna mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Tentu saja, penyelesaian yang radikal dan berorientasi pada pasar ialah dengan menghadapi langsung faktanya: sejumlah peminjam berutang lebih banyak ketimbang kemampuan mereka membayar. Keberanian ini akan mendorong kreditor untuk mengonversikan utang Amerika Latin ke dalam surat-surat berharga.

Baca Juga : Bromocorah dalam Sejarah Kita

Pasar mau tak mau akan menilai utang di bawah 100% (nilai yang dipakai buat jual beli pinjaman Amerika Latin sekarang sekitar 60%), bila bagian terbesar dari selisih yang terjadi ditanamkan kembali di negeri  peminjam. Ini akan mengurangi jumlah kredit dan bunganya, dan memudahkan pembayaran kembali. Beban pihak bank dapat diringankan  jika peraturan membolehkan mereka mengubah status piutang itu jadi piutang ragu-ragu selama satu jangka  waktu, atau bila pemerintah negara industri ikut menanggung bebannya.

Bagaimana pun kasus Brasil bukan suatu keganjilan. Ia adalah gejala suatu krisis, yang akan membawa negara peminjam ke arah kelumpuhan politik, membawa pihak kreditor ke bencana keuangan dan hubungan Utara- Selatan jadi konfrontasi permanen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here