Slamet Saroyo
Gambar Wajah Slamet Saroyo. Sumber: Kognisia

Slamet Saroyo  РKasus dugaan korupsi pembangunan Kampus Antara Universitas Islam Indonesia (UII) yang terletak di Condongcatur, Depok, Sleman merupakan pemantik peristiwa pembunuhan Slamet Saroyo pada 4 November 1989.

Dugaan korupsi pembangunan diusut mendalam oleh para pimpinan lembaga mahasiswa UII. Erwin Moeslimin yang saat itu menjadi ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) memutuskan untuk membentuk tim Reevaluasi. Tim Khusus untuk menjawab dan membuktikan korupsi pembangunan gedung Kampus Antara di Condongcatur.

Tim reevaluasi diketuai oleh Slamet Saroyo. Tim khusus penyelidikan bergerak cepat meneliti status hukum perusahaan pemborong pembangunan. Mulai dari cek alamat dan gedung perusahaan pemborong.

Baca Juga: Modus Operandi Aparat Melenyapkan Gali Semarang yang Kebal

Tim yang diketuai oleh Slamet Saroyo menemukan banyak kejanggalan. Semua kejanggalan pembangunan kampus Antara lantas ditulis dalam sebuah laporan yang kemudian dicetak dan sebarkan di lingkungan kampus.

Laporan kejanggalan itu, lantas dikenal dengan sebutan Buku Merah. Catatan penyelidikan kasus dugaan korupsi itu sangat bersejarah, karena tanda tangan yang disematkan pada buku merah bukan tanda tangan biasa.

Slamet Saroyo menunjukkan komitmen pada kebenaran dan keterbukaan. Caranya dengan menorehkan tanda tangan menggunakan darahnya sebagai cap buku merah. Bukti bahwa Slamet Saroyo dan anggota timnya tidak main-main. Mereka mencintai almamater tempat menggali ilmu.

Baca Juga : Kisah Penembakan Misterius Jogja

Akibat munculnya Buku Merah, suasana kampus UII panas. Slamet Saroyo dan tim reevaluasi mendapatkan banyak ancaman.

Berikut kronologi pembentukan tim reevaluasi dan hasil kerjanya yang tercatat dalam Buku Merah yang bersejarah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here