mules
Foto Umar Kayam, penulis Esai Senin Pagi Pascalebaran. Sumber: TEMPO

Lebaran – Musim semi datang bagai seekor singa, kata penyair T.S. Eliot. Tetapi lebaran datang bagai air bah, kataku.

Pengeluaran dan pengeluaran itu, lho, yang datang bagai air bah. Gaji para anggota Kitchen Cabinet alias kanca wingking mesti dibayar dobel.

Lebaran, kok! Pakaian lengkap dari atas ke bawah bagi mereka juga kudu dibeli. Lha, lebaran, je. Dan di atas semua itu para anggota kabinet tersebut tentulah membutuhkan masa reses juga.

Sama seperti angggota DPR yang suda sekian bulan mengantuk di ruang besar yang ber-air conditioning membutuhkan udara luar yang segar sambil meninjau kebutuhan rakyat di tanah akarnya, begitulah para kanca wingking.

Mereka butuh reses sesudah setahun penuh (dan di sini mungkin mereka agak berbeda dari anggota DPR) bekrja keras mengabdi para bendoro (yang kadang-kadang ada yang mau dipanggil Pak atau Bu.

Mereka butuh mudik untuk reriungan dengan jaringan keluarga mereka, yang entah berapa kompi besarnya, bila datang berkumpul di rumah leluhur mereka di desa. Jaringan yang antara bulan Syawal yang satu dengan syawal yang lain ada dalam kondisi cerai-berai tersebar ke mana-mana.

Tetapi, pas pada dua hari Riyaya itu, jaringan itu akan berpaut kembali menjadi satu jagat yang utuh, hangat dan bersemangat mangan ora mangan waton kumpul. Lha, wong lebaran, je! Maka, karena itu tradisi reses itu kudu diberikan. Pengeluaran lagi!

Cerita Mudik Kitchen Cabinet Pak Ageng Tahun Kemarin

“Mau mudik  berapa lama?”

“Seminggu saja, nDoro Putri?

“Edan, kowe. Seminggu? Jadi aku kau suruh nyuci piring dan nDoro Kakung ngangsu air, kasih makan dan ngguyang si Bleki selama seminggu lamanya, hah? Ora! Tiga hari saja!”

“Wadu, mbok kasihan sama simbok dan bapak saya, nDoro. Sudah setahun tidak ketemu. Kangen, nDoro.”

“Ya, wis. Lima hari; tidak boleh lebih. Awas kalau lebih. Awas kalau kowe pulangnya molor. Tak cangklong gajimu!”

“Matur sanget nuwun, nDoro! Saya akan pulang tepat!”

Baca Juga: Mudik

Wajahnya menunduk gembira. nDoro Putri pun lega. Keduanya tahu, di dunia Jawa (mungkin juga di dunia mana saja), semuanya kudu ada bargaining, tawar-menawar, nyang-mengenyang. Setidaknya dulu…..”

Meski hidup sendiri di Yogya, jelek-jelek saya punya kitchen cabinet.  Mereka, seperti telah saya laporkan dalam kolom terdahulu, terdiri dari tiga anggota: (Mr.) Rigen, (Mrs.) Nansiyem Rigen, dan (Junior) Beni Prakosa.

Dan meskipun hadiah lebaran tahun ini dari fakultas semakin mungkret (delapan belas ribu dicengklong tiga ribu buat syawalan), karena mau solider dengan tekad yang dahsyat dari bapak-ibu di pusat untuk hidup sederhana, saya toh tetap tak bisa lain daripada mempertahankan ritual lebaran.

Dan itu ‘kan perlu untuk memelihara rapot dengan rakyat saya. Pakaian lengkap dari atas sampai bawah, gaji dua bulan dan menawarkan reses 5 hari ke desa.

Buat saya, kepergian The Rigen’s  setiap lebaran begitu tidak pernah mengacaukan organisasi pemerintahan saya. Sebelum pergi, semalam suntuk biasanya mereka saya perintahkan untuk mau secara sukarela (dengan ancaman sanksi secukupnya) melembur sambel goreng ati (plus pete), opor ayam, mendeplok bubuk kedelai, merebus ketupat.

Pagi harinya, dengan mata merah, tubuh loyo tetapi hati gembira, mereka pun meninggalkan rumah saya dengan meja makan sudah tertata rapi.

Ah, menteri-menteriku yang setia……. Dan siang harinya, istri dan anak-anakku pun akan datang dari Betawi lengkap dengan oleh-oleh dunia metropolitan yang super canggih.

Lebaran
Foto Umar Kayam, penulis Esai Mudik Lebaran dan Rigenomics. Sumber: TEMPO

Dengan sigap pula mereka akan mengambil alih semua administrasi dan bidang pekerjaan umum rumah saya. Ah, anggota keluargaku yang efisien……

“Mr. Rigen, Mrs. Nansiyem, dan Junior…..” Begitulah setiap lebaran saya akan menegur mereka dengan formal sekali.

“Ini baju-baju kalian semoga memuaskan kalian. Ini gaji dua bulan.”

Matur nuwun sanget, pak”

Pada saat begitu paduan suara anak beranak itu sangat merdunya. Tak senada pun blero!

Cerita Mudik Kitchen Cabinet Pak Ageng Tahun ini

“Lha, tahun ini kalian mau pulang berapa lama? Lima hari seperti biasa?

Diam sejenak. Mr & Mrs Rigen saling berpandangan sedetik. Lantas…

“Kalau boleh, tahun ini kami tidak pulang.”

“Lho? Priye, karepmu?

“Terus terang ke desa Cuma habis-habiskan uang, pak.”

Lha, tentu saja uang mesti dihabiskan. ‘Kan dibagi sama orangtua dan lain-lainnya?”

“Desa Cuma bikin hati sedih , pak.”

“Ah, mosok! Wong Ijo Royo-Royo, Gemah ripah.

“Yak, Bapak kok terus ndagel, lho!”

Rupanya Mr. Rigen sudah punya perhitungan yang rapi bin njlimet. Tahun ini mereka tidak mudik tetapi cukup kirim uang ke kedua orangtua mereka. Praktis, tidak repot katanya.

Baca Juga: Rapat Meja Bundar Menjelang Lebaran

Kalau  pulang jatah subsidi Bandes itu akan molor. Belum naik bis 3 kali plus colt. Belum muntah-muntah Madan & Junior di tengah jalan.

Sedang uang mereka sudah dicengklong buat orangtua itu diharap akan dikompensir oleh persen dari jaringan keluarga saya yang diperhitungkan akan reriungan di rumah saya dan di rumah ibu saya. Kalau datang semua bisa sekitar 15 orang jumlahnya….

“Coba kalu saya pulang, Pak. Bapak akan capek nyopir jip. Para putri akan lecet tangannya nyuci…”

kemudian bibirnya menyungging senyumnya yang lihay.

“………. dan saya akan kehilangan rejeki dari ibu-ibu dan bapak-bapak.”

“Dapurmu!” “Saya jenggung kepalanya alon-alon. Well, president ronald Reagen, you may have your reaganomics …… tetapi di sini I punya Rigenomics!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here