Ekspor Pakaian Jadi

Modal Asing di Amerika – Apiang, yang dulu mengibarkan nama di Petax Sembilan, tiba-tiba mengibarkan namanya di Honolulu. Ia baru saja menanam modal di sana untuk membeli sebuah gedung perkantoran.

Di surat kabar yang terbit di sana pun ditulis: “Seorang Pengusaha Indonesia Menanam Modal di Sini”. Mungkin ia pengusaha Indonesia pertama yang “diketahui” menanam modal di Hawaii.

Tetapi penanaman modal oleh orang asing sebenarnya bukan hal baru di Hawaii. Jepang yang dulu mengebom Pearl Harbor kini menghujani Hawaii dengan uang mereka. Seorang teman, Marc Duncan, yang tinggal di daerah elite di sana mengeluh, “Sekarang, tetangga saya orang Jepang semua.”

Baca Juga : Pertemuan Dua Gus & Prospek Timor Timur

Ia sebenarnya tak perlu mengeluh. Real estate-nya di Waimea habis terjual dalam waktu dua bulan sesudah diiklankan – kebanyakan dibeli orang Jepang. Bulan Juli yang lalu, seorang Jepang membeli vila mewah di Hawaii seharga US$5 juta, dan masuk koran.

Amerika Serikat memang tak mampu membendung “serangan” modal asing. Mereka terpaksa menjual kekayaan untuk membayar utang yang telah mejadi begitu besar. Ini memang kenyataan yang membuat banyak orang tertegun.

Negara adidaya seperti itu ternyata kini telah menjadi negara pengutang terbesar? Untung, ia mempunyai kemampuan membayar yang cukup besar.

Penanam Modal di Amerika

Rupert Murdoch, orang Australia yang malang melintang di bisnis komunikasi, sudah merupakan lagu lama. Seorang Australia yang lain membeli perusahaan film 20th Century Fox di Hollywood.

Orang Denmark memiliki pabrik sosis di Missouri. Orang Belanda membeli pabrik kosmetik Chesebrough-Pond’s. Orang Swiss memiliki pabrik makanan anjing Mighty Dog dan pabrik susu Carnation. Orang Jerman memegang saham mayoritas pada jaringan pasar Swalayan A & P dan membeli penerbit/toko buku Doubleday.

Baca Juga :  Esai Fadli Zon 1999 Mengurai Bom Istiqlal

Orang Kuwait, Arab Saudi, dan Persatuan Emirat Arab tak ketinggalan. Mereka pegang pemilikan bersama atas Bankshares Inc. Saatchi & Saatchi dari Inggris memborongi biro-biro iklan terkemuka di Madison Avenue.

Empat dari 10 perusahaan kimia terkemuka AS kini dimiliki orang-orang non-AS. Hal yang sama terjadi di industri semen. Perusahaan minya milik orang Inggris di Amerika pun lebih besar dari milik orang Amerika sendiri.

Jangan tanya lagi yang telah diborong orang Jepang. Bukan hanya disektor manufakturing, Jepang pun sudah memborong industri jasa Amerika Serikat. Bank-bank milik Jepang bertebaran di California.

Orang Jepang pun dikenal mempunyai “kesenangan” membeli gedung-gedung pencakar langit yang menjadi markas besar perusahaan minyak terkemuka. Gedung Exxon di New York telah dibeli Jepang. Begitu juga gedung Arco di Los Angeles dan Markas Mobil Corp, di New York.

Modal Asing di Amerika

 

Potret Modal Asing di Amerika Tahun 1986

Cover story majalah Time terbitan 14 September 1987 memakai judul yang mengenaskan tentang hal ini –“For Sale: America”. Dari seluruh penjuru orang sekarang berbarengan menyerbu Amerika Serikat dengan satu tujuan: Beli! Beli! Beli! Apa saja yang diduga akan menghasilkan uang, pasti dibeli: kebun anggur, hutan, lapangan salu untuk main ski, kompleks pertokoan, ladang. Nama-nama besar Amerika Serikat bahkan sudah tertelan dalam mulut para pemilik baru yang mata uangnya lebih kuat daripada dolar AS.

Alhasil: pemilikan modal asing di Amerika Serikat pada 1986 naik menjadi US$ 1,33 trilyun – kenaikan 25% dari tahun sebelumnya. Jauh melebihi investai total AS di luar negeri yang hanya mencapai US$ 1 trilyun.

Maka, bertanyalah Kemal, teman saya: Mengapa Amerika Serikat bisa begitu mudah dibanjiri penanam modal, sedangkan kita yang dengan segala gembar-gembor pun sulit mengimbau mereka? Jawabannya: Amerika Serikat adalah negara yang stabil politiknya, aman dalam jangka panjang, pasar yang sungguh gemuk dengan 220 juta penduduknya, serta tak punya macam-macam aturan untuk para penanam modal.

Baca Juga : Bandit-Bandit Nan Pejuang

Tetapi, tanya Kemal lagi, mengapa masuknya begitu banyak modal asing di Amerika tampaknya justru menimbulkan kekhawatiran dan diterima dengan berbagai cemooh?

Jawabannya: karena terbukti Amerika Serikat tidak lagi segagah dulu. Dulu mereka hampir tak pernah memerlukan modal asing. Dengan kekuatannya sendiri negara besar ini dibangun.

Mereka punya sumber daya manusia, teknologi, dan dana yang cukup untuk mengolah sumber daya alamnya. Dengan kekuatan dolarnya negara besar ini malah membangun Korea Selatan dari puing, serta membantu negara-negara lain yang dalam kesulitan.

Kini, keadaannya jadi terbalik semua. Dengan negara sekecil Taiwan saja Amerika Serikat punya defisit neraca perdagangan US$ 16 milyar. Korea Selatan – yang masih punya banyak utang dengan Amerika Serikat – pun punya surplus neraca perdagangan yang besar sekali dengan Amerika Serikat, hingga mampu membeli hutan-hutan di Negara Bagian Washington.

Situasi berbeda, masalah berbeda.

Baca Juga : Bromocorah dalam Sejarah Kita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here