mules
Foto Umar Kayam, penulis Esai Senin Pagi Pascalebaran. Sumber: TEMPO

Mudik – Di media massa, mulai diberitakan gerak eksodus untuk mudik lebaran. Beratus ribu manusia, dan sebentar lagi bergerak bagai ombak lautan di terminal-terminal dan stasiun kereta api.

Ibu menggendong anak bayi, bapak menggendong anak-anak, koper, tas besar kecil, bungkusan bergentayangan di punggung dan pundak mereka. Semua hiruk pikik dan gencet menggencet itu demi satu ritus, upacara, setahun sekali untuk mudik, pulang ke udik pada waktu lebaran.

Mudik secara harfiah berarti pergi ke udik. Menjadi bagian dari proses pejalanan besar dan ramai ke satu tempat yang dianggap paling dasar dalam kehidupan yang disebut udik itu. Tetapi apa dan siapa sang udik itu?

Di sekolah dasar dan menengah pertama, dulu kita dibertahu oleh bapak guru bahwa udik berarti bagian yang paling hulu dari sungai, nan jauh di dalam, di daerah pegunungan sono, tempat dusun-dusun dan para petani tinggal bersama keluarga dan ternaknya.

Baca Juga: PUASA

Udik adalah tempat segalanya di mulai. Tempat suami-istri pemula mulai beranak-pinak dan bercucu serta kemudian mungkin bercicit. Dan waktu anak-anak itu berangkat dewasa, tanah diiris-iris, mereka pada memencar ke mana-mana.

Yang beruntung menetap di daerah baru, di kota-kota, dilahan-lahan transmigrasi, di mana saja, mulai sebagai keluarga pemula dan meneruskan tradisi  mengembangkan keturunan, beranak pinak.

Cabang-cabang yang semakin jauh menyebar ke mana-mana itu makin berubah dari sosok petani mereka yang asli, mereka bergesekan dengan pendidikan kota, dengan sekolah kota yang “Modern”, dengan perdagangan dan industri yang lebih rumit, dan dengan birokrasi pemerintahan yang lebih ruwet. Secara bertahap mereka mengalami transformasi sosok.

Mereka mulai bergaya hidup yang “nir petani.” Tetapi ikatan batin dengan udik di sono? Itu agaknya akan bergantung  pada letak udik  itu. Perjalanan budaya yang panjang secara pelan telah mengubah sosok petani menjadi “nir-petani” telah pula membuat jarak yang lebih jauh dengan udik.

Juga anehnya, jarak itu dipengaruhi oleh perubahan nama yang lewat beberapa generasi menjadi nama yang jauh dari udik di sana itu. Maka, jarak orang yang bernama Sulistio atau Drs, Senjaya dengan udik di sana mungkin sekali akan berbeda dari jarak Sugimin atau Wagimin dengan udik mereka.

Udik Sulistio dan Sugimin

Udik Sulistio mungkin terletak di sebuah ibu kota kabupaten atau ibu kota kecamatan. Sedang udik Sugiman mungkin masih udik yang lama.

Udik Sulistio tidak lagi terletak di bagian dalam sungai di pegunungan karena ayah Sulistio, yang pensiunan guru sekolah menengah itu, melewati masa pensiunnya di sebuah kabupaten yang kecil. Di kota kecil itulah ayahnya membangun udiknya.

Sedang ayah pensiunan guru sekolah menengah ini, Embah Sulistio, adalah pensiunan sekolah desa, melewati masa pensiunnya di sebuah kota kecamatan yang lebih kecil lagi.

Baca Juga: Zakat

Itulah udik embah Sulistio. Udik yang paling jauh dari asli di pedalaman adalah embahbuyut Sulistio, seorang petani sederhana yang memiliki sawa beberapa bahu. Setidaknya dulu pada waktu dia masih hidup.

Sedang Sugiman, berlainan dari Sulistio yang direktur di salah satu departemen di Jakarta. Adalah pesuruh dan dan pembuat teh di salah satu departemen juga di Jakarta. Sudah hampir pensiun tetapi entah bagaimana dengan gajinya yang kecil itu dia kok kerasan di saja tinggal di Jakarta.

Buat Sugiman, udik agaknya tetap udik di sono itu, di desa yang masih sepuluh-dua puluh kilometer dari pemberhentian bis di kecamatan. Tidak seperti Sulistio yang mengalami satu proses Froadlaap, Loncat katak, seperti Douglas MacArthur, dalam menggelinding lewat berbagai jenjang pendidikan dan jabatan, Sugimin menggelinding langsung dari udik leluhurnya ke Jakarta.

mudik
Foto Umar Kayam. Sumber: TEMPO

“Sulistio  dan Sugiman, beserta ribuan orang lainnya, adalah manusia yang berlainan nasib kemujurannya. Namun, dalam menghayati makna udik dan pergi mudik, keduanya sama-sama diikat oleh satu benang merah.”

Yaitu benang merah yang mengaitkan cerita dan dongeng tentang terjadinya satu keluarga. Cerita dan dongeng itu penuh dengan bahasa suka dan duka tentang terbentuknya keluarga mereka.

Sulistio dan Sugiman, bersama dengan ratusan ribu, mungkin jutaan manusia lainnya, telah kehilangan wajah petani dan berganti dengan wajah “nir petani”. Tetapi benarkah mereka sudah kehilangan wajah petani mereka dan benar berganti rupa?

Mungkin benang merah itu yang akan mencegahnya dari perubahan total. Transformasi selalu berjalan lambat, bahkan sering pula terlalu lambat.

Udik Drs Sanjaya dan Wagimin

Tetapi tahun ini, Wagiman pemilik warung nasi sayur di pojok Cikini itu memutuskan untuk tidak pulang mudik. Lo! Apakah udik sudah tidak bercerita dengan bahasa yang menggetarkan tentang benang merah yang mengikat mereka. Tentu masih, Kata Wagiman. Tetapi warung nasi sayur ini sedang larisnya sekarang.

Meski lebaran, warung ini tetap ramai dikunjungi orang. Menampung mereka yang tidak pulang mudik, mengganti dan mengisi peranan kolega pemilik nasi sayur yang pada mudik.

Uang akan lebih banyak masuk, yang berarti uang yang dapat disisihkan untuk dikirim ke udik lebih banyak juga. Lumayan pak, orang-orang di desa sekarang sedang butuh tambahan dana untuk mencicil kerbau.

Baca Juga: Sufisme Orang Modern

Sementara itu, Drs. Sanjaya, yang menajdi salah satu direktur dari satu bank yang lagi naik daun juga, memutuskan untuk tidak pulang mudik ke Magelang. Dia memilih berangkat bersama seluruh keluarga  ke Hong Kong terus sambung ke Jepang. Akhir-akhir ini saya terlalu lelah, mas.

Saya mau lari ke tempat yang lain sama sekali. Nanti saja, kalau lalu lintas lebaran sudah sepi, saya sowan ke Magelang. Toh dana sudah saya kirim lebih dari cukup. Juga BlackForest dan Bikang Ambon yang harum itu sudah dikirim  beberapa hari yang lalu. Beres, kan?

Memang, mudik mungkin sudah semakin kaya maknanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here