Paket Deregulasi
Esai Rizal Ramli Tentang Paket Deregulasi yang terbit pada tahun 1995.

Paket Deregulasi – Suatu seminar besar tentang deregulasi di gelar bulan Lalu di Jakarta, disponsori oleh ISEI, UI, dan Bank Dunia. Kalau tidak salah, baru pertama kali suatu seminar di dalam negeri tentang kebijaksanaan ekonomi Indonesia disponsori oleh Bank Dunia.

Bank Dunia biasanya sangat hati-hati membicarakan atau melakukan penilaian tentang kinerja ekonomi  Indonesia secara terbuka di antara audience domestik.  Mereka biasanya sangat tertutup, lebih senang memberikan evaluasi dan rekomendasi melalui jalur-jalur resmi dan selalu bihind the colesed door.

Dari segi tradisi bihind the closed door, kejadian itu menarik karena beberapa hal. Seperti diakui oleh banyak pihak: kebijaksanaan reformasi ekonomi lewat paket deregulasi memang sudah terasa membosankan. Sudah kehabisan tenaga, bahkan ada yang mengatakan telah terjadi gejala fatigue (kelelahan) aparat birokrasi untuk mengambil inisiatif deregulasi. Dalam suasana fatigue tersebut, cara-cara bihind the colesed door  yang selama ini dianut menjadi tidak efektif.

Apalagi jalur-jalur lobi yang selama digunakan oleh Bank Dunia, yaitu kelompok “Mafia Bareley”, mengalami erosion of power and influences.  Tambahan pula, kredibilitas mereka di mata publik jauh merosot karena berbagai masalah kesenjangan yang terjadi, baik kesenjangan ekonomis, antara kelompok masyarakat, etnis, maupun regional tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab intelektual mereka.

Baca Juga : Petani dan Negara

Seperti kasus perang Vietnam, tidak semua kesalahan bisa ditimpakan pada political decision makers seperti Kennedy dan Nixon. Tetapi keputusan-keputusan Kennedy dan Nixon didasarkan pada input saran dan pilihan rekomendasi yang disiapkan oleh Mc Namara. Banyak orang menilai bahwa dosa Mc Namara bisa-bisa lebih besar dari Kennedy maupun Nixon. Sebagai planner dan actor intellectual, MC Namara yang mempersiapkan alternatif pilihan kebijaksanaan. Sebagai Planner, Mc Namara lebih sadar dan paham terhadap dampak dari pilihan kebijaksanaan yang direkomendasikannya.

Gejala fatigue tersebut tidak aneh terjadi karena Indonesia menganut prinsip  deregulasi secara gradual (bertahap).  Kebijaksanaan reformasi dilakukan secara bertahap dan pelan-pelan mulai dari tahun 1986 sampai saat ini.

Bisnis Terigu Liem Sioe Liong

Jika menyangkut kepentingan bisnis mereka, mereka akan melakukan lobi agar sektor yang  mereka kuasai tidak termasuk sektor yang dideregulasi. Atau jika tidak mungkin, diusahakan seolah-olah ada deregulasi tetapi sebetulnya tidak mungkin akan terjadi peningkatan kompetisi atau penurunan profitabilitas.

Sebagai contoh, banyak kritik rasional tentang inefesiensi ekonomis dan perilaku monopolis di subsektor bisnis terigu. Bisnis pengelolaan terigu, apalagi melalui interaksi vertikal dan horisontal, merupakan bisnis kelompok Liem yang paling menguntungkan. Karena desakan dalam maupun luar negeri, dan demi opini publik, dikeluarkan “paket deregulasi seolah-olah”.

Boleh ada investor baru dalam bisnis terigu asalkan 65% produknya harus ditujukan untuk ekspor. Ini kan deregulasi ajaib: wong group Liem saja tidak diwajibkan dan tidak melakukan ekspor produknya – lho kok investor baru diwajibkan untuk ekspor. Dan mana mungkin ekspor tersebut dilakukan karena harga produk terigu di Indonesia 20%-30% lebih mahal dari produk sejenis di Malaysia atau Singapura.

Baca Juga : Pinggang Ramping

Nah, itulah salah satu contoh dari kebijaksanaan “deregulasi  seolah-olah”. Seolah-olah ada deregulasi, tetapi sama sekali tdak mungkin bagi investor baru untuk masuk – sehingga tidak terjadi peningkatan kompetisi dan penurunan profitabilitas di sektor tersebut.

Ada lagi contog lain, pengumuman tentang penurunan tarif untuk air minum kemas. Ini kan betul-betul lelucon: Indonesia adalah eksportir neto air minum kemas sehingga dampak dari kebijaksanaan deregulasi tersebut tidak berarti. Permainan “seolah-olah” tersebut memang baik untuk opini publik karena dapat memberikan kesan bahwa kita sungguh-sungguh ingin melakukan reformasi ekonomi.

paket deregulasi
Esai Rizal Ramli Tentang Paket Deregulasi yang terbit pada tahun 1995.

“Deregulasi seolah-olah”

Deregulasi seolah-olah  bisa terjadi karena memang terdapat beberapa kelompok bisnis yang sangat kuat baik dalam pengertian dominasi usaha maupun dukungan politis. Untuk kelompok seperti itu, birokrasi tidak bisa berbuat apa-apa – paling-paling hanya mencoba mencari solusi kompromistis yang hanya bagus untuk opini publik tetapi tidak mempunyai dampak ekonomi sama sekali.

“Deregulasi seolah-olah” juga terjadi karena sering kali motivasi penyusunan deregulasi dikaitkan dengan rencana rapat tahunan kreditor Indonesia yang tergabung dalam CGI. Sidang CGI tahun ini akan dilakukan di Paris pada bulan Juli mendatang. Walaupun terus – menurus dibantah oleh kalangan resmi bahwa tidak ada kaitan antara pengumuman paket deregulasi dan sidang CGI, bantahan tersebut menjadi tidak efektif karena ada saja komponen kebijaksanaan deregulasi yang hanya “seolah-olah”  dan “pro forma”. Sehingga memang timbul kesan bahwa itu diperlakukan untuk melengkapi setoran “kado’ tahunan untuk  sidang CGI.

Baca Juga : Pangeran yang Terusir

Indonesia sudah merdeka 50 tahun, sudah waktunya kita tiak lagi mengambil inisiatif untuk reformasi ekonomi hanya dalam rangka pemberian ‘kado” kepada CGI. Kado yang lebih penting adalah untuk rakyat Indonesia dalam  bentuk peningkatan efisiensi ekonomi yang sungguh-sungguh. Untuk itu, jangan kecewakan masyarakat dengan kebijaksanaan “seolah-olah” pada pengumuman paket deregulasi minggu depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here