mules
Foto Umar Kayam, penulis Esai Senin Pagi Pascalebaran. Sumber: TEMPO

Lebaran- PADA HARI kedua lebaran, pagi-pagi, kami serumah dikejutkan oleh suara, “penggeng eyem, penggeng eyem,”  dari pak Joyoboyo.

Terkejut karena tidak masuk dalam perhitungan dan harapan kami bahwa pada hari kedua, yang mestinya harus reriungan dengan keluarga, Pak Joyoboyo sudah harus berajalan mengukur jalan berkilo-killlo panjangnya untuk menyunggi tenong di kepalanya. Tentu saja, suara cempreng itu kami terima dengan sangat senang.

Bagi si mBak yang datang dengan suami dan anaknya, si Gendut dan ibu anak-anak kedatangan Pak Joyoboyo itu adalah kesempatan bertatap muka dengan tokoh legendaris tersebut.

Bagi Mr. Rigen, yang kali ini tanpa Ms. Nansiyem dan Beni Prakosa tetapi ditemani oleh Madam yang spesial di impor dari Gunung Kidul, kedatangan Pak Joyoboyo juga suatu blessing karena mereka tidak perlu teralu panik lagi kekurangan lauk.

Pak Joyoboyo untuk sekejap kelihatan grogi mendapat sambutan yang demikian hebat. Bayangkan. Lain dari biasanya yang hanya disambut oleh ketiga orang termasuk si bedes Beni Prakosa, kali ini tidak kurang dari delapan orang mengepung dan merubung dia.

Tetapi, Pak Joyoboyo bukanlah Pak Joyoboyo kalau tidak dapat lepas dari tekanan tatapan dari delapan orang saja. Dengan roso percaya diri yang meyakinkan tenong itu dengan sebat diturunkan. 

Lantas dibuka dan dengan sebat pula potongan-potongan ayam itu digelar, disusun menurut gelar perang Bratayuda, yaitu gelas Supit Urang ala divisi Hastina Versus Gelar Garuda Nglayang ala divisi Pandawa.

Bagi saya dan Mr. Rigen pertunjukan gelar itu sudah merupakan show of force biasa. Tetapi, bagi brayat saya dari Jakarta pertunjukan itu adalah pertunjukan yang mengagumkan.

Si gendut yang ahli komentar spontan memberikan kesan yang pertama.

“Wah, keren, lho. Kayak parade senja tujuh belasan di istana Jakarta.”

Saya yang selalu peka buat komentar-komentar yang bisa mengganggu stabilitas nasional segera membentak dia.

“Hus! Yang benar. Masak ABRI kau samakan dengan penggeng eyem. Ayo, cabut komentarmu. Nanti tak cabut izin makanmu, lho?”

“Eh, sori. Kayak parade satpam di Cipinang Indah. Ning pating pletot itu pak, kalo parade satpam Cipin.”

“Yo ben. Pokoke jangan ABRI. Pokoke ABRI itu sudahlah…”

Niki, Den, Pak. Sedaya sudah siap diganyang.”

Maka dengan sebat sekian banyak tangan pada sraweyan menuding-nuding gelar perang Bratayuda tersebut. Dalam sekejap susunan barisan, baik yang Kurawa maupun Pendawa, jadi bubrah berantakan berpindah tangan.

Baca Juga: Mudik

Si mBak dan suaminya, Mr. Kebumen, dan anak mereka si Kenyung, dan si Gendut segera pindah ke meja makan langsung sarapan dengan panggang ayam, meskipun rambut mereka masih dawul-dawul  dan pojok-pojok mata mereka masih gemerlapan oleh putihnya setep-setep mereka.

Saya dan istri karena manula-manula ya harus kalem-kalem duduk nyawang mukti-nya anak-anak yang pada reriungan di seputar meja makan dan nyawang Mr. Rigen, Madam berdialog dengan Pak Joyoboyo.

Dialog Pak Joyoboyo, Mr. Rigen,dan Bu Madam

“Ha enggih, Mas Joyo. Wong hari kedua lebaran kok ya sudah ke lur jualan niku pripun.”

“Ha Sampeyan sendiri bagaimana, Bu Madam? Lebaran-lebaran kok malah di kuta. Dan Mas Rigen juga kok ya nggak nyusul istri pula ke ndesa?”

“We, lha.  Kalo saya tidak sepiksial turun dari Tepus ke sini sido brantakan kerjaan Rigen di sini. Tuwek-tuwek begin saya sepiksial diimport Pak Ageng, lho.”

Lha kula ya begitu, Mas Joyo. Kalo saya nyusul mboke tole dan tole Beni lha kasihan tamu-tamu dari Jakarta mesti isahisah piring dan cuci pakaian.”

Lha, ‘kan sama saja to dengan saya. Pokoke  kalo buat wong cilik seperti kita-kita ini mesti lain etungan-nya!”

“Pripun, Mas Joyo.”

Ha, enggih, to, Bu Madam. Nek kulo reriungan penuh di rumah kerjaan keter, uang tidak masuk dan para bos-bos pada kekurangan lawuh. Mangka  anak-anak di rumah habis liburan ini butuh banyak pengeluaran sekolah. Lha, sampeyan berdua ‘kan ya sama saja, to? Etungan-nya kalo reriungan di sini ‘kan ya lumayan persenpersen dari keluarga bos sampeyan niku.”

Kedua orang itu tertawa nyekikik merasakan kenanya analisi Pak Joyoboyo yang selalu waskito itu.

“Sudah to. Reriuangan keluarga itu buat kita-kita ini sak cukupnya saja. Wong butuh kita lebih banyak dari bos-bos niku. Kalau beliao-beliao itu memang harus reriungan. Wong hidupnya mencar-mencar dengan keluarganya. Lha, yang tidak mencar-mencar dengan keluarganya ya harus reriungan. Jeneh bagaimana kalo tidak. Terus yang jualan ketupat, bubuk dele,  ayam, krecek, pete, tolo, dan sak ubarampe-nya makanan lebaran itu terus siapa?

Itu kuwajiban para priyayi untuk menyediakan makanan lebaran yang mbruwah begitu. Mangkin mbruwah semakin baik buat mereka dan yang penting juga buat kita-kita ini wong cilik. Gitu lho, Mas Rigen, Bu Madam, ekonomi-ne lebaran. Makanya sudah betul kita hadir di sini waktu lebaran itu. Pun ah, kula bade nerusaken lampah.”

Baca Juga: Mudik Lebaran dan Rigenomics

Dan Pak Joyoboyo pun, sesudah mengantongi uangnya dengan sebat dan gembira, meneruskan perjalanannya dengan disertai suara nan cempreng, penggeng eyem, penggeng eyem.

Pascalebaran
Foto Umar Kayam, penulis Esai Pascalebaran. Sumber: TEMPO

Saya dan istri masih duduk berpandang-pandangan. Masih tengertenger, kamitenggengen mendengar penjelasan Pak Joyoboyo tentang sosiologi dan ekonomi lebaran.

Kadang-kadang saya curiga jangan-jangan Pak Joyoboyo itu seorang pakar ilmu sosial tamatan luar negeri yang menyaru sebagai rakyat jelata ingin mengece kaum kelas menengah yang feodalnya nggak ketulungan seperti saya.

Atau jangan-jangan malah teoritikus Marxis! Habis penjelasannya itu sering kali begitu  penuh dengan analisis kelas.

“Wah, Pak Joyoboyo itu hebat tenan lho, Pak. Dia itu bisa kita katakana sebagai filsuf sosial alam, Pak.”

“Eh, betul, Bune. Ahli ilmu sosial dan sekaran filsuf sosial.”

Kami berdua kemudian terdiam. Mungkin kami sama-sama ingat hal yang sama. Kasbon kami di kantor kami masing-masing semangkin menumpuk uat lebaran tahun ini.

Yah, kalo menurut Pak Joyoboyo, demi menjaga fungsi reriungan lebaran kaum kelas menengah, to?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here