Konsep bangsa
Ong Hok Ham, Sejarawan Indonesia.

Perjanjian Linggajati-Buku ini mengupas hasil persetujuan perjanjian Linggajati. Namun, tidak membahas persiapan pihak Indonesia. Apakah karena terbatasnya dokumen tertulis?

Judul     : Persetujuan Linggajati: Prolog dan Epilog

Penulis : Dr. Mr. Ide Anak Agung Gede Agung

Penerbit: Yayasan Pusataka Nusatama–Sebelas Maret University Press, Yogya, 1995; 445 halaman.

Dr. Anak Agung adalah seorang tokoh politik yang, pada zamannya, memainkan peran yang tak kecil dalam sejarah Indonesia masa kini. Tokoh dalam politik federal ini pernah menjadi Menlu Republik Indonesia; dan pada masa Orde Baru menjadi Dubes di Austria.  Dilahirkan 74 tahun lalu sebagai anak raja Gianyar, Bali, ia kini, setelah pensiun, menjadi sejarawan dan penulis.

Ada beberapa buku karya Anak Agung, di antaranya Politik luar negeri republik Indonesia, renville, dan biografinya – yang kini menunggu jilid kedua – yang tentunya bakal mengungkapkan peran aktifnya semasa jaya.

Persetujuan Linggajati, sebagaimana persetujuan yang lain dengan Belanda yan menyangkut kemerdekaan Indonesia, memuat bagian inti “federalisme” atau Indonesia Serikat,” baik itu persetujuan Linggajati, Renville, maupun Konperensi Meja Bundar (KMB).

Tapi, dari permulaan proklamasi, inisiatif perkembangan politik berada di tangan Indonesia (Soekarno dkk).  Dengan singkat, Soekarno dapat menciptakan diri sebagai lambang revolusi, kebangsaan, antikolonialisme-imperialisme. Soekarno sendiri memenjarakan Anak Agung.

Baca Juga : Minoritas & Keluarga dalam Pertumbuhan Kapitalisme

Anak Agung yang tokoh politik zaman itu, ketika Linggajati dirundingkan dan disetujui, tidak terlihat. Juga tidak pada Perjanjian Renville-sepanjang pengetahuan saya. Baru pada KMB, ia terlihat perannya.

Perjanjian Linggajati gagal dalam menyelesaikan pertikaian Indonesia – Belanda. Masalah kegagalan inilah yang seharusnya lebih menarik perhatian daripada dicapainya persetujaun. Kegagalan persetujuan Linggajati berdampak pada psikologi rakyat.

Prolog dan epilog Perjanjian Linggajati seharusnya dijelaskan melalui akar budaya dari hubungan ratusan tahun antara Indonesia (Jawa) dan Belanda, yang mungkin kurang disadari oleh Anak Agung yang dari Bali.

Belanda sama sekali tidak siap menghadapi proklamasi dan revolusi Indonesia. Pada permulaan proklamasi (1945-1956), para politisi Belanda lebih memperhatikan masalah politik,yang tidak mencapai mayoritas di parlemen dan terbagi-bagi dalam fraksi-fraksi, daripada menghadapi isu nasional.  Secara psikologis, Belanda merasa Proklamasi Indonesia sebagai tamparan anak pada ayah, kurang ajar dan menyakitkan.

Masalah Polisi Bersama

Secara teknis, memang ada berbagai perselisihan pendapat, masalah polisi bersama (gtendarmeri), dan aktivitas Indonesia di luar negeri yang meminta pengakuan dari negara-negara Arab, India, dan lain-lain.

Sementara itu, Inggris, Amerika, dan Australia mengira sudah tak ada lagi perbedaan pendapat tentang pelaksanaan Perjanjian Linggajati itu. Padahal, perjanjian itu  berakhir kandas dan Belanda, pada 20 Juli, melancarkan serangan ke Republik Indonesia.

Masalah lain yang menyebabakan konflik fisik antara Belanda dan Indonesia adalah tentara. Tentara ini mungkin hanya golongan yang paling banyak mencerminkan prasangka budaya. Jenderal Spoor, panglima KNIL, dan Laksamana Pingke (yang terkenal konservatif) keberatan terhadap masalah gtendarmeri bersama, dan mendorong untuk aksi militer. Tentara Belanda, melalui mobilisasi umum, memang didatangkan ke Indonesia (Jawa) untuk aksi militer.

Baca Juga : Gaji & Korupsi Sepanjang Masa

Perjanjian Linggajati
Cover buku Persetujuan Linggajati Prolog & Epiloog

Sikap Panglima Besar Soedirman

Pada lain pihak, Panglima Soedirman sendiri sangat anti Perjanjian Linggajati. TNI keberatan atas masalah polisi bersama seperti yang disetujui dalam perjanjian itu. Hal itu memungkinkan terjadinya intervensi militer Belanda.  TNI curiga, pasal ini akan digunakan Belanda untuk menduduki daerah republik secara militer.

Studi buku ini agak berat sebelah. Dalam arti, fokus kisah Perjanjian Linggajati terlalu melihat pada proses-proses dan dinamika Belanda daripada Indonesia.

Namun, ini bukan kesalahan penulis. Sebab, mungkin, tak pernah ada satu dokumen-dokumennya seperti republik ini, termasuk dokumen-dokumen dasar, seperti dokumen proklamasi dan Supersemar yang hilang.

Jadi, mungkin, Anak Agung tidak dapat – mudah-mudahan hanya tidak sempat – melakukan studi dengan fokus Indonesia.  Anak Agung memang menulis mengenai tercapainya Perjanjian Linggajati dan tentang hubungan Indonesia –Belanda. Ia tidak bermaksud menulis sejarah revolusi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here