Ekonomi Filipina
Foto Winarno Zain, Penulis Esai Ekonomi. Sumber Foto: TEMPO.

Ekonomi Filipina – Sebagai menteri keuangan Filipina, yang baru dilantik Presiden Cory Aquino, Jaime Ongpin akan menerima gaji US$ 300 per bulan. Jumlah itu tidak ada artinya dibandingkan gajinya sebagai direktur Benguet Corporation, perusahaan pertambangan raksasa di Filipina, sebesar US$ 6.250 per bulan.

Jaime Ongpin, pengkritik keras kebijaksanaan bekas presiden Ferdinand Marcos yang selalu mementingkan monopoli perusahaan keluarga dan teman-temannya, dan karena itu dia harus bertengakar dengan adiknya, Roberto Ongpin yang menjadi menteri perdagangan dan industri di bawah Marcos.

Karena perlawananya terhadapa Marcos itu, Jaime Ongpin terpaksa menjadi salah seorang yang tidur di lantai Camp Crane, bersama Jenderal Fidel Ramos dan Menhan Juan Ponce Enrile, ketika kompleks itu dikepung tank-tank pendukung Marcos.

Kini, Jaime Ongpin diserahi tangung jawab untuk membenahi ekonomi Filipina yang hancur. Dapatkah manajer swasta ini menegakkan kembali sebuah perusahaan bernama ekonomi Filipina, yang paling sakit di Asia? Tantangannya cukup berat. Industri Filipina sangat parah, dan sampai sekarang masih banyak pabrik yang tutup. Tak ada yang bisa mengimpor bahan baku, karena tak ada devisa. Sementara itu, industri yang masih jalan pun hanya bekerja dengan 40% kapasitas.

Selain itu, pengangguran masih meluas. Harga gula, minyak kelapa, dan tembaga – tiga komoditi ekspor utama Filipina – masih terus merosot di pasaran Internasional. PDB Filipina, yang hanya sepertiga PDB Indonesia, dua tahun terakhir ini, sudah mengecil 10%.

Utang luar negeri Filipina yang sudah mencapai US$ 27 Milyar merupakan utang  ketiga terbesar di Asia, sesudah Korea Selatan dan Indonesia. Di samping itu, Marcos mewariskan pula sebuah ekonomi feodal, tempat restu Istana menentukan nasib bisnis seorang pengusaha. Struktur monopoli dan manipulasi sudah melembaga jauh di dalam.

Prioritas Utama, Rakyat  Filipina Bisa Makan

Demikian parahnya ekonomi Filipina hingga Jaime Ongpin merasa kebijaksanaan ekonomi yang konvensional tidak akan jalan. Sehingga, untuk sementara, Filipina tak bermimpi meningkatkan ekspor maupun industrinya, seperti yang sedang dilakukan negara-negara tetangganya.

Kebijaksanaan baru ekonomi Jaime Ongpin cukup menarik perhatian, karena merupakan campuran antara kebijaksanaan ekonomi ortodoks dan radikal. Pangan, pertanian, dan pembangunan desa akan diutamakan. “Yang penting, rakyat Filipina harus cukup makan dulu. Yang lain, soal kedua, “katanya kepada pers, baru-baru ini.

Untuk bangkit kembali, ekonomi Filipina jelas perlu modal. Tapi, Jaime Ongpin tak akan merayu modal asing secara berlebihan. Kalau mau tanam modal, silakan, tapi tak akan ada perlakuan istimewa. Baginya yang perlu adalah adanya kepercayaan. Dia yakin, begitu orang Filipina sendiri mulai menam modal, pengusaha asing pun akan menyusul.

Baca Juga: Novel Cause

Sebuah revolusi biasanya diikuti dengan penyitaan dan nasionalisasi perusahaan-perusahaan swasta. Tapi, Jaime Ongpin punya filosofi khusus. “Pemerintah harus meninggalkan kegiatan bisnis,” kataanya, “Swastakan  semua apa yang bisa diswastakan.” Pernyataan aneh dari seorang menteri keuangan, bukan?

Pandangan Jaime Ongpin tentang peranan swasta tentunya tidak berasal dari gelar M.B.A. yang diperolehnya dari Universitas Harvard ketika dia berumur 23 tahun. Sebagai eksekutif perusahaan swasta, selama lebih dari 20 tahun, ia tahu betul apa artinya efisiensi, persaingan, dan inovasi.

Pengalamannya menghadapi birokrasi Marcos meyakinkan dirinya, campur tangan pemerintah ke dalam bisnis secara berlebihan sangat merusakkan. Baginya, birokrasi yang lebih kecil bisa menutup lubang-lubang untuk korupsi.

Ekonomi Filipina
Foto Winarno Zain, Penulis Esai Ekonomi. Sumber Foto: TEMPO.

Bantuan Luar Negeri Diberikan Pada Perusahaan Swasta, Khususnya Pertanian

Pandangan Jaime Ongpin tentang bantuan luar negeri juga cukup radikal. Kepada pers, baru-baru ini, dia mengatakan, bantuan luar negeri yang diterima Filipina tak akan disalurkan lewat lembaga-lembaga pemerintah. Selama ini, bantuan luar negeri merupakan makanan yang empuk untuk korupsi pemerintahan Marcos.

Jaime Ongpin tak mau pengalaman pahit ini terulang. Dan, dia merencanakan bantuan luar negeri untuk Filipina digunakan buat modal perusahaan swasta, terutama yang bergerak di sektor pertanian.

Tapi, Jaime Ongpin tak akan bisa melaksanakan prinsip-prinsipnya dengan mudah. Rakyat Filipina yang Katolik, dan mungkin Gereja Katolik sendiri, sudah terbiasa dengan ide “keadilan sosial” yang hanya bisa datang dari penguasa. Di samping itu, sentimen antibisnis juga masih kuat setelah Marcos mengotori praktek-praktek bisnis.

Baca Juga: Diciduk, setelah ketemu Sudomo

Sebagai manajer profesional, Jaimen Ongpin mungkin dari pagi sampai malam hanya memikirkan persaingan, efisiensi, dan inovasi. Responsnya terhadap tantangan yang akan dihadapi sebagai menteri keuangan akan lewat nalurinya sebagai seorang manajer. Sebab, Jaime Ongpin tak pernah jadi birokrat.

Mengelola ekonomi negara mungkin sama dengan mengelola sebuah perusahaan. Tapi, ada prinsip-prinsip tertentu yang harus dipatuhi. Jaime Ongpin, menyadari benar hal itu. Maka, ia sebagai seorang manajer swasta – Jaime Ongpin adalah pengusaha tembaga – diserahi tugas mengelola ekonomi Filipina. Dan, kini seluruh dunia menunggu revolusinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here