Negeri Belanda
Foto Kuntowijoyo. Sumber: TEMPO

Negeri Belanda – Kisah keluarga Indo menjelang perang kemerdekaan. Ungkapan nostalgia, dan lukisan lingkungan budaya yang terombang-ambing. “Ah, Tante, sayang sekali mereka hitam,” kata seorang tokoh – dan merea makan sambal.

Judul: Faded Portraits

Penulis: E. Breton de Nijs

Penerjemah: Donald dan Elsje Sturtevant

Penerbit: The University of Massachusetts Press, Amherst 1982

Cetakan Pertama, 152 halaman + Notes, Glossary

Sesudah Tante Shopie dikuburkan, “ada selalu yang membuat pedih ketika cahaya siang memudar dan bayang-bayang memanjang.” Dan, “cahaya yang menghilang itu seolah dengan kasar mengkhianati hari panjang yang pelan-pelan menyurut.”

Roman sosial ini menyuguhkan akhir kisah sebuah keluarga Indo di Indonesia, yang sejarahnya sudah dimulai sejak awal abad XIX. Tante Sophie, yang tak berputera dan meninggal tahun 1940, adalah ibu keluarga besar De Pauly, yang selalu siap mengorbankan kepentingannya sendiri untuk menjaga, “martabat famili”.

Dalam sebuah keluarga yang terombang-ambing antara dua tanah air, dua bangsa, dua budaya, dengan sekuat tenaga Tante Sophie berjuang untuk menanamkan budaya barat.

Baca Juga: Mencari Keadilan di Zaman Kolonial

Tiga anak perempuan saudara lelakinya, Oom Alex, dimintanya tinggal di rumahnya di Jalan Salemba. Ia khawatir anak-anak itu akan menjatuhkan nama keluarga dengan menguburkan diri di tengah lingkungan Timur di bawah pengaruh ibunya, seorang pribumi bernama Titi.

Buku ini sebagian besar menceritakan tingkah-laku Tante Sophie, termasuk perkawinannya dengan Oom Tjen, dalam perjuangannya untuk hidup “secara terhormat.”

Potret Keluarga Belanda di Batavia

Karya sastra ini penuh warna lokal yang melukiskan lingkungan dengan kecermatan mengagumkan. Kita jadi tahu kehidupan orang-orang Indo di Jakarta sebelum perang. Bahwa mereka makan sambal, serundeng, babi kecap, sayur lodeh, masakan yang bahkan mereka bawa setelah mereka “kembali” ke Negeri Belanda.

Para perempuan yang meningkat tua mengenakan sarung kebaya. Lelakinya memakai piyama batik dan baju potong Cina.

Mereka akan kecewa bila anak-anak mereka dilahirkan berkulit hitam, seperti ana-anak Oom Alex itu. Si gadis Indo yang kebetulan berkulit putih mengomentarinya: “Ah, Tante Shopie, sungguh sayang kulit mereka hitam.” Mereka berbahagia dengan kulit putih dan rambut pirang.

Baca Juga: Saksi Rezim Demokrasi Terpimpin

Di tengah kebiasaan rujak, jamu, pijat, dukun, dan slametan (di luar rumah-utama, mendatangkan haji dengan santri dan perlengkapannya), mereka membuat jarak dngan para babu dan jongos pribumi. Bahkan Titi, ibu dari anak-anak gadis yang diperkenankan tidur di rumah-utama itu, harus tidur di bagian rumah luar, tidak di rumah-utama, bila berkunjung.

Demikian pula Titi melayani Oom Alex lebih sebagai babu daripada istri. Keluarga De Pauly sendiri menyebutnya “perempuan dengan siapa Oom Alex hidup bersama.” Tetapi penutur cerita, Ed, rupanya ingin memuliakan Titi – dan dengan demikian seluruh pribumi – dengan memuji tindakan lebih atau kurang dari makamnya. “Tidak ada yang lebih indah dari makam Islam yang ditumbuhi pohon kamboja.”

Seluruh roman ini penuh kenangan kemanusiaan, yang hanya mungkin ditulis oleh mereka yang telah kehilangan dan yang merindu.

Negeri Belanda
Foto Cover Buku Faded Portraits. Sumber: TEMPO.

Membaca Karya Ini Kita Disuguhi Sebuah Kebenaran Sejarah

Melalui sebuh keluarga, penulisnya berhasil menghidupkan kembali suatu kurun sejarah yang menyangkut orang-orang Indo di Batavia dan Negeri Belanda. Kita dapat membayangkan kerinduan pada tempo doeloe (penulisnya juga menerbitkan kumpulan foto zaman Hindia-Belanda dengan judul Tempo Doeloe) yang memburu para émigré indo.

Membaca buku ini kerinduan mereka yang sekarang tinggal di Negeri Belanda, dan yang secara pasti akan membaur dengan masyarakat Eropa, akan terpuaskan atau sebaliknya, akan lebih menganga.

E. Breton de Nijs, nama aslinya ialah Rob Nieuwenhuys, dilahirkan di Semarang tahun 1908. Ayahnya seorang Totok, ibu campuran – yang dari garis ibu berdarah Solo. Setelah tamat dari Universitas Leiden, tempat ia belajar hukum adat, ia kembali ke Jawa dan mengajar di Semarang (1935 – 1940).

Tahun-tahun 1940 -1942 mengajar di Jakarta dan sampai 1945 meringkuk dalam kamp tawanan Jepang. Setelah tinggal sementara di Negeri Belanda ia kembali ke Indonesia (1947 – 1952), dan seterusnya menetap di Negeri Belanda.

Baca Juga: Nyanyian Seorang Aborijin – Jeritan dari Benua Selatan

Bukunya Faded Portraits ini, satu-satunya roman yang ditulisnya, ialah terjemahan bahasa Inggris dari Vergeelde Portretten uit een Indisch familiealbum (1945) yang juga telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul Bayang-bayang memudar – Pustaka Jaya, 1975, terjemahan Sugiarta, Sriwibawa dan Toto Sudarto Bachtiar, dan telah diulas oleh Soebagjo Sastrowardojo dalam Budaya Jaya Desember 1977.

Bukunya yang lain, Oost Indische Spiegel, telah diterjemahkan pula ke bahasa Indonesia menjadi Bianglala Sastra: Bungarampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia–Djambatan, 1979, terjemahan Dick Hartoko.

Sebagai hasil sastra buku ini ditulis dengan gaya yang jernih dan lancar, yang mengingatkan orang akan karya-karya sejenis dari Du Perron dan Couperus. Kita pun jadi terkenang kepada sebagian dari sejarah Indonesia, dan begitu mengesan ratapan itu sehingga kita cenderung mengatakan.

“Ah, Ed, aku ingin memberikan Indonesia kepadamu.” Ya setidaknya melalui lukisan pemandangan sawah dan gunung yang ada di rumah-rumah mereka di Den Hag atau Arnhem.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here