mules
Foto Umar Kayam, penulis Esai Senin Pagi Pascalebaran. Sumber: TEMPO

Lebaran – Hari baru berangkat malam, tegukan kolak terakhir masih terasa manisnya, tatanan untuk santap malam baru selesai disusun di meja, Mr. Rigen & Family sudah mengajak konperensi meja bundar di seputar meja pei saya.

Mereka, Mr, Rigen, Ms. Nansiyem, dan Beni Prakosa pada duduk bersila ngedepes bagai abdi dalem kraton duduk caos di dalam istana.

“Pak Agung, kami mohon petunjuk, sokur-sokur lengkap dengan tor dan juklaknya tentang menghadapi lebaran yang akan datang.”

“Weh, juklak? Tor? Elok, lho kowe! gek dari mana kamu dapat istilah itu Mister?”

Mr. Rigen meringis, menunjukkan bahwa, meskipun dia cuma jebolan SD van Pracimantoro, ia tetap terus up to date  mengikuti perkembangan istiah negara kita yang semangkin modern dan canggih ini.

“Lha, ya. dari teman-teman yang nderek bapak-bapak propesor ngadministrasi yang pinter-pinter itu to, Pak?”

“Coba bagaimana kamu tahu arti tor dan juklak itu?”

Cerita Juklak dan Tor

“Lha, begini. Satu hari saya mau ngampiri mereka sama-sama belanja ke pasar Kranggan. Rupanya bapak-ibu propesor itu mau masak besar. Lha, Min itu kelihatannya kok bingung mengingat-ingat yang mesti dibelanja. Pak Propesor itu kehilangan kesabarannya. Dengan gemas begitu beliau berkata: “Lha, tadi ‘kan sudah jelas tor dan juklaknya dari ndoro putrimu he? Tor-nya hari ini hari istimewa karena letje hari ini yahrer…..”

“Tunggu dulu Mister, saya potong dulu. Yahrer apa itu?”

“Allah, Pak Ageng mesti pura-pura nggak tahu, lho. Itu lho cara Landanya ulang tahun.”

“Oh , ya, ya maafkan kalo aku lupa. Tak kira maksudmu itu jarig gitu, lho.”

“Lha, enggih, yahrer! Lha sekarang saya teruskan, nggih? Pak Propesor ngendika lagi: Juklaknya kau pergi ke toko daging Andini Sakti beli buntut, baru belanja ke pasar, terus habis ke toko trubus beli macam-macam jajanan.

Baca Juga: Mudik

Huu, gitu saja bingung. Kalo tor dan juklak itu sudah jelas semua ya beres, bento! habis itu, pak, si Min itu sedikit-sedikit sama konco-konco-nya ngomong juklak sama tor saja. Mau bal-balan tor dan juklak, mau ronda tor dan juklak, mau nebak buntut tor dan juklak. Sampain kita semua sekarang ketularan tor-juklak, tor-juklak, tor juklak……”

“Dapurmu, Gen, Gen. Sudah sekarang cepet kalian memangggil sidang pleno meja-bundar-darurat ini apa? Mana aku baru buka sama kolak dan teh panas. Ayo cepetan aku selak lapar.”

Mrs. Nansiyem Kangen Kampung Halaman

Pokoknya Mr. Rigen & Family Ramadan menjelang lebaran ini menghadapi dilema gawat. Biasanya pada tahun-tahun yang lalu mereka selalu nir-dilema. Jelas keputusan mereka. Mereka mau tetap di Yogya, karena semua kerabat saya dari mana-mana pada berkumpul di sini waktu lebaran itu. Dan itu berarti: persen, persen, dan persen.

Tatapi sekarang tiba-tiba Ms. Nansiyem sangat kangen, rindu kepada desanya di Jatisrono sana. Itulah dilema itu. Kalo dibiarkan istrimu pergi, itu berarti seluruh Rigen Family akan harus ikut, itu brarti juga nir-persen, nir-persen, dan nir-persen. Saya manggut-manggut mencoba menjajagi Ms. Nansiyem.

lebaran
Foto Umar Kayam, penulis esai tentang Pulang, Mudik dan Lebaran. Sumber: TEMPO

“Lha, kamu kok tiba-tiba kangen sama ndesamu itu kenapa to, Nyah? Wong tahun lalu simbok-mu ya kesini, lho.”

“Lho, saya itu tidak cuma kangen Simbok, adik-adik, dan sanak yang lain, Pak.”

“Saya itu kangen juga sama sawah, padi yang ijo, kali yang mengalir, kerbau, sapi, dan kambing, suara anak-nak desa teriak-teriak…….” Mr. Rigen tidak sabar terus saja memotong.

Baca Juga: Puasa

“Wooo, Bune, Bune. Wong sawah bukan punya simbokmu, kerbau, sapi, kambing juga punya orang lain, gunung-gunung pada gundul kok dikangeniii!”

Saya yang baru terlena membayangkan puisi Ms. Nansiyem jadi penasaran juga mendengar suara Mr. Rigen yang sangat prosais berorientasi kepada kelas.

“Hus, mbok biar, istrimu cerita tentang kekangenannya. Teruska, Nyah!”

“Lha, enggih niku to, Pak. Pake Beni itu bangsa yang gitu-gitu mana mau tahu. Taunya cuma ekonomi saja.”

“Wah elok. Tadinya suaminya tor-julak, sekarang istrinya ekonomi. Nanti Beni ngomong apa lagi, nih”?

“Begini lho, pak. Kalau saya terlalu lama tidak lihat semua tadi hati saa jadi nglangut, sedih. Lha kerjaan saya jadi kacau. Begitu, lho, Pak.”

Kompromi Pak Ageng dengan Kitchen Cabinet

Tiba-tiba suasana rapat menja bundar jadi sepi seperti ada syaiton lewat. Baru kaget semua waktu Beni Prakosa menggebrrak meja. Der!

“Kok diem semua, to! Terus makannya itu kapan? Saya lapar, Pak Ageng!”

“Yo, yo, Le. Pak Ageng juga! Begini saja komprominya. Dengarkan! Mr. Rigen antar istrimu ke Jatisrono, tapi Mr. Rigen harus segera kembali ke sini. Ms. Nansiyem & Beni boleh tinggal di desa sepuasnya. Sementara mereka pergi datangkan Madam dari Tepus. Setuju semua?”

“Setujuuuu, Pak Ageng!” Saya meringgis. Tentu saja mereka semua setuju. Apa ada pilihan buat mereka?

Baca Juga: Zakat

Tetapi, toh rapat meja bundar itu menarik juga. Ms. Nansiyem yang pendiam, jebolan SD juga, tahu-tahu punya roso puisi yang terpendam. Dan waktu itu tidak tertahan muncul, persen-persen tahunan yang gede apa disuruhnya minggir. Apa ora elok?

LHA, waktu saya di Jakarta  kemarin, juga ada rapat  meja bundar di Cipinang indah. Wong saya yahrer (menurut istilahnya Mr. Rigen). Tetapi, topiknya bukan soal yahrer saya. Itu sih rutin tahunan yang biasa, kata anak-anakku.

Yang penting nanti waktu lebaran sehabis nyekar embah kakung di Bonoloyo terus mau ke mana? Wong restoran sak Solo tutup itu, Pak? Celaka! Mengapa anak-anakku tidak ada yang berbakat puitis seperti Ms. Nansiyem. Anak-anak metropolitan yang hedonis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here