mules
Foto Umar Kayam, penulis Esai Senin Pagi Pascalebaran. Sumber: TEMPO

Sawang-Sinawang – Menurut para pengamat budaya Jawa, konon orang Jawa itu sangat mementingkan keselarasan, harmoni, dan sejauh mungkin menghindari konfrontasi dan konflik.

Konfrontasi dan konflik akan membuat suasana tidak laras, dan tidak apik. Dan seterusnya akan membuat jagat menjadi gonjang-ganjing, unsur-unsurnya pun akan mreteli, lepas satu demi satu, dan akhirnya, akan berantakan jagat yang sebelumnya mengikat orang-rang Jawa itu selaras dan seimbang dalam keindahan.

Apakah itu berarti bahwa orang Jawa tidak pernah berani menatap muka orang? Bayangkan, satu dunia yang terdiri dari orang-orang yang membuang muka atau menundukkan kepala (dengan malu-malu atau tidak) setiap bertemu muka dengan orang demi keselarasan dan keindahan.

Baru membayangkan setu bagian kecil saja dari dunia orang Jawa, Malioboro, misalnya, penuh dengan orang-orang yang begitu sudah sulit, apalagi suluruh jagat jiwa seluruhnya. Kalau begitu, apakah orang-orang Jawa sudah menjadi tawanan kearifan pandangan hidupnya sendiri?

Baca Juga: Mudik

Menjadi suku yang minggrang-minggrang, terus-menerus dihantui suara hati yang dengan nada serak berkata: mengko disik, le, mengko, gek, jangan-jangan…..! Takut atau segan bertatap muka, lebih baik minggir dan menundukkan kepala agar kemungkinan konfrontasi atau konflik dapat terus menerus diperkecil.

Lantas bagaimana Mas Giman bisa mengatakan kalau Pariyem barwajah huuh menggemaskan atau Denmas Suryodicokroingjonggo dapat bilang kalau Rara Lara Ireng Black Sweet alias Ireng Manis, kalau mereka terus menerus saling menghindar menundukkan kepala?

Mestinya Mas Giman berani menatap (dengan jakun atau kalamenjing naik turun) muka Pariyem untuk sampai pada kesimpulan “huuuuh…..” itu. Atau Denmas yang namanya dapat melingkari beringin kurung di alun-alun itu Pastilah pernah dengan mata membelalak mengamati gerak-gerik dan lenggak-lenggok den rara  itu untuk menetapkan bahwa gadIs yang tingal di pojok beteng itu hitam manis.

Ternyata, untuk satu jebakan filsafat hidup selalu ada semacam safety device alias alat penyelamat untuk keluar dari kesulitan kearifan pandangan hidup yang dibikin sendiri.

Konon, hanya bangsa yang besar yang akan dapat secara kreatif berkelit menciptakan alat penyelamat tersebut. Dan bangsa Jawa itu, telah menciptakan alat penyelamat tersebut.

Baca Juga: Mudik Lebaran dan Rigenomics

Sawang-sinawang, memandang – (dan) – dipandang. Hidup itu hanya sekedar sawang-sinawang kata para filsuf Jawa. Dan karena saya bukan filsuf (untuk mata kuliah filsafat yang angker itu saya hanya lulus pas-pasan), saya membuat tafsiran sendiri tentang sawang-sinawang itu.

Begini. Orang Jawa sudah terlanjur menjebakkan diri dalam pegangan “keselarasan apa pun bayarannya” dan “emoh konfrontasi karena itu tidak edi peni.”

Padahal alangkah banyaknya keindahan di dunia ini yang harus dilihat, ditatap, dan dinikmati. Maka mesti ada akal, dong, untuk dapat keluar dari dilema tersebut. Dengan strategi dijupuk iwake aja nganti butek banyune, diambil ikannya (tetapi) jangan sampai keruh airnya, digalilah dari akar budaya bangsa Jawa sendiri, pandangan hidup sawang-sinawang itu.

Keselarasan harus tetap dijaga, konfrontasi harus tetap dihindari, tetapi nyawang memandang dari satu jarak tertentu, ya boleh, to?

Nyawang dan disawang (karena dalam jarak tertentu yang tidak terlalu dekat) berada dalam titik netral yang tidak mungkin mengundang konfrontasi dan merusak harmoni.

Sawang-Sinawang Saat Open House

NAH, pada hari lebaran itu (meski dianjurkan jangan) sahabat saya yang jadi petinggi di daerah ini kok nekat membuat open house. Dan yang aneh juga kok saya dan istri saya berani-beraninya datang! Begitulah pada siang hari itu kami tahu-tahu sudah berada di tengah pusaran manusia di rumah sang petinggi yang indah.

Salam-menyalam, lempar-melempar senyum, rangkul-rangkulan dan tentu saja (karena modelnya begitu) sun di pipi kiri dan kanan. Saling memaafkan pun bergumam di sela segala olahraga itu.

sawang-sinawang
Foto Umar Kayam, penulis Esai Sawang-Sinawang Waktu Lebaran. Sumber: TEMPO

“Wah, hampir semua bapak-bapak pake hem ikat sutra Troso. Kau Sendiri ketinggalan zaman, Pak”.

Istri saya melempar kalimatnya yang pertama sesudah nyawang sekilas ke sekelilingnya.

“Yo, ben.”

Saya pun mulai ikut menyawang ke ibu-ibu yang pada hari itu kok pada kelihatan menor semua.

“Lha, itu para ibu juga pada parade pake batik sutera  Sapto, Ardianto, Iwan Tirta. Waduh, slendangnya yang stelan klengsreh tanah. Kau sendiri yang ……”

“Yo, ben.”

Istri saya trengginas menukas hasil sawangan saya. Saya memotong begitu tiba-tiba dia pelukan dengan grapyaknya dengan seorang ibu yang sebaya dengannya.

“Aduuuh, yang baru pulang dari Hongkong dan Singapur. Mana hayo oleh-olehnya.”

“Walaah, kok oleh-oleh. Waktu buat soping itu enggak ada! Aku terus dieweewer Kamas suruh ikut drink sini, eat sana. Sudah to, pokoknya….”

“mBakyu itu umpama tidak overacting kerdipan matanya dan pacak lehernya mirip Leni Marlina, lho.”

“Alah, Leni Marlina apa. Hongkong-Singapur, tapi urun arisan sudah dua bulan belum bayar. Wong sugih kok malah…..”

dan seharian penuh kami pun menyawang dan menyawang segala kemilau yang beredar di sekitar kita.

Baca Juga: Rapat Meja Bundar Menjelang Lebaran

Di rumah, di tempat tidur, saya melihat di langit-langit yang sudah kusam dua ekor cicak berkejaran. Saya tersenyum masih melihat open house di rumah petinggi.

“Kenapa tersenyum sendiri lihat cicak. Rumangsamu prabu Anglingdarma, apa?

Saya tersenyum, nggleges.

“Eee, Bu. Betul juga, ya. Hidup itu mung sawang-sinawang……”

Saya menyawang Leni Marlina. Lha, istri saya menyawang siapa sekarang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here