mules
Foto Umar Kayam, penulis Esai Senin Pagi Pascalebaran. Sumber: TEMPO

Mules – Senin kedua sesudah hari-hari lebaran merupakan Senin yang memulaskan perut. Secara harfiah mulas itu karena proses penggilingan sisa-sisa opor ayam, sambel goreng ati dan pete, ketupat dengan bubuk dele dan tentu saja segala macam kuwih spekuk dan semprit,  masih terus berjalan.

Tahap pertama  proses penggilingan itu tentulah pada waktu kita terserap oleh siklus jaringan keluarga sendiri. Sedang tahap kedua dari proses itu pada waktu kita memeringiskan senyum pepsodent kita di kantor dan di kampung. Kita bisa membayangkan proses kimiawi ya ng bagaimana yang sedang terjadi di usus dan perut besar kita dengan volume input sebesar itu.

Secara imaji dan metafor mulas itu tentu saja tidak di perut letaknya, akan tetapi di kepala. Justru karena diproses di kepala itu waktu konsep tersebut turun ke perut roso mules itu justru melebihi yang sejak semula diproses diperut.

Manusia memang binatang yang aneh. Memiliki kelebihan yang hebat ketimbang rekan-rekannya binatang menyusui  yang lain seperti menciptakan imaji dan metafor itu. Tetapi, begitu ia membiarkan imajinya berjalan,  dia jadi bingung sendiri. Jadi mules, salah-salah kalau keterusan jadi sakit mah alias maag.

Senin Pagi yang Mules

Begitulah pada hari Senin kedua itu. Rasanya pukul tujuh pagi masih terasa kepagian untuk ngulet apalagi bangun dengan sigap.  Dan waktu akhirnya pelan-pelan sekali tangan itu terentang ke atas, mak kreteg begitu, tubuh juga tidak otomatis mau bangun berdiri.

Mules di perut mulai terasa. Wah, masih mules yang kemarin-kemarin juga, ‘nih. Dan pastilah aroma di belakang nanti masih akan sama dengan kemarin-kemarin tanpa nuansa. Habis, lebaran memang mendekritkan satu perintah tak tertulis untuk hanya menyajikan menu yang itu-itu saja.

Bayangkan bila kita harus mengunjungi 17 rumah, 1 syawalan di kampung, 1 syawalan di kantor. Nuansa yang bagaimana yang bisa diharapkan dari guided menu seperti itu.

Pada waktu ritual proses penggilingan itu selesai dan rasa mules sementara teratasi, di kamar, waktu ganti baju muka bertatap kalender.

Wah, cialat lho, kok baru tanggal 8 Juni! Di depanku segera saja tampil satu jalan yang gersang dan panjaang sekali. Sepi, lenggang.  Yah, masalahnya seerhana saja mengapa panorama yang mengerikan bagai adegan salah satu film Ingmar Bergman itu muncul.

Baca Juga: Pascalebaran

Gaji untuk bulan Juni sudah saya ambil menjelang hari lebaran kemarin. Waktu reriungan dengan jaringan keluarga siapa yang ingat bahwa Juni belum mulai. Bahwa pengeluaran-pengeluaran untuk sebulan yang akan datang masih harus dibayar. Bahwa masih harus menanggung makan Mr. Rigen anak-beranak untuk tiga puluh hari.

Bahwa masih harus mondar-mandir  Yogya-Jakarta sedikitnya dua kali dengan garuda. (Padahal sejak tahun anggaran ini tak ada lagi seminar, lokakarya, dan sebagainya itu. Kecuali kalau seminar itu bisa konkret, langsung menelorkan usul-usul yang segera dapat dilaksanakan menaikkan ekspor nonmigas atau mungkin bagaimana bisa mencari jalan pintas untuk mengembalikan rupiah yang diparkir di luar negeri. Seminar kebudayaan? Kesenian? Wah, gersang….)

Maka bahwa-bahwa yang beruntun itulah yang  membuat roso mules fase kedua datang “laksana malaikat menyerbu dari langit…”.

Seketika tubuh itu jadi loyo, lemas. Bahwa-bahwa sialan! Bisa betul you ruin my Monday morning!  Saya pun terduduk di kursi lupa kalau hari itu hari ngantor. Ruangan itu terasa semakin lenggang sejak anak-anak dan ibu mereka harus belik ke Betawi.

Juga para keponakan dan orangtua mereka, yang sempat membuat horeg rumah, sudah pada “cabut”, sowing-sowang pulang  ke kandang masing-masing. Kalau sendiri begitu kok jadi semakin dramatis membayangkan amplop gaji berwarna cokelat dari fakultas itu.

Amplop itu dari sononya memang tidak pernah tebal. Sesudah digerogoti hari-hari lebaran amplop itu makin menipis. Pada hari Senin pagi itu, amplop keramat bulanan itu sudah menjadi konsep yang abstrak. Bahkan sudah menjadi metafor. Lambang bagi kerja sebulan sebagai anggota Korpri.

Tetapi, menyusur jalan panjang dan gersang dalam waktu sebulan yang akan datang, alangka konkretnya itu!

Hidup Hemat Pascalebaran, Masak Sayur dan Tempe

Rigen datang menanyakan mau masak apa hari itu.

“Sayur-sayuran wae! Untuk sebulan ini terus ganti-ganti sayur asem, sayur bening, sayur asem, sayur bening, tempe, tempe, tempe. Pokoknya sing enteng-enteng saja.”

“Terus begitu, Pak, sebulan? mBoten Bosen?”

Terus saja saya terangkan  bahwa itu semua dalam rangka menguras perut kita sesudah kena polusi opor ayam  lebaran. Untuk jaga gengsi tak perlu dong diceritakan aspek ekonomis-finansial-budgetair kepada Mr, Rigen, meskipun dia (seperti pernah saya laporkan dalam kolom ini) adalah seorang ekonom.

Baca Juga: Mudik Lebaran dan Rigenomics

“Apakah ini dalam rangka hidup sederhana Pak? Di koran itu….”

“He-eh, he-eh bener kowe! Ini menyesuaikan dengan cara hidup sederhana para bapak di pusat.”

“Lha, saya denger bapak-ibu di Betawi itu sekarang jaran sekali dahar daging.”

“He-eh, he-eh, bener kowe…”

“Malah, kabarnya bakul daging podo ngeluh mboten payu…”

“Ayak, kalau ini ngarang kamu.”

“Lho, estu Pak.  Kalau  pada mboten kerso dahar daging ‘kan sedikit orang beli.” Tiba-tiba dari depan pagar rumah.

“Penggeng eyem, penggeng….” Dan Mas Joyoboyo clereet… sudah begitu nglesot di depan saya dan Mr. Rigen.

“Wah baru nyiriki iwak, je, mas.”

“Waduh, iwak kok disirik, lho. Dan elok-nya sak kompleks sini kok pada mau begitu to, Den.  Wonten gerakan apa, to, Den?”

Tiba-tiba Beni Prakosa nyelonong merengek minta sate usus kegemarannya. Rigen yang tidak pernah tahan rengekan anaknya cepat merogoh koceknya mau membayar. (Tetapi kayaknya bolehnya merogoh kocek itu kok pelan sekali).

mules
Foto Umar Kayam, penulis Esai Senin Pagi Pascalebaran. Sumber: TEMPO

Saya pun tanggap ing sasmita, “Wis, wis, ini saja. Ambil sate usus lima!”

“Cuma ini, Den?”

 Saya Cuma menganggukkan kepala. Berdiri. Siap-siap mau pergi ke fakultas karena hari memang sudah siang betul.

“Begini, lho, Mas Joyo. Bapak itu sekarang sedang mau sederhana seperti bapak-bapak di Pusat. Maunya cuma dahar sayur sama tempe saja.”

“Woo, lha saya kalau tidak makan iwak sakcuwil apa kuat dodolan begini,”

Di jalan saya tidak mendengarr diskusi itu lagi. Wong cilik, mana tahu lu strategi pangan dan krisis moneterku. Di depan saya ajaib sekali jalan ke fakultas kok sekarang gundul dan panjaaaang sekali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here