Soekarno-Hatta-Sjahrir
Artikel Rosihan Anwar terbit 10 Februari 1996 di GATRA.

Soekarno-Hatta-Sjahrir – Berpuluh tahun yang silam, waktu Bung Karno dengan saya belum “marah-marahan”, saya dengar ceritanya sebagai wartawan di Bandung masa 1926-1931. Dia menerbitkan dan menulis Soeloeh Indonesia dan Fikiran Ra’jat untuk para anggota Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dan khalayak lain. Tiras tidak banyak, jumlah pelanggan juga demikian.

Turun-naiknya jumlah diperhatikan betul, sebab merupakan barometer apakah penerbitannya mendapat sambutan atau tidak. Tulisan-tulisannya dititikberatkan pada penyuluhan tentang bagaimana mecapai Indonesia merdeka. Bung Karno tidak cukup menjadi politikus saja, dia harus pula menjadi wartawan supaya dapat berkomunikasi dengan rakyat secara berkesinambunagan.

Di Bandung pula Bung Hatta dan Bung Sjahrir yang memimpin Pendidikan Nasional Indonesia pada awal 1930-an menulis dalam Daulat Rakyat.  Dalam bentuk tanya-jawab kedua pemimpin itu merumuskan tentang upaya ke arah Indonesia merdeka, yang dikenal di kalangan anggota Pendidikan Nasional Indonesia sebagai KIM.

 Bung Hatta menekankan benar perlunya bangsa Indonesia menegakkan kedaulatan rakyat. Zaman “daulat tuanku” dengan feodalisme sudah lewat dan yang dijelang adalah zaman demokrasi, yang oleh Hatta dan Sjahrir diterjemahkan dengan istilah: kerakyatan.

Soekarno-Hatta-Sjahrir, yang pada awal revolusi menjadi presiden, wakil presiden, dan perdana menteri, merupakan Bapak-bapak Pendiri Republik Indonesia, yang pada zaman kolonial Belanda menjadi politisi memimpin pergerakan rakyat sekaligus menjadi wartawan penulis, dan telah memperlihatkan apa tugas pers Indonesia. Yaitu tidak hanya berkomunikasi dengan masyarakat, melainkan juga untuk pembentukan kader-kader politik dan di atas segala-galanya untuk mencerdaskan bangsa.

Baca Juga : Petani dan Negara

Apabila dilihat riwayat wartawan-wartawan Indonesia sebelum Soekarno-Hatta-Sjahrir tampil di pentas, seperti H. Samanhoedi dan H.O.S Tjokroaminoto  dengan Oetoesan Hindia dan Djawa Moeda, Mas Marco dengan Api, Raden Mas Tirtohadisoerjo dengan medan Prijaji atau dokter Abdul Rivai, Haji Agus Salim, Abdoel Moeis, maka dengan pasti dapat dikatakan bahwa, menurut tradisi dan sejarahnya, pers Indonesia bertugas mencerdaskan bangsa, sedangkan menurut tradisi dan sejarahnya, wartawan Indonesia berpihak kepada kaum yang tertindas, dijajah, digusur, dizalimi.

Seorang wartawan muda mengingatkan saya bahwa, menurut GBHN, tugas pers Indonesia adalah mencerdaskan bangsa. Betul. Tapi, jauh sebelum adanya GBHN, jauh sebelum  berdirinya Republik ini dan adanya TNI, tugas pers sudah demikian dan di masa mendatang tugas itu tetap sama, yaitu: mencerdaskan bangsa.

Mengapa pers Indonesia bertugas mencerdaskan bangsa, sekarang dan di masa mendatang?

Padahal rakyat Indonesia sudah banyak yang bersekolah dan berpendidikan, tidak lagi buta huruf seperti dulu. Dan walaupun Per Capita GNP Indonesia berada di papan paling bawah negara-negara ASEAN, bukankah berkat pembangunan 25 tahun belakangan rakyat sudah lebih bagus keadaan ekonominya dan bukankah sudah timbul suatu kelas menengah  yang menjadi penjaga serta penegak nilai-nilai demokrasi?

Kinis sudah zaman globalisasi berciri arus bebas informasi dengan melintasi sempadan nasional melalui internet dan stasiun-stasiun televisi berjangkau global. Apakah masih perlu bicara tentang pers bertugas mencerdaskan bangsa?

Justru perlu. Globalisasi yang membuat negeri-negeri Asia Timur-Pasifik maju pesat ekonominya dengan laju pertumbuhan kurang-lebih 10% menimbulkan kesenjangan sosial hebat. Porsi terbesar kue ekonomi dimiliki golongan minoritas yang tidak bumiputra.

Baca Juga : Kelas yang Sibuk dengan Sendirinya

Seterusnya itu mendorong maraknya korupsi, kolusi pedagang pengusaha dengan birokrasi, nepotisme di kalangan elite berkuasa. Dan akhirnya membuat lebih kental sistem politik yang demi stabilitas tidak mengizinkan kebebasan kendati negara-negara maju dari luar berteriak tentang pelaksanaan HAM (hak asasi manusia), kemajemukan, kerakyatan, dan sebagainya. Justru mengingat keadaan demikian pers tidak dapat melalaikan tugasnya mencerdaskan bangsa dan berjuang untuk keadilan sosial.

Rosihan Anwar, Wartawan Senior dan Bekas Ketua PWI

Namun berapalah kemampuan pers berbuat demikian?

Sudah bukan rahasia bahwa pers terpaksa tiarap mengingat zonder vorm van proces dengan mudah penerbitan diberangus dan dicabut izin usahanya. Sudah lama pers melakukan sensor diri sendiri. Jadi buat apalah bicara tentang tugas pers mencerdaskan bangsa, bilamana realitas sehari-hari seperti digambarkan tadi? Dan apakah yang dapat dikatakan pada tahun ini tatkala Persatuan Wartawan Indonesia memperingati setengah abad berdirinya organisasi kewartawanan tersebut?

Memang pers Indonesia sudah lama melaksanakan penyensoran-diri-sendiri. Hal yang sama terjadi di beberapa negeri jiran. Menarik perhatian ucapan bekas Menteri Keuangan Malaysia Daim Zainuddin yang mengatakan agar media tidak terlalu banyak terlibat dalam penyensoran diri sendiri. Tapi, media yang lebih terbuka, sebab itulah pada hakikatnya dikehendaki Daim, menuntut persyaratan seperti kepekaran (expertise), tasamuh (tolerance), kejujuran (fairness) semua pihak.

Baca Juga : Pertemuan Dua Gus dan Prospek Timor Timur

Jika pers melakukan jurnalistik investgatif dan membeberkan hasilnya dalam ruang surat kabar, maka untuk itu diperlukan adanya seperangkat wartawan yang ahli dalam bidang-bidang yang disingkapkan. Jika jurnalistik investigatif hendak mempunyai dampak pada keadaan umum sehingga berbuah menjadi baik, maka diperlukan sikap terbuka dan toleransi yang berkuasa.

Timbang rasa dan kejujuran semua pihak diperlukan agar rakyat belajar cara-cara permainan mempraktekkan HAM dan demokrasi. Dan agar pemerintah menyadari bahwa kita tidak dapat mengharapkan akan menjadi negeri yang lebih dewasa apabila kita tidak bersedia ditimbang dengan cermat dan pada waktu bersamaan menjawab tuduhan-tuduhan yang dilancarkan  terhadap diri kita dengan rasional.

Hanya dalam keadaan dan iklim demikian pers mampu melaksanakan tugas mencerdaskan bangsanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here