Temujin
Mahbub Djunaidi,Ketua Umum Pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Mahbub dijuluki sebagai pendekar pena, organisatoris,& politikus. Sumber Foto: TEMPO.

Temujin – Seorang meninggal dunia sesudah membaca istighfar dan dua kalimat syahadat. Jenasahnya dimandikan dan dibungkus kain kafan seraya disiram air mawar dan wangi-wangian. Sesudah disembahyangkan, jenasah itu diusung kaum kerabat dengan sopan dan takzim, air mata berlinangan dibalik kelopak.

Keranda itu langsung menuju kuburan, karena di sanalah tempat peristirahatan terakhir sambil menanti hari kebangkitan. Para pelayat meninggalkan tempat peristirahatan terakhir itu sesudah mengucapkan pidato lemah lembut dan membaca talqin. Sinar matahari di atas kepala juga tampak murung.

Buat sebagian jenasah di Jakarta, jalan cerita macam begitu itu sudah using. Hanya berlaku di zaman Belanda. Zaman sekarang zaman gerak, zaman dinamis, tak kecuali untuk para jenasah. Sebab, pada suatu siang boleh datang tukang pacul dari sindanglaut, mengeduk jenasah itu, menaikkannya ke dalam oto, dibawa ke tempat baru.

Zaman Gerak Bagi  yang Sudah Mati

Bila nasib baik, itulah tempat peristirahatan terakhir sesungguhnya, dan pihak keluarga mesti bayar kontrakan makam seperti halnya manusia hidup membayar kontrakan pavilion. Bila nasib buruk, bisa jadi pindah lagi.

Di bekas pemakam itu kemudian terjadi hiruk-pikuk. Pemukul tiang beton berdentaman, kayu-kayu digergaji, batu bata disusun, kloset-kloset dipasang pada tempatnya yang pas. Di sana akan dibangun flat Perumnas, peresmiannya dilakukan oleh para pembesar diawali pengguntingan pita nyonya-nyonyanya.

Keluarga kelas menengah akan bermukim di situ, bagaikan burung merpati di sangkarnya. Anak-anak penghuni berbaur sesamanya, karena status sosialnya relatif serupa, begitu pula kain jemurannya yang melambai-lambai ditiup angin, bisa tampak dari jarak lima kilometer.

Itulah pemukiman model mutakhir, yang dimungkinkan berdirinya oleh kebaikan jenasah yang lebih dulu sudah meninggalkan dunia yang fana. Dari pada keluyuran ke mana-mana, lebih baik berkumpul dalam satu pemukiman.

Baca Juga: Siti Jenar

Tidak, kata Temujin, nama kanak-kanak Genghis Khan. Lebih baik keluyuran. Kalau malam tiba, Temujin biasa duduk mencangkung di dekat perapian kemah, nyalanya meliuk-liuk kena tiupan angina gurun Gobi, mendengarkan cerita orang tua jagonya jago, Khan besar bangsa Mongol, penguasa 40.000 kemah.

Temujin memasang kedua daun kuping, matanya tidak berkedip, sehingga terasa perih, dan dadanya berombak-ombak, ini bisa ditandai lewat alun napasnya.

Nomaden atau Menetap?

Berkata sang bijak bestari itu: “kita orang Mongol ini tidak ada seperatusnya orang Kathay. Kita ini ibarat semut. Apa sebab kita masih mampu menghadapi mereka, karena kita ini orang keluyuran, orang nomad.

Kita bawa serta barang-barang ke mana pergi. Kita gempur dan gasak mereka kalau kita di atas angin. Dan kalau kita di bawah angin, kita sembunyi. Tapi, bilamana kita ubah kita punya kebiasaan, bilamana kita dirikan rumah dan kota, bilamana kita nongkrong di pemukiman, kita tidak akan bisa berkembang. Kita akan layu dan kuncup, dan kita mati.

Temujin
Mahbub Djunaidi,Ketua Umum Pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Mahbub dijuluki sebagai pendekar pena, organisatoris,& politikus. Sumber Foto: TEMPO.

Buat apa biara-biara, tempat-tempat pujaan? Itu cuma bikin lemah kita punya jiwa, membikin gejolak semangat jadi luluh, membuat parang tetap tinggal dalam sarung.

Baca Juga: Mudik Lebaran dan Rigenomics

Tahukah kau wahai Temujin, cucu keturunan Yesukai, bahwa hanya kekerasan dan hanya peperangan yang bisa menundukkan manusia dan kemanusiaan.  Hanya kekerasan yang bisa mendorongmu ke kursi kekuasaan! maka dari itu, jadilah pengembara terus, jadilah nomad terus, keluyuran tak henti-henti (artinya tidak tinggal di lingkungan perumnas).”

Nomad keluyuran terus menerus, biara menjadikan semangat luluh, hanya kekerasan yang bisa mendorong ke kursi kekuasaan, sungguh ucapan bijak bestari yang tidak bijak dan tidak pula bestari. Andaikata dia punya kepala, pastilah dijebloskan ke dalam tungku.

Orang sekarang perlu pemukiman, karena pemukiman merupakan bagian dari peradaban. Orang tidak perlu gunakan kekerasan untuk peroleh kekuasaan, karena kekuasaan bisa datang sendiri atas dasar kualitas. Dan biara, tiap orang tahu apa hasil biara itu, bagi mereka yang berkenan bersimpuh di dalamnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here