Yani Afri

Ryan, begitulah Yani Afri biasa dipanggil, kesehariannya narik mikrolet jurusan Tanjung Priok-Cilincing. Karena itu barangkali ketika terpikat peristiwa 27 Juli 1996, ia memilih berpartisipasi di DPC PDI Perjuangan Jakarta Utara.

Padahal wilayah domisilinya ada di Jakarta Pusat. Ia menyewah rumah tak jauh dari tempat tinggal orangtuanya di rumah Susun Tanah Abang Blok 36 Lantai 3 Jakarta Pusat.

Lelaki kelahiran Jakarta 27 tahun lalu itu, hilang tanggal 26 April 1997 di Jakarta. Mulanya ia bersama temannya Sonny di tangkap petugas Kodim Jakarta Utara, dengan tuduhan terlibat dalam kasus peledakan bom di Kelapa Gading, Jakarta. Setelah ditahan semalam, mereka dibebaskan.

Namun, ketika baru beranjak keluar pintu gerbang Kantor Kodim Jakarta Utara itu, sebuah Toyota Hard Top berhenti di depan dia dan Sonny. Lalu, Turunlah, empat orang berbadan kekar yang kemudian membawa mereka. Sejak itu keberadaan Ryan tak jelas rimbanya.

Baca Juga: Deddy Hamdun Pendukung Fanatik PPP

Tetapi, Pius Lustrilanang dan Desmond J. Mahesa dalam kesaksian atas penculikannya, menyatakan bahwa Ryan disekap di tempat yang sama dengan mereka.

Tuti sedang membawa foto Yani Afri yang lenyap.
Kredit Foto: Tabloid Adil

Tuti, Ibu Ryan, telah mengadu ke sana ke mari. Upayanya belum menghasilkan sesuatu yang berarti. “Pencarian jawaban keberadaan anak saya di mana dan dalam kondisi bagaimana tidak terjawab,” katanya pada ADIL.

Padahal menurutnya, ia hanya ingin satu jawaban dengan dipulangkannya anaknya dalam kondisi apa pun; hidup, mati, ataupun cacat. “Saya tidak akan menuntutnya,” tambahnya.

Yani Afri Tumpuan Ekonomi Keluarga

Bagi Tuti, Ryan adalah gantungan hidup, setelah suaminya – Yansibur Sultan Rajo Nansati – meninggal tahun 1994 lalu.  Sebelum menghilang hampir setiap hari Ryan Mampir ke Rumahnya – sesudah atau sebelum berangkat kerja – hanya untuk bermain gitar dan bernyanyi misalnya.

“Saya senang kalau dia bernyanyi, kesulitan ekonomi kami sepertinya tak terlalu terasakan,” katanya.

Adik-adik Ryan pun tak melanjutkan sekolah. Seperti Yusuf yang harapannya ke SMU terhenti setelah Ryan – yang akan membiayainya – diculik.

Ryan, anak ke -6 dari 11 bersaudara itu, memang dekat dengan saudara-saudaranya. Semasa kecil, sekali-kali main bola bersama saudara-saudaranya, dan selebihnya hanya belajar dan membantu pekerjaan rumah.

Baca Juga: Noval Alkatiri Cuma Nonton Kampanye

Sayangnya, Ryan setamat SLTP, 1983, mesti berhenti sekolah karena orang tua tak mampu membiayainya. Sejak itu, Ryan bergaul dengan teman-teman di luar, yang akhirnya membawanya menjadi sopir mikrolet.

Sejak pernikahannya dengan Yeni tahun 1991, Ryan telah dikaruniai dua anak laki-laki. Oki berusia 6 tahun, dan Yahud berusia 4 tahun. Kedua anak itu sekarang mengikuti ibunya, yang telah pindah entah ke mana. Yang pasti, diculiknya Ryan, telah membuat kubangan persoalan ekonomi keluarganya makin dalam.

———————————————————————————-

Selama bulan Mei, Moeseum.id akan menurunkan berita tentang hiruk pikuk situasi pasca kerusuhan 1998. Semua tulisan berita pasca kerusuhan 1998, bersumber dari konten Tabloid ADIL, yang ditulis ulang oleh Moeseum.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here